Berita Interasional
Iran dan AS Capai Kesepakatan Damai, Akankah Ekonomi Teheran Pulih?
Pemerintah Iran berusaha meyakinkan publik bahwa nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU)
Penulis: Sri Anggun Oktaviana | Editor: Amirullah
Iran dan AS Capai Kesepakatan Damai, Akankah Ekonomi Teheran Pulih?
SERAMBINEWS.COM – Pemerintah Iran berusaha meyakinkan publik bahwa nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang baru ditandatangani dengan Amerika Serikat merupakan sebuah kemenangan diplomatik bagi Teheran.
Namun, di tengah tekanan ekonomi, dampak perang yang berkepanjangan, serta perpecahan pandangan di dalam negeri, tidak semua warga Iran menerima narasi tersebut dengan mudah.
Dikutip Serambinews.com melalui BBC News, Selasa (17/6/2026), para pemimpin Iran menggambarkan kesepakatan itu sebagai hasil dari keteguhan negara menghadapi tekanan militer dan ekonomi selama konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.
Meski demikian, sebagian masyarakat menilai keberhasilan kesepakatan tersebut tidak akan ditentukan oleh slogan politik, melainkan oleh perubahan nyata yang mereka rasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Hubungan AS-Iran Cair, Donald Trump Sanjung Teheran: Kini Punya Pemimpin yang Rasional
Pemerintah Iran Klaim Raih Kemenangan Diplomatik
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, menyebut kesepakatan tersebut sebagai langkah besar menuju kemenangan akhir bagi Iran.
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan implementasi penuh kesepakatan itu berpotensi membawa perubahan besar bagi Iran maupun kawasan Timur Tengah.
Menurut pemerintah Iran, Amerika Serikat dan Israel gagal mencapai tujuan utama mereka selama konflik berlangsung.
Teheran menilai mereka tidak berhasil memaksa Iran menyerah, tidak menggulingkan pemerintahan Republik Islam, tidak menghentikan program nuklir Iran melalui jalur militer, serta tidak mampu memutus hubungan Iran dengan kelompok Hizbullah di Lebanon.
Pemerintah juga menyoroti bahwa Iran tetap berada di meja perundingan dan berhasil membawa isu Lebanon serta pembahasan pencabutan sanksi ke dalam kerangka negosiasi.
Dukungan dari Qalibaf dinilai penting karena ia tidak berasal dari kubu moderat yang selama ini mendukung Presiden Pezeshkian.
Hal tersebut dianggap sebagai sinyal bahwa kesepakatan mendapat dukungan dari kelompok-kelompok berpengaruh di dalam sistem politik Iran, termasuk unsur-unsur yang dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Baca juga: Terungkap, Ini Rincian Lengkap 12 Poin Perjanjian Damai AS-Iran, Termasuk Dana Rekonstruksi
Kritik dari Kelompok Garis Keras
Meski demikian, tidak semua pihak di Iran mendukung kesepakatan tersebut.
Sejumlah politisi garis keras menganggap nota kesepahaman itu terlalu menguntungkan Amerika Serikat.
Salah satu anggota parlemen yang juga menjabat wakil ketua Komite Keamanan Nasional Iran bahkan menyebut rancangan kesepakatan tersebut berpotensi mengubah Iran menjadi “koloni Amerika”.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Negara-negara-Eropa-Jepang-hingga-Turki-Bereaksi-Terkait-Perjanjian-Damai-AS-Iran.jpg)