Info Haji Aceh
Sedekah Dimana-mana, Peumulia Jamee Adat Arab
Jamaah haji disebut dhyufurrahman atau tamu Allah. Tamu (jamee) sangat dimuliakan oleh penduduk Saudi Arabia
Ringkasan Berita:
- Terdapat dua cara bangsa Arab dalam memuliakan tamu, yaitu bersikap ramah dan bersedekah
- Pemandangan orang Arab membagi-bagikan makanan di dalam masjid dan pinggir jalan bukan barang langka, dapat ditemui di banyak tempat
- Bahkan ada yang menghamparkan plastik panjang di hadapan shaf-shaf jamaah guna disusun makanan untuk bekal buka puasa Senin dan Kamis
Laporan HASAN BASRI M NUR, Kontributor Serambi Indonesia, dari Makkah
SERAMBINEWS.COM, MAKKAH – Jamaah haji disebut dhyufurrahman atau tamu Allah. Tamu (jamee) sangat dimuliakan oleh penduduk Saudi Arabia, terutama di Makkah dan Madinah. Terdapat dua cara bangsa Arab dalam memuliakan tamu, yaitu bersikap ramah dan bersedekah. Laporan ini memfokuskan pada kegemaran bangsa Arab dalam bersedekah.
Jamaah haji dari berbagai penjuru dunia mendapat perlakuan istimewa dari penduduk Saudi Arabia. Mereka senang bersedekah kepada jamaah. Sedekah ini bukan dalam bentuk uang, melainkan makanan/minuman atau kenduri. Pemandangan orang Arab membagi-bagikan makanan di dalam masjid dan pinggir jalan bukan barang langka, dapat ditemui di banyak tempat.
Sambil beriktikaf menanti azan Maghrib berkumandang di Masjidil Haram, selalu saja terdapat orang Arab yang mengirim dan membagi-bagikan makanan/minuman dalam jumlah besar kepada jamaah. Khusus pada Senin dan Kamis sore persediaan makanan sedekah ini dapat dikatakan melimpah. Bahkan ada yang menghamparkan plastik panjang di hadapan shaf-shaf jamaah guna disusun makanan untuk bekal buka puasa Senin dan Kamis.
Pemandangan orang bersedekah juga terdapat di jalanan. Banyak ditemukan orang Arab yang membawa makanan/minuman untuk dibagi kepada jamaah haji di jalan menuju Masjidil Haram. Hasan (55), penduduk Makkah, pada setiap pagi dan sore membawa minuman kopi/teh panas dan roti guna disedekahkan kepada jamaah yang lewat di Jalan Jabal Kakbah, sekitar 400 meter dari Masjidil Haram.
Setiap menjelang waktu shalat fardhu, jalan Jabal Kakbah dipenuhi jamaah menuju Masjidil Haram dengan berjalan kaki. Hasan sengaja memilih bersedekah di tepi jalan ini agar mudah dalam distribusi makanan/minuman. Jamaah dapat beristirahat sejenak sambil menikmati kopi yang dibagi atau menikmatinya sambil berjalan.
Hasan mengangkut sendiri minuman/makanan dengan kendaraan roda tiga dalam jumlah banyak. Hasan dibantu oleh tiga orang petugas untuk menuangkan kopi/teh ke dalam gelas karton sekali pakai. Jamaah haji tampak berkerumun dan semua mendapatkan bagian.
“Tiap pagi dan sore di jalan ini dibagi kopi dan roti,” ujar Armia, jamaah haji asal Pidie sambil menunjuk ke arah Hasan selaku pemilik sedekah. Ketika diwawancarai Serambi, Hasan membenarkan bahwa sedekah itu sengaja dia angkut dan bagi pinggir jalan untuk memuliakan tamu (peumulia jamee).
Ternyata hadih maja (pepatah) Aceh “peumulia jamee adat geutanyoe” telah lebih dahulu diamalkan secara merata oleh penduduk Arab Saudi, terutama di Makkah dan Madinah. Aceh sebagai Serambi Makkah mesti mempertahankan hadih maja yang merupakan warisan budaya itu. Tamu adalah musafir yang dalam Islam mesti diberi dibantu. Usaha-usaha menaikkan tarif atau memeras tamu mesti dihilangkan. Sebaliknya kepada tamu diberikan perlakuan ramah dan menyajikan sedekah makanan/minuman. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Hasan-Basri-M-Nur-di-Mekkah.jpg)