Minggu, 12 April 2026

Konflik Amerika vs Iran

Isu Israel Raya Menguat, Netanyahu Disebut Ingin Caplok Mesir hingga Arab Saudi Jika Iran Kalah

Isu soal visi “Israel Raya” mencuat lagi, terutama setelah serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat ke sejumlah wilayah Iran pada Sabtu (28/2)

Editor: Amirullah
serambinews
Netanyahu Bidik Kuasai Timur Tengah demi Wujudkan 'Israel Raya' 

SERAMBINEWS.COM – Pernyataan lama Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, kembali menjadi sorotan di tengah memanasnya konflik Iran–Israel.

Isu soal visi “Israel Raya” mencuat lagi, terutama setelah serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat ke sejumlah wilayah Iran pada Sabtu (28/2/2026).

Seperti diketahui, Israel bersama Amerika Serikat melancarkan serangan ke Iran. Dalam peristiwa tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan meninggal dunia akibat serangan udara.

Serangan gabungan itu dinilai sebagian pihak sebagai penanda bahwa Netanyahu benar-benar ingin memperluas pengaruh dan wilayah dengan membentuk apa yang ia sebut sebagai “Israel Raya”.

Netanyahu sebelumnya menjelaskan visi Israel Raya mencakup seluruh wilayah Palestina, Yordania, Lebanon, serta sebagian wilayah Suriah, Arab Saudi, Irak, Turki, dan Mesir.

Ia bahkan pernah memperlihatkan sebuah peta yang digambarkan sebagai “Tanah yang Dijanjikan”. Pernyataan tersebut disampaikan pada 2025 lalu dan sempat memicu kemarahan sejumlah negara di kawasan Timur Tengah.

Wacana itu kini kembali dibicarakan seiring eskalasi konflik yang belum juga mereda.

Mantan Ketua Komisi I (Hubungan Luar Negeri) DPR RI, Mahfuz Sidik, ikut menanggapi perkembangan tersebut. Menurutnya, perang Iran versus Israel-AS yang berkepanjangan akan membawa dampak luas.

Ia menilai, apabila kekuatan militer Iran berhasil dihancurkan, Israel berpotensi menjadi satu-satunya kekuatan militer dominan di kawasan.

"Kehancuran Iran sebagai kekuatan terakhir poros perlawanan terhadap Israel akan memuluskan ambisi Israel Raya. Artinya wilayah negara Libanon, Suriah, Irak, Jordania, Mesir dan Saudi Arabia akan menjadi sasaran agresi militer lanjutan pihak Israel," ujar Mahfuz Sidik hari ini, Selasa (3/3/2026).

Baca juga: Sudah 13 Ramadhan, Ini Waktu Mulai Berburu Malam Lailatul Qadar, Simak Juga Amalan Utamanya

Baca juga: Keutamaan Shalat Tarawih Malam ke-14 Ramadhan: Malaikat Menjadi Saksi, Tidak Dihisab di Hari Kiamat

Apa Itu Visi Israel Raya?

Frasa Israel Raya digunakan setelah Perang Enam Hari pada bulan Juni 1967 untuk merujuk pada Israel, wilayah Yerusalem Timur dan Tepi Barat, Jalur Gaza, sebagian Yordania dan Semenanjung Sinai di Mesir, Dataran Tinggi Golan di Suriah, dan sebagian Lebanon, Irak, dan Arab Saudi.

Tahun lalu akun resmi Kementerian Luar Negeri Israel di salah satu platform daring mempublikasikan sebuah peta yang memalsukan sejarah Israel dengan mengklaim asal-usulnya dari ribuan tahun silam.

Peta tersebut selaras dengan klaim berulang Israel mengenai adanya “kerajaan Yahudi” yang mencakup bagian wilayah Palestina yang diduduki, Yordania, Lebanon, Suriah, hingga Mesir.

Negara-negara Arab seperti Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), Yordania, Palestina, dan Arab Saudi bereaksi keras terhadap publikasi peta itu, menilainya sebagai bentuk pelanggaran hukum internasional sekaligus upaya ekspansi.

Insiden ini mengingatkan pada Maret 2023, ketika Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, tampil di Paris dengan peta “Israel Raya” yang memasukkan Yordania ke dalam wilayah Israel.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved