Jumat, 5 Juni 2026

Berita Nasional

Daftar Barang yang Berpotensi Naik Harga Saat Rupiah Terus Melemah, Tembus Rp 18.037 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan dan mencatat posisi terlemah sepanjang sejarah terhadap dolar Amerika Serikat

Tayang:
Penulis: Sri Anggun Oktaviana | Editor: Nurul Hayati
Chat GPT
PELEMAHAN RUPIAH - Pelemahan rupiah hingga menembus level Rp. 18.037 per dolar AS menunjukkan tingginya tekanan eksternal yang sedang dihadapi perekonomian Indonesia. Foto ilustrasi dibuat menggunakan Chat GPT 

Daftar Barang yang Berpotensi Naik Harga Saat Rupiah Terus Melemah, Tembus Rp 18.037 per Dolar AS

SERAMBINEWS.COM - Rupiah kembali berada dalam tekanan dan mencatat posisi terlemah sepanjang sejarah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Pada perdagangan Jumat (5/6/2026) pagi, rupiah menyentuh level Rp 18.037 per dolar AS.

Angka tersebut menunjukkan pelemahan sebesar 63 poin atau sekitar 0,35 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya.

Pelemahan yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir membuat rupiah terus bergerak di zona rendah dan memunculkan kekhawatiran terhadap berbagai sektor ekonomi.

Kondisi ini tidak hanya menjadi perhatian pelaku pasar keuangan, tetapi juga masyarakat umum karena berpotensi memengaruhi harga barang, biaya hidup, hingga aktivitas dunia usaha.

Baca juga: Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Menkeu Purbaya Pastikan Dampak Utang Masih Terkendali

Mengapa Pelemahan Rupiah Perlu Diwaspadai?

Ketika nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS, maka biaya untuk membeli produk dari luar negeri otomatis menjadi lebih mahal.

Perusahaan yang mengimpor bahan baku, mesin produksi, komponen elektronik, maupun berbagai barang konsumsi harus mengeluarkan lebih banyak rupiah untuk mendapatkan jumlah dolar yang sama.

Kenaikan biaya impor tersebut berpotensi meningkatkan biaya produksi.

Dalam banyak kasus, kenaikan biaya produksi akhirnya diteruskan kepada konsumen melalui kenaikan harga barang dan jasa di pasar.

Dampaknya tidak hanya dirasakan pada produk impor.

Barang yang diproduksi di dalam negeri pun bisa mengalami kenaikan harga apabila proses produksinya masih bergantung pada bahan baku, mesin, teknologi, atau transaksi yang menggunakan mata uang dolar AS.

Baca juga: Rupiah Tembus Rp 17.900 per Dollar AS, Cetak Rekor Terlemah di Tengah Gejolak Global

Rupiah Melemah terhadap Mayoritas Mata Uang Dunia

Ekonom Senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah dalam beberapa bulan terakhir terjadi secara cukup signifikan.

Menurutnya, depresiasi rupiah tidak hanya terjadi terhadap dolar AS, tetapi juga terhadap sebagian besar mata uang dunia.

"Dalam periode yang sama, rupiah melemah terhadap 86 persen mata uang di dunia. Rupiah juga melemah terhadap seluruh mata uang utama di ASEAN, meliputi SGD, THB, MYR, VND, dan PHP," ujar Wijayanto dikutip via Kompas.com, Kamis (4/6/2026).

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved