Senin, 20 April 2026

Konflik Amerika vs Iran

Iran Ancam Serang Hotel yang Menampung Tentara AS di Timur Tengah

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menuduh militer AS sengaja menggunakan fasilitas sipil sebagai perlindungan.

Editor: Faisal Zamzami
Tangkapan layar/MILITER IRAN
RUDAL - Pasukan Iran menembakkan rudal dalam latihan militer di Pantai Makran, Teluk Oman, dekat Selat Hormuz, 31 Desember 2022. Selat Hormuz kini menjadi titik konflik terbaru antara Iran dan Amerika Serikat. 

Ringkasan Berita:
  • Ketegangan di Timur Tengah semakin meningkat seiring peringatan keras dari militer Iran yang menyatakan bahwa hotel-hotel yang menampung tentara Amerika Serikat (AS) kini menjadi target sah serangan.
  • Pernyataan tersebut disampaikan di tengah konflik bersenjata antara Iran dengan AS dan Israel yang telah berlangsung hampir satu bulan.
  • Juru bicara angkatan bersenjata Iran, Abolfazl Shekarchi, menegaskan bangunan sipil seperti hotel dapat berubah menjadi target militer apabila digunakan pasukan AS.

 

SERAMBINEWS.COM, TEHERAN — Ketegangan di Timur Tengah semakin meningkat seiring peringatan keras dari militer Iran yang menyatakan bahwa hotel-hotel yang menampung tentara Amerika Serikat (AS) kini menjadi target sah serangan.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah konflik bersenjata antara Iran dengan AS dan Israel yang telah berlangsung hampir satu bulan.

Konflik ini dipicu oleh serangan gabungan AS dan Israel pada 28 Februari, yang kemudian dibalas oleh Teheran, termasuk dengan langkah strategis menutup Selat Hormuz.

Juru bicara angkatan bersenjata Iran, Abolfazl Shekarchi, menegaskan bahwa status bangunan sipil seperti hotel dapat berubah menjadi target militer apabila digunakan oleh pasukan AS.

“Ketika semua pasukan Amerika masuk ke dalam sebuah hotel, maka dari sudut pandang kami, hotel tersebut menjadi milik Amerika,” ujar Shekarchi dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah, Kamis (27/3/2026).

Ia menambahkan bahwa Iran tidak akan tinggal diam terhadap serangan yang ditujukan kepada negaranya.

“Saat kami merespons, tentu kami harus menyerang di mana pun mereka berada,” tegasnya.

Baca juga: Iran Izinkan 10 Kapal Melintas di Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Melemah

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menuduh militer AS sengaja menggunakan fasilitas sipil sebagai perlindungan.

Melalui unggahannya di platform X, Araghchi menyebut pasukan AS telah meninggalkan pangkalan militer dan berpindah ke hotel serta gedung perkantoran.

“Sejak awal perang ini, tentara AS melarikan diri dari pangkalan militer di GCC untuk bersembunyi di hotel-hotel dan perkantoran,” tulisnya.

Ia juga mendesak pihak hotel di kawasan tersebut agar menolak reservasi dari personel militer AS demi menghindari risiko serangan.

Menurut laporan kantor berita Fars yang mengutip sumber anonim, Iran telah mengirimkan peringatan langsung kepada pengelola hotel di sejumlah negara Timur Tengah, khususnya di Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain.

Selain itu, intelijen militer Iran mengklaim telah mengidentifikasi keberadaan pasukan AS di beberapa negara lain, termasuk Suriah, Lebanon, dan Djibouti.

Meski demikian, negara-negara Teluk membantah tuduhan bahwa wilayah mereka digunakan sebagai basis operasi militer AS untuk menyerang Iran.

Sebelum konflik pecah, negara-negara tersebut telah menegaskan tidak akan mengizinkan penggunaan wilayah maupun ruang udara mereka untuk tujuan tersebut.

Situasi ini menambah kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi berdampak pada stabilitas global.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved