Rabu, 29 April 2026

Berita Regional

Viral Warga Ramai-ramai Blokir Rel KA di Lampung, Begini Fakta Sebenarnya

Video warga memblokir rel kereta api di Bandar Lampung viral setelah kecelakaan mobil dengan KA babarajang pada malam takbiran.

Editor: Saifullah
Serambinews.com/HO
BLOKIR REL KA - Sejumlah warga memblokir perlintasan kereta api di Bandar Lampung, Rabu (25/3/2026). Dok/screenshot video warganet 

Ringkasan Berita:
  • Video warga memblokir rel kereta api di Bandar Lampung viral setelah kecelakaan mobil dengan KA babarajang pada malam takbiran.
  • Keluarga korban membantah tudingan menerobos rel, menyebut lokasi berbahaya karena tanpa palang pintu, penjaga, maupun lampu peringatan.
  • Aksi blokir rel dilakukan singkat sebagai protes agar PT KAI memberi perhatian serius terhadap keselamatan perlintasan yang sudah sering memakan korban.

 

Video warga memblokir rel kereta api di Bandar Lampung viral setelah kecelakaan mobil dengan KA babarajang pada malam takbiran.

SERAMBINEWS.COM, BANDAR LAMPUNG - Peristiwa kecelakaan di Bandar Lampung yang melibatkan sebuah mobil dan kereta api (KA) pada malam takbiran atau Jumat (20/3/2026) malam, memicu kontroversi.

Hal ini terjadi setelah video warga ramai-ramai memblokir rel kereta api viral di media sosial (medsos).

Pihak keluarga korban akhirnya buka suara untuk meluruskan narasi yang beredar.

Reni Antika, kakak pengendara mobil, menegaskan bahwa adiknya tidak menerobos perlintasan.

Ia berdalih adiknya benar-benar tidak mengetahui adanya kereta api yang melintas.

Menurutnya, kontur jalan menuju rel berbelok, menurun, dan terhalang bangunan warga, sehingga pandangan pengendara terbatas.

Ditambah lagi, tidak ada palang pintu, penjaga, maupun lampu sorot di lokasi.

Baca juga: Abodemen Jembatan Rel Kereta Api Gandapura Ambruk dan Erosi Meluas

Reni menjelaskan, mobil adiknya baru menyadari keberadaan kereta babarajang (kereta batu bara panjang), ketika sudah berada di tengah rel. 

“Kami benar-benar buta, tidak ada tanda-tanda kereta melintas,” ujarnya.

Ia menilai kondisi tersebut sangat berbahaya dan sudah berulangkali menimbulkan korban.

Dalam pertemuan dengan PT KAI Divre IV, pihak keluarga meminta agar kerusakan kendaraan diperbaiki dan perlintasan dipasang palang pintu serta dijaga petugas.

Namun, menurut Reni, pihak KAI menyebut kompensasi hanya diberikan jika ada korban jiwa, sehingga keluarga merasa kecewa.

Sebagai bentuk protes, warga kemudian melakukan aksi simbolis dengan memalangkan besi di perlintasan kereta babarajang. 

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved