Rabu, 22 April 2026

Perang Gaza

Hamas Setuju Pembentukan Pemerintahan Teknokrat di Gaza

Hamas masih menunggu tanggapan Israel atas proposal yang diajukan oleh para

Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS.COM/media sosial
Pejuang kemerdekaan perlawanan Palestina dari Jenin, Tepi Barat yang diduduki, Palestina. 

SERAMBINEWS.COM - Kelompok perlawanan Palestina Hamas mengatakan telah menyetujui pembentukan pemerintahan nasional independen yang terdiri dari para teknokrat untuk menjalankan Gaza, sambil menunggu tanggapan Israel terhadap proposal yang diajukan oleh para mediator bulan lalu.

Hamas masih menunggu tanggapan Israel atas proposal yang diajukan oleh para mediator pada 18 Agustus, yang telah diterima oleh kelompok tersebut, kata Hamas dalam sebuah pernyataan.

Kelompok itu menegaskan kembali kesiapannya untuk kesepakatan komprehensif yang akan membebaskan semua tawanan Israel dengan imbalan sejumlah tahanan Palestina yang disepakati di penjara Israel.

Rencana tersebut juga mencakup diakhirinya genosida di Gaza, penarikan penuh pasukan Israel, pembukaan kembali penyeberangan untuk memungkinkan bantuan penting, dan dimulainya rekonstruksi.

Hamas mengatakan penerimaan pemerintahan teknokrat merupakan upaya untuk menjawab apa yang disebut pejabat Israel sebagai pertanyaan "hari setelahnya" tentang pemerintahan di Gaza, yang mereka kutip sebagai pembenaran untuk memperpanjang pembantaian.

Pernyataan itu muncul saat media Israel melaporkan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang menghadapi surat perintah penangkapan dari Mahkamah Kriminal Internasional, telah beralih dari upaya mencari kesepakatan parsial dan kini menuntut kesepakatan komprehensif.

Presiden AS Donald Trump juga mengatakan pada hari Rabu bahwa "semua tentara Israel yang ditahan di Gaza harus dibebaskan."

Hamas dan Fatah sebelumnya sepakat dalam pembicaraan di Kairo Desember lalu untuk membentuk sebuah komite untuk mengelola urusan Gaza, tetapi Otoritas Palestina menolak pengaturan tersebut, bersikeras harus memikul tanggung jawab untuk mengatur wilayah tersebut.

Pembantaian di Gaza telah meninggalkan sebagian besar wilayah kantong itu dalam reruntuhan.

Hampir dua tahun serangan Israel telah menewaskan lebih dari 63.000 warga Palestina, membuat sebagian besar penduduk mengungsi, dan mendorong daerah kantong itu ke ambang kelaparan.

Hamas mengatakan pihaknya tetap berkomitmen pada "administrasi teknokrat nasional yang independen" untuk segera mengambil tanggung jawab di semua sektor pemerintahan.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved