Sabtu, 18 April 2026

Konflik Amerika vs Iran

Pangeran Saudi MBS Diduga Ikut Hasut Trump Serang Iran, Lobi Riyadh dan Tel Aviv Disorot

Putra Mahkota Arab Saudi yang akrab disapa MBS itu disebut ikut mendorong Donald Trump, untuk melancarkan serangan militer terhadap Iran.

Editor: Amirullah
Foto: Saudi Press Agency
Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman 

SERAMBINEWS.COM – Nama Mohammed bin Salman kembali menjadi sorotan.

Putra Mahkota Arab Saudi yang akrab disapa MBS itu disebut ikut mendorong Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk melancarkan serangan militer terhadap Iran.

Bukan sendirian. Menurut laporan The Washington Post yang mengutip empat sumber mengetahui persoalan tersebut, MBS bersama Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, melakukan lobi intens selama berminggu-minggu sebelum keputusan serangan diambil.

Serangan luas itu akhirnya diluncurkan pada Sabtu (28/2/2026) dan langsung mengubah peta kekuatan di kawasan Timur Tengah.

Operasi Gabungan AS–Israel

Pasukan Amerika Serikat dan Israel dilaporkan bekerja sama dalam operasi militer tersebut. Target utamanya adalah lingkaran kekuasaan tertinggi di Teheran.

Dalam jam-jam pertama serangan udara besar-besaran itu, Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas bersama sejumlah pejabat senior lainnya.

Khamenei sendiri telah berkuasa hampir empat dekade, menjadikannya figur sentral dalam politik Iran modern.

Kabar ini sontak mengguncang dunia internasional, memicu reaksi keras sekaligus kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas.

Baca juga: Israel Serang Sekolah Dasar di Iran, 180 Anak-anak Tewas

Lobi Diam-Diam dari Riyadh dan Tel Aviv

Di balik keputusan militer tersebut, ada dinamika yang tak terlihat publik. Sumber yang sama menyebut MBS beberapa kali melakukan panggilan telepon pribadi kepada Trump dalam sebulan terakhir. Dalam komunikasi itu, ia disebut mendorong langkah militer terhadap Iran.

Menariknya, secara terbuka MBS justru menyuarakan dukungan pada solusi diplomatik. Sikap resmi Riyadh terdengar lebih menenangkan, berbeda dengan pesan yang diduga disampaikan dalam percakapan tertutup.

Sementara itu, Netanyahu tak menyembunyikan sikapnya. Ia sudah lama secara terbuka mengampanyekan agar Washington mengambil tindakan keras terhadap Iran, yang ia anggap sebagai ancaman eksistensial bagi Israel.

Dorongan dari Saudi muncul di saat yang sensitif. Utusan presiden AS, Steve Witkoff, bersama menantu Trump, Jared Kushner, tengah bernegosiasi dengan para pemimpin Iran terkait program nuklir dan pengembangan misil negara tersebut.

Di tengah proses negosiasi itu, Riyadh sempat menyatakan tidak akan mengizinkan wilayah udara atau teritorinya dipakai untuk menyerang Iran. Namun, dalam pembicaraan tertutup dengan pejabat AS, para pemimpin Saudi disebut memperingatkan bahwa Iran justru akan semakin kuat dan berbahaya jika tidak diserang saat ini—terutama setelah pengerahan militer besar-besaran AS di Timur Tengah.

Sikap tersebut diperkuat oleh Menteri Pertahanan Saudi, Khalid bin Salman, yang dikabarkan menggelar pertemuan tertutup di Washington. Dalam forum itu, ia memperingatkan konsekuensi strategis jika serangan tidak dilakukan.

Meski demikian, seorang pejabat Saudi membantah tudingan lobi tersebut dan menyatakan bahwa Riyadh “konsisten mendukung upaya diplomatik untuk mencapai kesepakatan kredibel dengan Iran. Dalam komunikasi kami dengan pemerintahan Trump, tidak pernah kami melobi presiden untuk mengadopsi kebijakan berbeda.”

Baca juga: Kapal Induk USS Abraham Lincoln Menjauh dari Iran setelah Dihantam Empat Rudal Balistik

Serangan dipertanyakan

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved