Rabu, 15 April 2026

Motif Bripda Dirja Dianiaya hingga Tewas, Korban Dianggap Tidak Loyal terhadap Senior

Polda Sulsel juga menyiapkan sidang kode etik yang dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat.

Editor: Faisal Zamzami
Istimewa
Bripda Dirja Pratama (19) meninggal dunia usai menjalani perawatan medis di rumah sakit pada Minggu (22/2/2026). Bripda Dirja Pratama diduga tewas dianiaya senior 

Ringkasan Berita:
  • Motif penganiayaan yang dilakukan Bripda PN terhadap juniornya, Bripda Dirja Pratama (19), hingga berujung maut di Barak Ditsamapta Polda Sulawesi Selatan akhirnya terungkap.
  • Korban disebut dianggap tidak menunjukkan sikap loyal kepada seniornya.
  • Kapolda Sulsel, Djuhandhani Rahardjo Puro, mengungkapkan bahwa tersangka nekat melakukan kekerasan karena korban tidak merespons panggilannya.

 

SERAMBINEWS.COM, MAKASSAR — Motif penganiayaan yang dilakukan Bripda PN terhadap juniornya, Bripda Dirja Pratama (19), hingga berujung maut di Barak Ditsamapta Polda Sulawesi Selatan akhirnya terungkap.

Korban disebut dianggap tidak menunjukkan sikap loyal kepada seniornya.

Kapolda Sulsel, Djuhandhani Rahardjo Puro, mengungkapkan bahwa tersangka nekat melakukan kekerasan karena korban tidak merespons panggilannya.

“Adapun motif yang menjadi permasalahan, karena korban dianggap tidak respek atau loyal terhadap senior. Korban dipanggil berkali-kali namun tidak diindahkan,” ujar Djuhandhani saat memberikan keterangan di Mapolda Sulsel, Kamis (26/2/2026) dikutip dari Kompas.com.

Dipicu Panggilan yang Tak Digubris

Berdasarkan hasil pemeriksaan, Bripda PN telah memanggil korban sejak malam hari.

Namun karena tidak mendapat tanggapan, tersangka kemudian mendatangi korban menjelang waktu salat subuh.

Saat itulah terjadi aksi penganiayaan yang menyebabkan korban meninggal dunia.

Peristiwa tragis tersebut terjadi pada Minggu (22/2/2026) di barak asrama Direktorat Samapta.

Laporan Awal Sempat Menyesatkan

Kasus kematian Bripda DP sempat diwarnai informasi yang tidak benar.

Laporan awal kepada Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) menyebutkan korban meninggal akibat membentur-benturkan kepalanya sendiri ke tembok asrama.

Namun penyidik tidak langsung mempercayai keterangan tersebut.

Pemeriksaan medis oleh Biddokkes menemukan adanya sejumlah luka lebam di tubuh korban.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved