Jumat, 1 Mei 2026

Konflik Amerika vs Iran

Netanyahu Diduga Sengaja Serang Iran Sebelum 30 Maret, Ini Tujuannya

Para pengkritiknya menuding ia berusaha menghindari tanggung jawab atas kegagalan mencegah serangan tersebut.

Tayang:
Editor: Faisal Zamzami
Tangkap Layar
PM ISRAEL - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu saat melakukan konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio di Yerusalem, Minggu (16/2/2025). 
Ringkasan Berita:
  • Sejumlah analis menilai dinamika politik domestik Israel saat ini sangat dipengaruhi oleh arah dan durasi konflik yang tengah berlangsung.
  • Netanyahu bahkan diduga sengaja melancarkan serangan ke Iran sebelum tenggat politik 30 Maret guna menunda pengesahan anggaran negara yang sulit memperoleh dukungan mayoritas di parlemen.
  • Apabila anggaran tersebut gagal disahkan, pemerintahan Netanyahu otomatis akan jatuh pada 1 April dan Israel harus menggelar pemilihan umum lebih cepat.

 

SERAMBINEWS.COM, TEL AVIV — Menjelang pemilihan umum Israel yang dijadwalkan paling lambat 27 Oktober 2026, perang dengan Iran dinilai menjadi momentum penting bagi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk memulihkan citranya yang merosot pasca-serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.

Sejumlah analis menilai dinamika politik domestik Israel saat ini sangat dipengaruhi oleh arah dan durasi konflik yang tengah berlangsung.

Netanyahu bahkan diduga sengaja melancarkan serangan ke Iran sebelum tenggat politik 30 Maret guna menunda pengesahan anggaran negara yang sulit memperoleh dukungan mayoritas di parlemen.

Apabila anggaran tersebut gagal disahkan, pemerintahan Netanyahu otomatis akan jatuh pada 1 April dan Israel harus menggelar pemilihan umum lebih cepat.

Dalam situasi itu, perdana menteri berusia 76 tahun tersebut dinilai akan memasuki masa kampanye dari posisi politik yang lemah.

Baca juga: Iran Siapkan Rudal Khorramshahr-4, Senjata Paling Mematikan Bisa Luluh Lantakkan Israel dan Basis AS

Popularitas Tergerus Perang Gaza

Popularitas Netanyahu merosot tajam setelah perang di Gaza yang dipicu serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 — hari paling mematikan dalam sejarah Israel.

Para pengkritiknya menuding ia berusaha menghindari tanggung jawab atas kegagalan mencegah serangan tersebut.

Pemimpin Partai Likud itu merupakan perdana menteri terlama dalam sejarah Israel dengan total masa jabatan lebih dari 18 tahun dalam beberapa periode.

Namun sejak pertengahan 2025, ia kehilangan mayoritas parlemen akibat krisis politik dengan sekutu ultra-Ortodoksnya.

Di tengah tekanan politik, Netanyahu juga masih menjalani persidangan kasus korupsi yang telah berlangsung lama.

Ia bahkan dilaporkan meminta ampunan kepada Presiden Israel, Isaac Herzog.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, disebut beberapa kali mendesak agar pengampunan diberikan.

Baca juga: Iran Klaim Ketahui Lokasi Pertemuan Netanyahu, Ancam Kirim Serangan Balasan Tanpa Henti

Upaya Pulihkan Citra Lewat Perang Iran

Sehari setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam gelombang serangan gabungan AS-Israel, Netanyahu menegaskan bahwa kedekatannya dengan Washington memainkan peran penting dalam operasi tersebut.

Ia menyebut hubungan eratnya dengan Amerika Serikat memungkinkan Israel melakukan hal yang telah lama diinginkannya selama lebih dari 40 tahun, yakni melancarkan serangan besar terhadap Iran.

Analis politik dari Tel Aviv University, Emmanuel Navon, menilai Netanyahu kemungkinan besar akan mempercepat jadwal pemilu.

“Sudah jelas. Dia tidak akan menunggu sampai Oktober mengingat peringatan 7 Oktober,” ujar Navon kepada AFP, Selasa (3/3/2026).

Menurutnya, posisi politik Netanyahu yang sempat berada di titik terendah kini berangsur membaik.

“Jika Netanyahu berada di titik terendah setelah serangan Hamas, ia secara bertahap telah membalikkan keadaan,” katanya.

Navon juga menyoroti serangkaian pukulan militer Israel terhadap Hamas, Hizbullah, dan Iran sejak dimulainya perang Gaza.

Berdasarkan sejumlah jajak pendapat, Partai Likud diperkirakan unggul apabila pemilu digelar dalam waktu dekat.

Meski demikian, partai tersebut masih berpotensi kekurangan mayoritas bersama sekutu-sekutunya saat ini.

Sejumlah pengamat menilai kemenangan atas Iran dapat mengubah kalkulasi politik tersebut secara signifikan.

Analis geopolitik independen Michael Horowitz mengatakan serangan terhadap Iran memperkuat citra yang ingin dibangun Netanyahu.

“Serangan ini tak dapat disangkal memperkuat citra yang ingin dipupuk Netanyahu, citra yang terkait dengan slogan ‘kemenangan total’-nya,” ujarnya.

Ia menambahkan, “Netanyahu ingin menunjukkan bahwa ini bukan slogan kampanye, tetapi kenyataan. Ini adalah agenda nasionalnya dan strategi pemilunya.”

Dengan situasi politik yang masih dinamis, arah konflik dan dampaknya terhadap stabilitas domestik Israel diperkirakan akan menjadi faktor penentu masa depan pemerintahan Netanyahu dalam beberapa bulan mendatang.

Baca juga: Serangan Balasan, Rudal Iran Hantam Tel Aviv, Tujuh Warga Israel Terkapar

"Iran tetaplah Iran"

Akan tetapi, tidak semua pihak sepakat bahwa serangan ke Iran akan otomatis menguntungkan Netanyahu.

Jurnalis Channel 13, Raviv Druker, berpendapat bahwa Netanyahu akan mencoba meyakinkan orang-orang bahwa kemenangan itu total meskipun hanya ilusi, sembari menekankan bahwa "Hamas masih menguasai Gaza, dan Iran tetaplah Iran bahkan setelah serangan Sabtu (28/2/2026)."

Di situs berita Walla, jurnalis Ouriel Deskal bahkan menilai waktu pecahnya konflik bisa berkaitan dengan tenggat politik domestik.

Ia menyebut Netanyahu mungkin sengaja memilih waktu perang untuk secara otomatis menunda—di bawah keadaan darurat—tenggat waktu 30 Maret untuk mengesahkan anggaran yang sulit ia dapatkan dukungannya di parlemen.

Sebaliknya, "Jika perang melawan Iran ini sukses bagi Israel, itu akan menjadi kemenangan politik bagi Netanyahu," kata Navon.

Meski demikian, Horowitz mengingatkan bahwa risiko tetap ada jika konflik berkepanjangan.

"Toleransi publik terhadap perang berkepanjangan dengan korban jiwa yang besar, ditambah biaya hidup tinggi, tetap sangat rendah," ujarnya.

Dalam perang pada Juni 2025, serangan rudal Iran menewaskan 30 orang di Israel. Sejak Sabtu, 10 orang dilaporkan tewas akibat serangan balasan Iran.

Horowitz menekankan bahwa dukungan publik lebih banyak tertuju kepada militer ketimbang kepada Netanyahu.

"Kemenangan Israel terutama disebabkan oleh tentara dan ketahanan warga sipil, yang memungkinkan negara itu untuk melancarkan perang terpanjang dalam sejarahnya," katanya.

"Popularitas tentara meningkat, bukan popularitas Netanyahu." 

Baca juga: UIN Ar-Raniry Buka Penjaringan Calon Rektor periode 2026-2030

Baca juga: BREAKING NEWS - Iran Diserang, Ledakan Kuat Guncang Sejumlah Wilayah Teheran Pagi Ini

Baca juga: Huntara Aceh Barat Hampir Rampung

Sumber: Kompas.com

 

 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved