Selasa, 12 Mei 2026

AS dan Israel Serang Iran

Iran Ancam Tembak Kapal Perang Inggris Jika Masuk Selat Hormuz

Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memanas. Iran melontarkan ancaman keras terhadap Inggris dengan

Tayang:
Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/medsos
Peringatan itu disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menyusul rencana Inggris mengirim kapal perang HMS Dragon ke kawasan Timur Tengah. Kapal tersebut disebut-sebut akan bergabung dalam misi internasional untuk melindungi jalur pelayaran di Selat Hormuz. 

Ringkasan Berita:
  • Peringatan itu disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menyusul rencana Inggris mengirim kapal perang HMS Dragon ke kawasan Timur Tengah.
  • Kapal tersebut disebut-sebut akan bergabung dalam misi internasional untuk melindungi jalur pelayaran di Selat Hormuz.

 

SERAMBINEWS.COM – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memanas. Iran melontarkan ancaman keras terhadap Inggris dengan memperingatkan akan memberikan “respons tegas dan segera” jika kapal perang Inggris memasuki Selat Hormuz.

Peringatan itu disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menyusul rencana Inggris mengirim kapal perang HMS Dragon ke kawasan Timur Tengah. Kapal tersebut disebut-sebut akan bergabung dalam misi internasional untuk melindungi jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Iran menilai pengerahan kapal perang asing di kawasan tersebut hanya akan memperkeruh situasi.

“Setiap pengerahan kapal perang dari luar kawasan di sekitar Selat Hormuz dengan dalih melindungi pelayaran adalah bentuk eskalasi krisis,” tulis Gharibabadi di media sosial.

Baca juga: Iran Tuntut Ganti Rugi Perang dan Kuasai Selat Hormuz, Trump: Sangat Tidak Bisa Diterima

Ia menegaskan, kehadiran kapal perang Inggris, Prancis, maupun negara lain yang dianggap mendukung tindakan Amerika Serikat di Selat Hormuz akan mendapat respons militer dari Iran.

“Angkatan bersenjata Republik Islam Iran akan merespons dengan tegas dan segera,” tegasnya.

Ancaman itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan sekutunya terkait jalur strategis Selat Hormuz, yang menjadi lintasan sekitar 20 persen distribusi minyak dan gas alam cair dunia.

Pemerintah Inggris sebelumnya menyatakan pengiriman HMS Dragon merupakan bagian dari rencana bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Inggris Sir Keir Starmer untuk menjaga keamanan pelayaran di kawasan Teluk. Namun, Starmer mengatakan misi itu baru dijalankan penuh setelah situasi perang mereda.

Meski gencatan senjata antara AS dan Iran disebut masih berlaku sejak April lalu, kedua pihak saling menuding melakukan serangan dan provokasi di sekitar Selat Hormuz.

Iran bahkan kembali memperingatkan akan memperketat pengawasan di selat tersebut. Militer Iran menyebut negara-negara yang mematuhi sanksi AS terhadap Teheran akan menghadapi “kesulitan” melintasi jalur pelayaran itu.

Di sisi lain, Amerika Serikat terus meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran dan menyerang kapal yang dianggap melanggar pembatasan di kawasan tersebut.

Situasi semakin rumit setelah Iran mengklaim telah menanggapi proposal perdamaian yang diajukan Presiden AS Donald Trump. Proposal itu mencakup penghentian perang dan pembahasan isu sensitif, termasuk program nuklir Iran.

Namun Trump menolak respons Iran tersebut. Dalam unggahan di platform Truth Social miliknya, ia menulis:

“Saya tidak menyukainya sama sekali tidak dapat diterima.”

Sementara itu, Perdana Menteri Qatar Mohammed bin Abdulrahman Al-Thani mengingatkan bahwa penggunaan Selat Hormuz sebagai alat tekanan politik hanya akan memperdalam krisis di kawasan Teluk. Ia mendesak semua pihak menerima upaya mediasi demi mencegah konflik meluas.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved