Senin, 20 April 2026

Konflik Israel dan Palestina

Dewan Perdamaian Versi Trump Dimulai, Akankah Gaza Benar-Benar Berubah?

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan menggelar pertemuan puncak pertama bertajuk Dewan

Penulis: Sri Anggun Oktaviana | Editor: Amirullah
Istimewa
Pesawat kepresidenan Amerika Serikat, Air Force One, yang membawa Presiden Donald Trump. 

Dewan Perdamaian Versi Trump Dimulai, Akankah Gaza Benar-Benar Berubah?

SERAMBINEWS.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan menggelar pertemuan puncak pertama bertajuk Dewan Perdamaian di Washington, DC, pada Kamis (19/2/2026).

Dilansir melalui kantor berita Aljazeera (19/2/2026), pertemuan ini menjadi ajang pembuktian awal bagi pemerintahan Trump untuk menunjukkan bahwa dewan baru tersebut mampu memberikan dampak nyata, khususnya dalam upaya penanganan krisis kemanusiaan di Jalur Gaza.

KTT ini digelar hampir tiga bulan setelah Dewan Keamanan PBB menyetujui rencana gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat.

Dalam resolusi tersebut, Dewan Perdamaian diberi mandat selama dua tahun untuk mengawasi proses rekonstruksi Gaza serta pembentukan Pasukan Stabilisasi Internasional.

Baca juga: AS Kerahkan Lebih dari 50 Jet Tempur dan Kapal Induk Raksasa ke Dekat Iran, Tunggu Perintah Trump

Namun, sejak awal, keberadaan dewan ini menuai kontroversi dan skeptisisme, termasuk dari sejumlah negara yang justru menjadi penandatangan keanggotaannya.

Keraguan muncul karena Israel dinilai terus melakukan pelanggaran gencatan senjata di Gaza, sementara dewan tersebut belum menunjukkan langkah konkret.

 Selain itu, hingga menjelang pertemuan perdana ini, Dewan Perdamaian belum memiliki perwakilan Palestina, yang dianggap banyak pengamat sebagai kelemahan mendasar.

“Yang ingin ditunjukkan Trump adalah bahwa orang-orang mau berpartisipasi dan percaya pada visinya,” kata Yousef Munayyer, Kepala Program Israel–Palestina di Arab Center Washington DC.

Baca juga: AS Siapkan Operasi Militer ke Iran, Serangan Tinggal Tunggu Perintah Trump

 “Namun, saya rasa tidak akan ada komitmen besar sampai persoalan politik utama benar-benar dijawab,” ujarnya kepada Al Jazeera.

Munayyer menilai Dewan Perdamaian saat ini masih menjadi satu-satunya wadah internasional yang tersedia bagi negara-negara yang ingin membantu memperbaiki kondisi Gaza.

 Meski begitu, ia menegaskan keberhasilan dewan tersebut sangat bergantung pada sosok Trump sendiri.

“Dewan ini sangat terkait dengan Trump, dan itu menimbulkan pertanyaan besar tentang keberlanjutannya,” katanya.

Data terbaru menunjukkan krisis kemanusiaan di Gaza masih sangat parah. Sejak 7 Oktober 2023, lebih dari 72.000 warga Palestina dilaporkan tewas.

Baca juga: Khamenei Peringatkan Trump: Amerika Serikat Tak Akan Pernah Berhasil Hancurkan Iran

Hampir seluruh dari 2,1 juta penduduk Gaza mengungsi, sementara lebih dari 80 persen bangunan mengalami kerusakan berat atau hancur total.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved