MENYAPA NUSANTARA
Menenun Pengabdian di Tanah Suci
Di pundak mereka tertitip harapan ratusan ribu peziarah dari Indonesia yang rindu menunaikan rukun Islam
Setelah serangkaian proses yang menguras keringat dan air mata, tibalah hari keberangkatan. Di dalam kabin pesawat terbang yang membelah awan selama 9 hingga 10 jam di udara, tersemat keheningan yang penuh makna.
Duduk di kursi penumpang, memandang langit malam, hati para petugas berkecamuk antara rasa haru, rindu kepada Rasulullah dan Baitullah, serta beban amanah yang begitu berat.
Perjalanan 9-10 jam ini adalah ruang transisi spiritual. Ketika roda pesawat bersentuhan dengan landasan di Tanah Suci, mereka menyadari bahwa waktu untuk mementingkan diri sendiri telah habis.
Begitu kaki melangkah keluar dari pintu pesawat dan menghirup udara padang pasir, nyawa, waktu, dan tenaga mereka telah diwakafkan sepenuhnya untuk melayani jamaah.
Di sinilah esensi dari narasi "Tugasku Ibadahku" menemukan bentuk paling nyatanya. Melayani pengibadah haji bukanlah sekadar kewajiban administratif atau tugas negara yang dibayar, melainkan manifestasi dari ibadah yang paling mulia.
Tugas utama petugas haji adalah memastikan jamaah, terutama lansia dan mereka yang memiliki risiko tinggi, bisa beribadah dengan lancar tanpa hambatan.
Ketika seorang petugas haji rela menahan kantuk di tengah malam demi menjaga peziarah lansia yang kebingungan mencari kamar hotelnya, itu adalah ibadah.
Ketika punggung mereka membungkuk mendorong kursi roda peserta haji yang kelelahan saat tawaf, itu adalah ibadah.
Ketika kulit mereka melepuh atau keringat bercucuran saat memapah peziarah yang tersesat di bawah terik matahari Makkah yang menyengat, setiap tetes keringat itu adalah zikir yang tak perlu diucapkan dengan kata-kata.
Mereka menjadi mata bagi peserta yang tak awas, menjadi kaki bagi yang tak mampu melangkah, dan penunjuk arah bagi yang kehilangan jalan.
Dalam senyum tulus yang mereka berikan, tersimpan pengorbanan luar biasa menahan rindu pada keluarga, anak, dan pasangan di Tanah Air.
Namun, di tengah era digital saat ini, ada satu godaan besar yang bisa menghancurkan pahala pengabdian tersebut, yakni godaan untuk pamer atau flexing.
Terkait hal ini, pesan tegas dari Wakil Menteri Haji (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak menjadi rambu keras yang harus dipatri dalam hati setiap petugas.
Wamenhaj mengingatkan dengan lantang bahwa petugas hadir di Tanah Suci bukan untuk sibuk memamerkan keistimewaan mereka di media sosial.
Mengenakan seragam petugas berlogo bendera Merah Putih di Tanah Suci memang sebuah kebanggaan tersendiri, namun itu sama sekali bukan tiket untuk berswafoto tiada henti demi mendulang likes atau validasi di dunia maya. Apalagi jika dilakukan saat ada peserta haji yang sedang membutuhkan pertolongan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/antara-240426-b.jpg)