Selasa, 5 Mei 2026

Berita Internasional

Ini Negara Ketiban Untung dan Paling Terpukul dari Pecahnya Perang Timteng

Perang AS–Israel melawan Iran sejak Februari 2026 mengguncang stabilitas global, terutama sektor energi dan perdagangan internasional.

Tayang:
Editor: Saifullah
Serambinews.com
DAMPAK PERANG TIMTENG - Foto ilustrasi Iran meluncurkan sekitar 10 rudal berat dalam serangan udara terbarunya terhadap Israel, Selasa (10/3/2026). Dampak perang di Timur Tengah (Timteng) antara Iran melawan AS dan Israel memberi dampak menguntungkan bagi negara besar seperti Rusia dan Cina, namun membuat negara-negara berkembang paling terpukul. 

Ringkasan Berita:
  • Perang AS–Israel melawan Iran sejak Februari 2026 mengguncang stabilitas global, terutama sektor energi dan perdagangan internasional.
  • Rusia diuntungkan lewat lonjakan harga minyak dan berkurangnya fokus militer AS di Ukraina, sementara China relatif aman namun menghadapi biaya logistik tinggi sekaligus peluang diplomatik.
  • Sebaliknya, negara berkembang di Asia Tenggara dan Asia Selatan paling terpukul dengan kenaikan harga energi, pembatasan konsumsi, hingga ancaman krisis pangan.

 

Perang AS–Israel melawan Iran sejak Februari 2026 mengguncang stabilitas global, terutama sektor energi dan perdagangan internasional.

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Perang antara Amerika Serikat–Israel melawan Iran yang pecah pada 28 Februari 2026 dan terus berlangsung hingga sekarang, telah mengguncang stabilitas global, terutama di sektor energi dan perdagangan internasional. 

Dampak konflik ini terasa luas, mulai dari lonjakan harga minyak hingga terganggunya jalur pelayaran strategis di Teluk Persia dan Laut Merah. 

Namun, di balik kerugian besar yang dialami banyak negara, ada pula pihak yang justru memperoleh keuntungan dari situasi ini.

Ini deretan negara yang ketiban untung dari pecahnya perang di Timur Tengah (Timteng):

Rusia

Rusia menjadi salah satu negara yang relatif diuntungkan. 

Dengan fokus militer AS teralihkan ke Iran, dukungan senjata untuk Ukraina berkurang. 

Rudal Patriot dan sistem pertahanan lain yang biasanya dikirim ke Kyiv kini dialihkan ke Timur Tengah. 

Hal ini memberi ruang bagi Rusia untuk memperkuat posisinya di medan perang Ukraina. 

Baca juga: 7 Pesawat Tanker AS Tumbang dalam Sepekan Dihantam Rudal Iran di Pangkalan Timur Tengah

Selain itu, penutupan Selat Hormuz oleh Iran membuat harga minyak melonjak tajam, bahkan sempat mendekati 120 dolar AS per barel. 

Kondisi ini menguntungkan Rusia yang sangat bergantung pada ekspor minyak. 

Negara seperti India dan Cina semakin membuka diri terhadap minyak Rusia.

bahkan ada wacana pelonggaran sanksi demi menjaga stabilitas pasokan energi global.

Cina

Cina tidak terlalu bergantung pada minyak Iran--hanya sekitar 12 persen impor minyaknya berasal dari sana. 

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved