Konflik Israel vs Iran
Perang AS-Israel vs Iran Memanas: Ini Penyebab, Dampak, dan Perkiraan Lamanya Konflik
Serangan tersebut menargetkan infrastruktur rudal, fasilitas militer, dan sejumlah pejabat tinggi Iran di Teheran serta wilayah lainnya.
Penulis: Sri Anggun Oktaviana | Editor: Eddy Fitriadi
Perang AS-Israel vs Iran Memanas: Ini Penyebab, Dampak, dan Perkiraan Lamanya Konflik
SERAMBINEWS.COM- Konflik besar pecah di Timur Tengah setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu lalu.
Serangan tersebut menargetkan infrastruktur rudal, fasilitas militer, dan sejumlah pejabat tinggi Iran di Teheran serta wilayah lainnya.
Dilansir melalui BBC News (3/3/2026), Presiden AS Donald Trump menyatakan operasi militer ini bertujuan untuk memastikan Iran tidak memperoleh senjata nuklir.
Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa AS akan menghancurkan kemampuan rudal Iran dan melumpuhkan industri persenjataannya.
Baca juga: Pusat Intelijen AS Dibom Iran dalam Gelombang Serangan ke-11, Kedubes AS di Arab Saudi Dirudal IRGC
Operasi tersebut oleh militer AS dinamai “Operasi Epic Fury”.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut serangan ini sebagai langkah untuk menghilangkan “ancaman eksistensial” dari Iran.
Israel menegaskan tidak mendorong AS ke dalam perang, melainkan bertindak berdasarkan kepentingan keamanan masing-masing negara.
Korban dan Dampak Awal
Serangan awal dilaporkan menewaskan ratusan orang di Iran, termasuk sejumlah tokoh penting dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Iran menyebut serangan tersebut sebagai tindakan ilegal dan tanpa provokasi.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan rudal balistik dan drone ke berbagai target di kawasan, termasuk Israel, pangkalan militer AS di negara-negara Teluk, serta kapal-kapal di sekitar Selat Hormuz.
Baca juga: Trump Kecewa Berat, Inggris tak Mau Ikut Perang Lawan Iran
Jalur ini sangat vital karena dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.
Kelompok milisi Lebanon, Hezbollah, yang didukung Iran, turut terlibat dengan meluncurkan roket ke Israel dari Lebanon.
Israel membalas dengan menyerang target Hezbollah di Beirut dan wilayah selatan Lebanon.
Militer AS melalui United States Central Command (Centcom) mengklaim telah menenggelamkan sejumlah kapal Iran di Teluk Oman.
Hingga Senin, dilaporkan enam prajurit AS tewas dan belasan lainnya luka-luka dalam operasi ini.
Baca juga: INTISARI TERKINI PERANG AS-ISRAEL VS IRAN - Trump: Perang Bisa 4 Minggu, Iran Tutup Selat Hormuz
Dampak Ekonomi dan Energi
Konflik ini langsung mengguncang pasar energi global.
Harga minyak mentah Brent melonjak hingga 82 dolar AS per barel setelah serangan terhadap kapal-kapal di sekitar Selat Hormuz.
Serangan drone juga dilaporkan mengenai fasilitas energi di kawasan Teluk, termasuk Arab Saudi dan Qatar.
Produksi gas alam cair di Qatar sempat dihentikan sementara, menyebabkan lonjakan harga gas hingga 50 persen dalam sehari.
Gangguan besar juga terjadi pada sektor penerbangan.
Sejumlah maskapai internasional membatalkan atau menunda penerbangan ke dan dari Timur Tengah karena banyak negara menutup wilayah udaranya.
Baca juga: AS Minta Bantuan NATO Serang Iran, Spanyol, Turki, Prancis, Jerman, Inggris Menolak, Trump Kecewa
Siapa Pengganti Khamenei?
Pemerintah Iran menyatakan akan segera menunjuk pemimpin tertinggi baru.
Untuk sementara, dewan transisi dibentuk yang terdiri dari Presiden Masoud Pezeshkian dan pejabat tinggi lainnya.
Pemilihan resmi pemimpin tertinggi dilakukan oleh Majelis Ahli yang beranggotakan 88 ulama senior.
Namun, proses ini diperkirakan tidak mudah mengingat situasi keamanan yang belum stabil akibat serangan berkelanjutan.
Baca juga: Enam Tentara AS Tewas dalam Operasi Militer Melawan Iran, Trump Siapkan Serangan Lebih Besar
Berapa Lama Perang Akan Berlangsung?
Trump menyatakan operasi militer bisa berlangsung empat hingga lima minggu, bahkan lebih lama jika diperlukan.
Netanyahu juga menegaskan kampanye militer akan berjalan selama dianggap perlu.
Meski demikian, banyak pengamat menilai durasi perang sangat bergantung pada beberapa faktor: kemampuan militer Iran untuk terus membalas, keterlibatan kelompok proksi seperti Hezbollah, serta respons negara-negara Teluk dan kekuatan global lainnya.
Untuk saat ini, kawasan Timur Tengah berada dalam situasi sangat tegang.
Negara-negara asing telah mengeluarkan imbauan agar warganya segera meninggalkan wilayah konflik.
Dengan eskalasi yang terus meningkat dan dampak ekonomi global yang meluas, konflik ini berpotensi menjadi salah satu krisis terbesar di kawasan dalam beberapa dekade terakhir.
Baca juga: UPDATE PERANG AS & ISRAEL KE IRAN - Trump Murka 3 Tentara AS Tewas, Negara Teluk Mulai Melawan Iran
(Serambinews.com/Sri Anggun Oktaviana)
| Update Hari ke-36 Perang Iran, Dua Jet Tempur AS Diklaim Jatuh dan Pilot Masih Hilang |
|
|---|
| 55 Rentetan Serangan Militer Iran dan Hizbullah ke Israel Dalam 24 Jam Terakhir, Barak Doviv Dirudal |
|
|---|
| AS Panik atas Keputusannya untuk Lemahkan Rezim Iran, Eks Perwira Intelijen AS: Kesalahan Terbesar |
|
|---|
| 303 Warga Israel Jadi Korban Dalam Serangan Rudal Iran Dalam 24 Jam Terakhir di Berbagai Lokasi |
|
|---|
| Konflik Iran Memanas, Harga Minyak Dunia Melonjak Drastis dan Pasar Saham Dunia Rontok! |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/iran-7y8uhjk.jpg)