Sabtu, 6 Juni 2026

Trump Tolak Perpanjangan Gencatan Senjata, Blokade Selat Hormuz Berlanjut

Ketegangan geopolitik Timur Tengah kembali memuncak. Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara tegas menyatakan tidak mempertimbangkan

Tayang:
Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS.COM/MEDSOS
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim bahwa 49 pemimpin Iran telah tewas dalam serangan awal yang dilancarkan Washington. 

Ringkasan Berita:
  • Pernyataan Trump diungkapkan oleh koresponden ABC News, Jonathan Karl, usai wawancara eksklusif dengan sang presiden. Trump mengisyaratkan konflik mendekati titik penentuan.
  • “Saya pikir Anda akan menyaksikan dua hari yang luar biasa ke depan,” ujar Trump, dikutip Karl.
  • Meski mengakui perang “bisa berakhir dengan cara apa pun”, Trump menyebut diplomasi sebagai opsi yang lebih ia sukai.

 

SERAMBINEWS.COM – Ketegangan geopolitik Timur Tengah kembali memuncak. Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara tegas menyatakan tidak mempertimbangkan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran, di tengah blokade ketat AS di Selat Hormuz yang mulai mengguncang pasar energi global.

Pernyataan Trump diungkapkan oleh koresponden ABC News, Jonathan Karl, usai wawancara eksklusif dengan sang presiden. Trump mengisyaratkan konflik mendekati titik penentuan.

“Saya pikir Anda akan menyaksikan dua hari yang luar biasa ke depan,” ujar Trump, dikutip Karl.
Meski mengakui perang “bisa berakhir dengan cara apa pun”, Trump menyebut diplomasi sebagai opsi yang lebih ia sukai.

“Saya pikir kesepakatan lebih baik, karena kemudian mereka bisa membangun kembali,” katanya.
Trump juga mengklaim telah terjadi perubahan signifikan di Iran.

Baca juga: Arab Saudi Desak Trump Redakan Konflik Iran, Khawatir Jalur Minyak Global Terancam

“Mereka benar-benar memiliki rezim yang berbeda sekarang. Apa pun yang terjadi, kita telah menyingkirkan kaum radikal. Mereka sudah pergi.”

Namun dari Teheran, sinyal yang muncul justru sebaliknya. Analis politik Iran, Abbas Aslani, menegaskan bahwa Tehran tidak mengubah kebijakannya terkait Selat Hormuz.

Menurut Aslani, penerapan protokol baru di jalur pelayaran strategis itu telah dirancang bahkan sebelum Amerika Serikat memberlakukan blokade angkatan laut.

“AS ingin menekan Iran agar mengubah kebijakannya. Tapi sejauh ini, kami tidak melihat tanda atau sinyal apa pun bahwa Iran akan mundur,” ujarnya.

Sementara itu, US Central Command (CENTCOM) mengklaim keberhasilan penuh operasi blokade. Tidak satu pun kapal disebut berhasil menembus pertahanan AS.

Satu kapal yang sempat dilaporkan lolos, ternyata hanya berhasil melewati selat dan kini terjebak di sisi lain, tepat di depan garis blokade. Enam kapal lain bahkan dikawal kembali oleh angkatan laut AS sesuai perintah.

Untuk menjaga operasi ini, AS mengerahkan kekuatan besar: lebih dari selusin kapal perang, puluhan pesawat tempur, serta lebih dari 10.000 personel militer mulai dari Marinir, Angkatan Darat, hingga Angkatan Udara.

Namun harga yang dibayar bukan hanya militer, melainkan juga diplomatik.

Sebagian besar minyak Iran diekspor ke China, yang selama ini menjadi pelanggan terbesar. Sekitar sepertiga kebutuhan minyak domestik China disebut bergantung pada pasokan dari Iran.

Situasi ini memunculkan pertanyaan besar:
akankah Beijing menekan Teheran agar bernegosiasi dengan Washington, atau justru konflik ini memperlebar jurang permusuhan?

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved