KUPI BEUNGOH
Ketika Aceh Merasa tidak dicintai lagi, Apa yang seharusnya dilakukan?
Aceh kembali banjir dan longsor. Dan seperti biasa, yang pertama datang bukan listrik, bukan jalan, bukan logistik.
Oleh Mustafa Husen Woyla*)
Aceh kembali banjir dan longsor. Dan seperti biasa, yang pertama datang bukan listrik, bukan jalan, bukan logistik.
Yang pertama datang adalah rilis dan pidato pejabat berwenang bilang hutan tidak ada yang gundul, listrik sudah 93 bahkan ada 100 persen menyala.
Bencana Aceh - Sumatera hanya parah di medsos dan sejumlah pertanyaan kantoran bukan di lapangan.
Dan juga pejabat berbicara tentang keprihatinan. Tentang koordinasi. Tentang penanganan bertahap.
Kata-kata itu mengalir lebih lancar daripada listrik yang tak kunjung menyala. Lebih mulus daripada jalan yang putus. Lebih cepat daripada bantuan yang tersendat.
Sudah lebih dari setengah bulan sejak bencana.
Listrik belum juga pulih.
Internet ada lalu tiada.
Gas langka.
Akses darat Banda Aceh - Medan masih terputus di Kutablang.
Itu belum bicara tentang kompensasi yang sangat minim berbanding dengan negara tetangga. Karena belasan juta 'harga' nyawa, kita tidak hitung lagi kerugian warga yang isi rumah dan tokonya ludes dibawa banjir.
Mestinya itu masuk dalam daftar kompensasi. Tapi ya sudahlah karena nyawa saja segitu, tak jadi diusul yang lain. Padahal, kata kawanku, banjir ini sejati diundang oleh kebijakan bukan semata dari Tuhan.
Ada sebentar yang mesti diganti rugi, menyita waktu akibat antrian Gas, BBM, mobil pribadi dan mopen serta lainnya. Ohya, mobil industri kok gak antri ya?
Juga agak lain rasanya seiring bencana belum ditangani secara maksimal dan sebagian pendapat pakar karena penebangan liar dan tambang, eh tiba-tiba presiden yang nasionalis dan patriot kebanggaan kita menyumbangkan 16 triliun ke Brazil untuk perlindungan hutan disana. Perih Jenderaaal...!
Ini bukan metafora. Ini fakta lapangan
Ke Takengon keadaannya lebih memilukan. Dari Bireuen saja, enam jembatan hancur. Sampai minggu ini, belum satu pun selesai diperbaiki.
Jembatan darurat Bailey di Teupin Mane, yang merupakan akses pertama dari Bireuen ke Bener Meriah dan Takengon, baru direncanakan bisa dilalui Senin besok.
Direncanakan.
Kata yang terdengar ringan bagi yang mengucapkannya,
dan terdengar seperti vonis bagi yang menunggu.
Dan itu pun belum selesai. Setelah jembatan darurat tersebut dapat dilalui, masih ada lima jembatan rusak lagi sebelum mencapai Takengon. Jalur alternatif dari arah lain juga sama parahnya. Longsor, tergerus, dan nyaris tak bisa dilewati.
| Hegemoni Energi AS dan Dilema China di Balik Penangkapan Maduro dan Serangan ke Iran |
|
|---|
| Membaca Strategi Pakistan Sebagai Mediator yang Lahir di Tengah Badai Krisis |
|
|---|
| Carut Marut Kabel Optik dan Wajah Kota Banda Aceh |
|
|---|
| Merindukan Calon Rektor UIN Ar-Raniry Bervisi Internasional |
|
|---|
| Regulasi Emosi: Mencegah Pelampiasan Stres Rumah Sakit ke Dalam Rumah Tangga |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Mustafa-Husen-Woyla-2025.jpg)