Minggu, 12 April 2026

Konflik Amerika vs Iran

Trump Berbalik Arah dan Ingin Damai dengan Iran, Netanyahu Ketar-ketir

Trump disebut lebih memilih jalur diplomasi, dengan ambisi mendorong kesepakatan damai dalam waktu dekat.

Editor: Amirullah
Image created by ChatGPT
Ilustrasi geopolitik: Presiden AS Donald Trump mendorong jalur diplomasi dengan Iran di tengah ketegangan kawasan, sementara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tetap bersiaga terhadap potensi ancaman militer. 

SERAMBINEWS.COM – Arah kebijakan Amerika Serikat dalam konflik dengan Iran mulai berubah.

Di saat tensi masih tinggi, Washington justru memberi sinyal membuka jalan damai sebuah langkah yang langsung mengundang perhatian, termasuk dari sekutu dekatnya, Israel.

Sebelumnya, Donald Trump sempat melontarkan ancaman keras untuk menyerang fasilitas energi milik Iran.

Namun kini, sikap itu tampak melunak. Trump disebut lebih memilih jalur diplomasi, dengan ambisi mendorong kesepakatan damai dalam waktu dekat.

Pemerintah Amerika Serikat bahkan dikabarkan tengah menyiapkan pertemuan dengan delegasi Iran.

Agenda tersebut rencananya digelar di Pakistan paling cepat pada Kamis pekan ini.

Mengutip dari Axios, Trump disebut-sebut sangat berharap pertemuan ini bisa terlaksana dan berjalan dengan baik sehingga kesepakatan damai dengan Iran bisa tercapai.

Baca juga: Darurat Energi Imbas Perang Iran, Filipina Dekati China, Jajaki Ulang Kerja Sama Eksplorasi Minyak

Meski begitu, jalan menuju kesepakatan diprediksi tidak akan mudah.

Salah satu faktor yang membuat negosiasi rumit adalah posisi Iran yang masih mencengkeram kuat Selat Hormuz jalur vital yang menjadi kunci distribusi energi global.

Di balik layar, sejumlah tokoh penting sudah bergerak. Dua orang kepercayaan Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner, dilaporkan bersiap terbang ke Pakistan untuk bertemu langsung dengan delegasi Iran.

Bahkan, muncul rumor kuat yang menyebut Wakil Presiden AS, J. D. Vance, kemungkinan ikut turun tangan dalam negosiasi yang diperkirakan berlangsung alot ini.

Meski demikian, pihak Gedung Putih masih irit bicara.

"Jangan berspekulasi, tunggu pengumuman resmi," tegas Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt.

Di sisi lain, sekutu utama AS, Israel, memilih bersikap lebih hati-hati.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memberi sinyal bahwa negaranya tidak akan begitu saja menghentikan operasi militer, meski wacana damai mulai bergulir.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved