Minggu, 31 Mei 2026

Timur Tengah

Mantan Mata-mata: Israel Targetkan Mesir dan Turki untuk Perang Berikutnya setelah Iran

Nama Jonathan Pollard kembali mencuat. Mantan mata-mata Israel–Amerika Serikat itu melontarkan pernyataan kontroversial: Mesir dan Turki disebutnya

Tayang:
Editor: Ansari Hasyim
Telegram IDF
TENTARA ISRAEL - Foto ini diambil pada Minggu (9/2/2025) dari publikasi resmi Pasukan Pertahanan Israel (IDF) pada Sabtu (8/2/2025) memperlihatkan tentara Israel dari Pasukan Komando Selatan dikerahkan ke beberapa titik di Jalur Gaza. 

Ringkasan Berita:
  • Dalam sebuah podcast bersama Arutz Sheva, Jumat, Pollard menilai Tel Aviv harus bersiap menghadapi konflik lanjutan di Timur Tengah.
  • Menurutnya, tantangan ke depan tidak akan semudah yang dihadapi Israel saat berhadapan dengan Iran.
  • “Saya tidak yakin kita akan menghadapi Turki semudah menghadapi Iran,” ujar Pollard.

 

SERAMBINEWS.COM - Nama Jonathan Pollard kembali mencuat. Mantan mata-mata Israel–Amerika Serikat itu melontarkan pernyataan kontroversial: Mesir dan Turki disebutnya berpotensi menjadi target perang Israel berikutnya setelah Iran.

Dalam sebuah podcast bersama Arutz Sheva, Jumat, Pollard menilai Tel Aviv harus bersiap menghadapi konflik lanjutan di Timur Tengah. 

Menurutnya, tantangan ke depan tidak akan semudah yang dihadapi Israel saat berhadapan dengan Iran.

“Saya tidak yakin kita akan menghadapi Turki semudah menghadapi Iran,” ujar Pollard.

“Kita harus bersiap untuk perang berikutnya, yang mungkin melawan Turki dan Mesir. Badai akan datang.”

Pollard juga memperingatkan Israel agar tidak memberi ruang bagi pemerintahan transisi yang didukung Turki di Suriah untuk merebut kembali wilayah selatan yang kini diduduki pasukan Israel.

Baca juga: UAE Diam-diam Gempur Iran Puluhan Kali dengan Dukungan Intelijen AS dan Israel

Jika itu terjadi, kata dia, Israel akan berhadapan langsung dengan pengaruh Turki di perbatasannya.

Rekam jejak Pollard memang sarat kontroversi. Ia menghabiskan 30 tahun di penjara setelah tertangkap menjual rahasia Amerika Serikat kepada Israel pada 1984.

Setelah dibebaskan pada 2015, Pollard pindah ke Israel, memperoleh kewarganegaraan, dan dikenal dekat dengan Itamar Ben Gvir, Menteri Keamanan Nasional Israel.

Sejak itu, ia kerap menyuarakan pandangan garis keras, termasuk dukungan terhadap kebijakan ekstrem di wilayah pendudukan Palestina.

Pernyataan Pollard muncul di tengah memburuknya hubungan Israel dengan Mesir dan Turki, dua negara yang selama puluhan tahun memiliki relasi diplomatik, keamanan, dan ekonomi dengan Tel Aviv.

Ketegangan meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir, terutama seiring perang dan krisis kemanusiaan di Gaza.

Turki sendiri tercatat sebagai negara mayoritas Muslim pertama yang mengakui Israel pada 1949, dan lama menjalin kerja sama strategis.

Namun, dinamika regional yang berubah cepat kini membuat pernyataan Pollard terdengar seperti alarm dini akan eskalasi yang lebih luas, sebuah sinyal bahwa peta konflik Timur Tengah bisa kembali bergeser.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved