Konflik Israel vs Iran
Konflik Timur Tengah Memanas, Harga Solar di AS Tembus 4 Dolar AS per Galon, Termahal dalam 2 Tahun
Kenaikan ini dipicu eskalasi konflik Amerika Serikat dan Israel dengan Iran yang berdampak pada gangguan infrastruktur energi & distribusi minyak.
Penulis: Firdha Ustin | Editor: Nurul Hayati
SERAMBINEWS.COM - Harga rata-rata eceran solar di Amerika Serikat (AS) menembus angka 4 dolar AS per galon untuk pertama kalinya dalam hampir dua tahun terakhir, di tengah meningkatnya ketegangan konflik di Timur Tengah.
Kenaikan ini dipicu eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran yang berdampak pada gangguan infrastruktur energi serta distribusi minyak global, terutama di jalur strategis Selat Hormuz.
Berdasarkan data dari AAA seperti diberitakan dari Reuters, harga rata-rata nasional solar melonjak 14,7 sen menjadi 4,04 dolar AS per galon pada Rabu (4/3/2026). Lonjakan ini menjadi kenaikan harian terbesar sejak Maret 2022, ketika pasar energi global terguncang akibat perang Rusia-Ukraina.
Solar merupakan bahan bakar utama untuk sektor manufaktur dan distribusi barang. Kenaikan harga ini berpotensi memicu lonjakan biaya logistik dan berdampak pada harga berbagai kebutuhan, mulai dari bahan makanan hingga furnitur.
Analis GasBuddy, Patrick De Haan, memperkirakan harga solar masih berpotensi naik dalam beberapa hari ke depan.
“Kita bisa melihat harga rata-rata naik menjadi 4,25 hingga 4,45 dolar AS per galon dalam waktu dekat. Namun, perkembangan baru dalam konflik bisa menggerakkan harga ke arah mana pun,” ujarnya.
Baca juga: Perang Iran Memanas, Pasar Saham Dunia Bergejolak! Harga Minyak dan Gas Melonjak Tajam
Di pasar berjangka, harga diesel AS sempat menyentuh 3,45 dolar AS, tertinggi sejak September 2024.
Pasokan Ketat, Permintaan Tinggi
Para analis menyebutkan pasokan solar global saat ini dalam kondisi terbatas. Permintaan tinggi untuk kebutuhan pemanas dan pembangkit listrik selama musim dingin di AS serta sejumlah wilayah lain turut memperketat stok.
Selain itu, kapasitas penyulingan yang terbatas secara struktural membuat pasar diesel lebih rentan terhadap gangguan geopolitik.
Direktur strategi pasar di StoneX, Alex Hodes, mengatakan diesel lebih sensitif terhadap konflik di Timur Tengah dibandingkan bahan bakar lain karena karakteristik minyak mentah dari kawasan tersebut yang memiliki kandungan distilat lebih tinggi.
Berdasarkan data perusahaan pelacak kargo Vortexa, sekitar 900 ribu barel per hari diesel dan 350 ribu barel per hari bahan bakar jet dikirim dari kawasan Teluk melalui jalur laut. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 10 persen dan 20 persen pasokan global.
Gangguan pada arus distribusi di wilayah itu dinilai dapat memperparah ketidakseimbangan pasar energi dunia.
Baca juga: Iran akan Targetkan Reaktor Nuklir Dimona Jika As dan Israel Berupaya Menggulingkan Rezim
Ancaman Inflasi Jelang Pemilu AS
Kenaikan harga energi ini juga menjadi tantangan politik bagi Presiden AS, Donald Trump, dan Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu November mendatang.
| Hujan Rudal Iran Tak Kunjung Reda, Israel Mulai Jatahkan Penggunaan Pencegat Kelas Atas |
|
|---|
| Iran dan Israel Saling Serang Hingga Detik Ini, AS Tambah Kekuatan Militer di Tengah Negosiasi |
|
|---|
| Sempat Diisukan Tewas Kena Rudal Iran, Netanyahu Tiba-tiba Muncul Sampaikan Pesan soal Perang |
|
|---|
| Netanyahu Hilang dari Publik 4 Hari, Muncul Isu Tewas Akibat Serangan Iran |
|
|---|
| Serangan Israel Picu Ledakan Kilang Minyak Iran, Teheran Diselimuti Awan Hitam dan Hujan Beracun |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/selat-hormuz_iran-dan-oman_ketegangan-di-timur-tengah.jpg)