MENYAPA NUSANTARA

Menyerap Hasil Produksi Petani Ujung Negeri melalui Program MBG

Di ujung utara Indonesia, jauh dari hiruk-pikuk ibukota provinsi Kepulauan Riau, Kabupaten Natuna menghadapi tantangan......

Editor: IKL
ANTARA/Muhamad Nurman
Tim DKPP Natuna saat meninjau lokasi pembibitan cabai program P2B di Desa Tapau, Kecamatan Bunguran Tengah, Kepri, Kamis (28/8/2025). 

NATUNA, SERAMBINEWS.COM - Di ujung utara Indonesia, jauh dari hiruk-pikuk ibukota provinsi Kepulauan Riau, Kabupaten Natuna menghadapi tantangan berat dalam sektor pertanian.

Biaya produksi pertanian di sana tinggi, akses distribusi terbatas, dan tekanan dari masuknya bahan pangan murah dari luar wilayah membuat warga tidak berani menggantungkan hidup sebagai petani, akibatnya daerah ini tidak mampu swasembada pangan.

Namun, keadaan itu perlahan mulai berubah. Untuk pertama kalinya sejak lama, hasil bumi daerah ini berpeluang besar laku keras melalui program nasional yaitu Makan Bergizi Gratis (MBG).

Jalur distribusi hasil pertanian kini diarahkan ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang bertugas untuk memproduksi makanan yang diberikan kepada para penerima manfaat program MBG.

Saat ini dua unit SPPG sudah beroperasi. Menurut data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Natuna untuk SPPG dengan jumlah penerima manfaat lebih di atas 3.500 jiwa membutuhkan tidak kurang dari 60 kilogram sayur sehari. Permintaan untuk komoditas lain juga cukup tinggi. Inilah celah disiapkan oleh pemerintah untuk petani.

Menurut Koordinator Badan Gizi Nasional (BGN) Wilayah Kabupaten Natuna Lutshia Widi Febiana, selama ini mitra BGN kerap mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan bahan pangan karena Natuna bukan daerah penghasil utama.

Sarana dan prasarana pertanian

Selain celah itu, melalui program Pangan Pekarangan Bergizi (P2B) Kementerian Pertanian, pemerintah memberikan berbagai bantuan sarana dan prasarana pertanian ke petani.

Program P2B juga merupakan pendamping untuk mendukung implementasi MBG, dengan memberdayakan petani lokal, pekarangan rumah dan lahan pertanian yang ada dan bisa menjadi sumber bahan pangan berkualitas.

Untuk 2025, bantuan diberikan kepada 15 kelompok tani di Natuna dan telah diserahkan pada Rabu (27/8) di Desa Tapau, Kecamatan Bunguran Tengah. Melalui P2B, pemerintah memberikan bantuan berupa benih, bibit, pupuk, dan alat pertanian.

Masing-masing kelompok mendapatkan satu sachet benih tomat (5 gram), dua sachet buncis (500 gram), dua sachet jagung (250 gram), dua sachet caisim atau sawi (100 gram), dua sachet kangkung (1.000 gram), serta kacang panjang (500 gram).

Ada juga sarana pengendali organisme pengganggu tanaman (OPT), seperti 0,5 liter insektisida nabati, satu unit sprayer, serta 10 lembar perangkap likat kuning.

Pupuk NPK dengan berat 200 kilogram dan pupuk KNO 25 kilogram, juga mereka dapatkan, ditambah ratusan tanaman hortikultura dalam polybag, meliputi 270 bibit cabai rawit, 180 bibit cabai keriting, dan 60 bibit pisang, serta ratusan bibit cabai untuk masing-masing petani.

Bantuan cabai diberikan dalam bentuk bibit yang disiapkan pihak ketiga. Setelah cukup besar dan siap tanam, bibit baru diserahkan kepada masing-masing kelompok tani.

Menyasar petani aktif

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved