Selasa, 5 Mei 2026

Konflik Timur Tengah

AS Terima Tiga Proposal Berbeda Terkait Iran, Salah Satunya Ditulis Dalam ChatGPT

Vance menjelaskan bahwa proposal pertama dikirimkan kepada utusan khusus AS, yakni Steve Witkoff dan Jared Kushner, namun langsung ditolak.

Tayang:
Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Nurul Hayati
SERAMBINEWS.COM/AI
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengakui bahwa faktor dendam pribadi turut memengaruhi keputusannya melancarkan serangan terhadap Iran. 

AS Terima Tiga Proposal Berbeda Terkait Iran, Salah Satunya Ditulis Dalam ChatGPT

SERAMBINEWS.COM - Pemerintah Amerika Serikat mengungkap adanya tiga proposal berbeda terkait upaya penyelesaian konflik dengan Iran, yang masing-masing berisi 10 poin dan memicu kebingungan dalam menentukan dasar negosiasi.

Wakil Presiden AS, JD Vance, menyampaikan bahwa proposal-proposal tersebut diterima oleh pemerintahan Presiden Donald Trump dari berbagai sumber, dengan kualitas dan kredibilitas yang berbeda.

Mengutip laporan TASS pada Selasa (8/4/2026), Vance menjelaskan bahwa proposal pertama dikirimkan kepada utusan khusus AS, yakni Steve Witkoff dan Jared Kushner, namun langsung ditolak.

"Usulan pertama dikirimkan kepada utusan khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner, tetapi langsung ditolak. Kami pikir itu ditulis di ChatGPT,” katanya.

Ia menambahkan, proposal kedua dinilai lebih kredibel karena disusun berdasarkan komunikasi yang telah berlangsung antara AS dan Iran melalui jalur diplomatik di Pakistan. 

Proposal ini juga terdiri dari 10 poin dan tengah dipertimbangkan oleh Presiden Trump sebagai dasar negosiasi resmi.

“Usulan kedua lebih masuk akal, berdasarkan apa yang telah dibahas AS dengan Iran melalui Pakistan. Ini juga merupakan usulan 10 poin yang dipertimbangkan Presiden Trump sebagai dasar negosiasi,” tambah Vance.

Sementara itu, proposal ketiga disebut hanya beredar di media sosial dan dinilai terlalu sarat tuntutan sepihak, sehingga sulit dijadikan pijakan dalam proses diplomasi.

“Usulan ketiga hanya muncul di media sosial dan sangat didasarkan pada tuntutan," kata Wakil Presiden AS itu.

Dalam keterangannya, Vance menggambarkan situasi gencatan senjata antara AS dan Iran sebagai “kesepakatan yang rapuh”. 

Ia menegaskan bahwa Washington tidak pernah menyetujui memasukkan Lebanon dalam cakupan perjanjian tersebut, sekaligus menolak klaim Teheran yang menyebut negara itu tetap dilindungi oleh kesepakatan gencatan senjata.

Selain itu, Vance menekankan bahwa salah satu tuntutan utama pemerintahan Trump adalah agar Iran menyerahkan seluruh uranium yang telah diperkaya sebagai bagian dari kesepakatan.

"Itulah mengapa saya katakan ini adalah kesepakatan yang rapuh. Ada orang-orang yang jelas ingin duduk di meja perundingan dan bekerja sama dengan kami untuk mencapai kesepakatan yang baik, tetapi ada juga orang-orang yang memutarbalikkan kebenaran," kata Vance.

Lebih lanjut, media AS melaporkan bahwa Vance bersama Witkoff dan Kushner dijadwalkan melakukan kunjungan ke Pakistan pada akhir pekan ini untuk memulai perundingan langsung dengan delegasi Iran.

Langkah ini dipandang sebagai upaya terbaru Washington untuk meredakan ketegangan yang terus meningkat di kawasan Timur Tengah, meskipun perbedaan posisi antara kedua negara masih cukup tajam.

Iran Kembali Tutup Selat Hormuz

Jalur pelayaran minyak di Selat Hormuz kembali ditutup oleh Iran, hanya berselang beberapa jam setelah sempat dibuka secara terbatas, Kamis (9/4/2026).

Sebelumnya, satu kapal tanker sempat diizinkan melintas, namun tak lama kemudian arus distribusi minyak kembali dihentikan, sebagaimana dilaporkan kantor berita Iran.

Kebijakan tersebut sontak memicu kekhawatiran luas. Selat Hormuz bukan sekadar jalur biasa ia menjadi nadi penting distribusi energi global.

Penutupan mendadak ini dikhawatirkan bisa mendorong lonjakan harga minyak sekaligus menambah tekanan terhadap ekonomi dunia.

Situasi ini tak lepas dari memanasnya konflik di Lebanon. Ketegangan meningkat tajam setelah serangan militer Israel yang dilaporkan menimbulkan korban dalam jumlah besar.

Serangan itu menyasar sejumlah titik di Beirut, termasuk kawasan sipil dan area komersial yang disebut sebagai basis Hezbollah. Dampaknya pun besar, dengan korban jiwa dilaporkan terus bertambah.

Mengutip NBC International, sedikitnya 182 orang tewas dalam satu hari. Di sisi lain, beberapa laporan internasional menyebut jumlah korban bisa melampaui 250 orang, sementara lebih dari 1.000 orang lainnya mengalami luka-luka.

Peristiwa ini disebut sebagai salah satu momen paling berdarah sejak konflik kembali berkobar di kawasan tersebut.

Pemerintah Israel di bawah kepemimpinan Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa operasi militer tersebut dilakukan untuk menekan ancaman Hizbullah, yang dinilai membahayakan keamanan nasional Israel.

(Serambinews.com/Agus Ramadhan)

Baca dan Ikuti Berita Serambinews.com di GOOGLE NEWS 

Bergabunglah Bersama Kami di Saluran WhatsApp SERAMBINEWS.COM 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved