Sabtu, 25 April 2026

Berita Internasional

Ismail Rasyid Bahas Peluang Konektivitas Aceh-Malaysia

Mereka akan mendukung rencana ini khususnya untuk kargo, serta membantu menghitung semua biaya transshipment di Port Klang.” ISMAIL RASYID

Editor: mufti
for serambinews/SERAMBI/ZAINAL ARIFIN
SEPAKAT MEMBANTU - CEO PT Trans Continent, Ismail Rasyid didampingi COO Alan Mclare, dan Komisaris Jibril Gibran, berjabat tangan dengan GM Infinity Malaysia, James Ku yang didampingi Sandra Gan, seusai diskusi mendalam terkait upaya percepatan konektivitas pelabuhan di Aceh dengan Port Klang Malaysia, di Hanoi, Vietnam, Selasa (21/4/2026). Kedua perusahaan besar di bidang logistik multimoda ini sepakat untuk membantu proses konektivitas pelabuhan Aceh dengan Malaysia. 

Ringkasan Berita:
  • CEO PT Trans Continent sekaligus Sekretaris Jenderal DEA Ismail Rasyid, menyampaikan hasil positif dari pertemuannya dengan pihak Infinity Logistics & Transport Malaysia dalam forum bisnis di Hanoi, Vietnam
  • Perusahaan logistik besar asal Malaysia itu siap mendukung rencana ekspor-impor langsung melalui pelabuhan Aceh menuju Port Klang, Malaysia
  • DARI sisi Aceh, kata Ismail Rasyid, langkah paralel yang akan dilakukan adalah menghitung biaya lokal di pelabuhan hingga ongkos pengiriman ke Port Klang

Mereka akan mendukung rencana ini khususnya untuk kargo, serta membantu menghitung semua biaya transshipment di Port Klang.” ISMAIL RASYID, CEO PT Trans Continent

SERAMBINEWS.COM, HANOI - CEO PT Trans Continent sekaligus Sekretaris Jenderal Dewan Ekonomi Aceh (DEA), Ismail Rasyid, menyampaikan hasil positif dari pertemuannya dengan pihak Infinity Logistics & Transport Malaysia dalam forum bisnis di Hanoi, Vietnam. 

Menurutnya, perusahaan logistik besar asal Malaysia itu siap mendukung rencana ekspor-impor langsung melalui pelabuhan Aceh menuju Port Klang, Malaysia.

Hal ini disampaikan Ismail Rasyid, usai bertemu sejumlah rekan bisnisnya yang hadir dalam Globalink dan Global Value Network Annual Meeting di Hanoi, Vietnam, Selasa (21/4/2026). Kegiatan yang berlangsung hingga Kamis (23/4/2026) ini, diikuti sekitar 150 pengusaha multimoda transportasi dari berbagai negara.

Diskusi mendalam terkait potensi ekspor dan impor dari dan ke Aceh ini dilakukan Ismail Rasyid dengan James Ku dan Sandra Gan dari Infinity Logistics & Transport Sdn. Bhd. Ini adalah perusahaan logistik besar berbasis di Selangor yang memiliki jaringan kuat di Asia Tenggara dan kini terdaftar di bursa Hong Kong. 

Mereka dikenal sebagai salah satu pemain utama di Port Klang, dengan layanan multimoda yang mencakup pergudangan, cold storage, dan solusi ekspor-impor internasional.

Selain dengan petinggi Infinity Malaysia, Ismail Rasyid juga membahas potensi ekspor impor Aceh dengan Amy Kim dari Taewoong Logistics Korea Selatan, serta beberapa mitra bisnis dari Cina.

Dalam pertemuan one on one yang waktunya dibatasi panitia hanya 20 menit, Ismail Rasyid didampingi putranya Jibril Gibran, serta COO PT Trans Continent, Alan Mclare, memaparkan tentang potensi Aceh yang kaya dengan sumber daya alam, tapi belum tergarap secara maksimal.

Dengan bantuan dari mitra bisnis di luar negeri, Ismail Rasyid berharap ke depan Aceh bisa mengekspor langsung hasil alam melalui pelabuhan di Aceh ke berbagai negara, sehingga memberi nilai tambah bagi masyarakat dan Pemerintah Aceh.

“Sangat positif. Mereka (Infinity) akan mendukung rencana ini khususnya untuk kargo, serta membantu menghitung semua biaya transshipment di Port Klang, termasuk biaya roro, pelabuhan, dan koneksi ke destinasi internasional,” kata Ismail seusai pertemuan dengan pihak Infinity Malaysia. 

Ismail Rasyid saat ini menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Dewan Ekonomi Aceh (DEA) sekaligus Dewan Pengarah Program Percepatan Konektivitas Aceh-Malaysia. Ia menjadi tokoh kunci yang mengawal strategi teknis, menjembatani komunikasi dengan pemerintah Malaysia, dan memastikan komoditas unggulan Aceh bisa terkoneksi melalui Port Klang sebagai hub ekspor internasional.(nal)

Apa yang Perlu Dipersiapkan?

DARI sisi Aceh, kata Ismail Rasyid, langkah paralel yang akan dilakukan adalah menghitung biaya lokal di pelabuhan hingga ongkos pengiriman ke Port Klang. Kontainer kosong akan direposisi dari Malaysia ke Aceh untuk proses stuffing, sehingga langsung terkoneksi dengan kapal internasional.

Dalam rencana jangka panjang, Ismail menargetkan Lhokseumawe sebagai hub utama ekspor Aceh, dengan potensi pengembangan Banda Aceh dan Sabang. Ia menekankan pentingnya kesiapan fasilitas pendukung, mulai dari karantina, integrasi CIQP (Custom, Immigration, Quarantine, Port), hingga infrastruktur pemeriksaan seperti X-ray. Meski margin keuntungan di tahap awal belum besar, Ismail optimis dengan adanya arus dua arah perjalanan, manfaat ekonomi akan semakin terasa.

Ia menegaskan, dukungan pemerintah dalam regulasi dan kepastian hukum sangat dibutuhkan, disertai investasi dari kalangan pengusaha. Dengan konektivitas langsung, industri kecil maupun besar di Aceh akan mendapat kesempatan memperluas pasar ke regional dan internasional. Komoditas unggulan seperti karet, kopi, pinang, kayu, rotan, dan seafood disebut sebagai produk potensial untuk ekspor.

Ismail juga menyoroti rekam jejak Infinity Malaysia yang sudah lama menjadi mitra Trans Continent dalam jaringan Globalink & Global Value Network. Infinity dikenal sebagai pemain utama di Port Klang dengan layanan multimoda, pergudangan, cold storage, dan kawasan berikat. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved