Konflik Amerika vs Iran
Iran Ancam Serang Hotel yang Menampung Tentara AS di Timur Tengah
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menuduh militer AS sengaja menggunakan fasilitas sipil sebagai perlindungan.
Ringkasan Berita:
- Ketegangan di Timur Tengah semakin meningkat seiring peringatan keras dari militer Iran yang menyatakan bahwa hotel-hotel yang menampung tentara Amerika Serikat (AS) kini menjadi target sah serangan.
- Pernyataan tersebut disampaikan di tengah konflik bersenjata antara Iran dengan AS dan Israel yang telah berlangsung hampir satu bulan.
- Juru bicara angkatan bersenjata Iran, Abolfazl Shekarchi, menegaskan bangunan sipil seperti hotel dapat berubah menjadi target militer apabila digunakan pasukan AS.
SERAMBINEWS.COM, TEHERAN — Ketegangan di Timur Tengah semakin meningkat seiring peringatan keras dari militer Iran yang menyatakan bahwa hotel-hotel yang menampung tentara Amerika Serikat (AS) kini menjadi target sah serangan.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah konflik bersenjata antara Iran dengan AS dan Israel yang telah berlangsung hampir satu bulan.
Konflik ini dipicu oleh serangan gabungan AS dan Israel pada 28 Februari, yang kemudian dibalas oleh Teheran, termasuk dengan langkah strategis menutup Selat Hormuz.
Juru bicara angkatan bersenjata Iran, Abolfazl Shekarchi, menegaskan bahwa status bangunan sipil seperti hotel dapat berubah menjadi target militer apabila digunakan oleh pasukan AS.
“Ketika semua pasukan Amerika masuk ke dalam sebuah hotel, maka dari sudut pandang kami, hotel tersebut menjadi milik Amerika,” ujar Shekarchi dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah, Kamis (27/3/2026).
Ia menambahkan bahwa Iran tidak akan tinggal diam terhadap serangan yang ditujukan kepada negaranya.
“Saat kami merespons, tentu kami harus menyerang di mana pun mereka berada,” tegasnya.
Baca juga: Iran Izinkan 10 Kapal Melintas di Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Melemah
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menuduh militer AS sengaja menggunakan fasilitas sipil sebagai perlindungan.
Melalui unggahannya di platform X, Araghchi menyebut pasukan AS telah meninggalkan pangkalan militer dan berpindah ke hotel serta gedung perkantoran.
“Sejak awal perang ini, tentara AS melarikan diri dari pangkalan militer di GCC untuk bersembunyi di hotel-hotel dan perkantoran,” tulisnya.
Ia juga mendesak pihak hotel di kawasan tersebut agar menolak reservasi dari personel militer AS demi menghindari risiko serangan.
Menurut laporan kantor berita Fars yang mengutip sumber anonim, Iran telah mengirimkan peringatan langsung kepada pengelola hotel di sejumlah negara Timur Tengah, khususnya di Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain.
Selain itu, intelijen militer Iran mengklaim telah mengidentifikasi keberadaan pasukan AS di beberapa negara lain, termasuk Suriah, Lebanon, dan Djibouti.
Meski demikian, negara-negara Teluk membantah tuduhan bahwa wilayah mereka digunakan sebagai basis operasi militer AS untuk menyerang Iran.
Sebelum konflik pecah, negara-negara tersebut telah menegaskan tidak akan mengizinkan penggunaan wilayah maupun ruang udara mereka untuk tujuan tersebut.
Situasi ini menambah kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi berdampak pada stabilitas global.
| Iran Resmi Buka Selat Hormuz untuk Semua Kapal |
|
|---|
| Intelijen AS: China Diduga Pertimbangkan Kirim Radar Canggih ke Iran |
|
|---|
| AS Perketat Tekanan terhadap Iran, Militer Amerika Siap Hentikan Kapal Iran di Seluruh Dunia |
|
|---|
| Netanyahu Tegaskan Israel Siap Lanjutkan Perang dengan Iran, Ajukan Sejumlah Tuntutan |
|
|---|
| Ketegangan Memanas, Iran Siapkan Tindakan Balasan atas Blokade AS terhadap Pelabuhan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Pasukan-Iran-menembakkan-rudal-dalam-latihan-militer-di-Pantai-Makran-Teluk-Oman-2022.jpg)