Pojok Humam Hamid
Indonesia di Era “Donroe”: Ujian Kapasitas Negara di Tengah Ambruknya Multilateralisme
Era ‘Donroe’ muncul: kebijakan agresif Amerika bikin multilateralisme goyah, Indonesia harus siap menghadapi dampak ekonomi global.
Oleh: Ahmad Humam Hamid
Dunia sedang berubah dengan cepat, dan perubahan itu tidak selalu membawa kabar baik. Salah satu pemicunya adalah kembalinya Donald Trump ke panggung politik Amerika Serikat dengan gaya lama yang lebih keras.
Sejak awal, banyak pengamat internasional sudah mengingatkan bahwa kebijakan Trump jilid II tidak akan ramah bagi negara-negara lain.
Edward Luce dari Financial Times menyebut kebijakan Trump bersifat transaksional dan sepihak - semua diukur dari untung dan rugi bagi Amerika.
Fareed Zakaria dari The Washington Post melihat slogan “America First” sebagai tanda bahwa Amerika tidak lagi mau repot mengurus kepentingan bersama dunia.
Ian Bremmer dari Eurasia Group bahkan mengatakan bahwa sikap Trump yang agresif dan sering berubah-ubah bisa membuat ekonomi dunia makin tidak stabil.
Semua peringatan ini penting bagi Indonesia, karena dampaknya terasa langsung ke kehidupan sehari-hari masyarakat.
Baca juga: Bencana Aceh Sumbar Disorot Menlu Sugiono, Tegaskan Tugas Negara Lindungi Rakyat di Situasi Apa Pun
“Donroe”: Adaptasi Doktrin Monroe di Era Trump
Fenomena ini sering disebut dengan istilah “Donroe”. Istilah ini berangkat dari sejarah lama Amerika Serikat. Pada awal abad ke-19, Presiden James Monroe memperkenalkan Doktrin Monroe.
Isinya sederhana: benua Amerika adalah wilayah kepentingan Amerika - dan negara-negara Eropa tidak boleh ikut campur.
Doktrin ini dulu dimaksudkan untuk melindungi kawasan Amerika dari campur tangan asing. Namun, di saat yang sama, doktrin ini juga menegaskan bahwa Amerika bebas bertindak demi kepentingannya sendiri.
Dua ratus tahun kemudian, semangat ini muncul kembali lewat Donald Trump.
“Donroe” menggambarkan cara Trump mengadaptasi Doktrin Monroe secara jauh lebih keras: Amerika harus selalu di depan, aturan internasional tidak dianggap penting, dan kerja sama global hanya dilakukan jika langsung menguntungkan Amerika.
Dalam versi ini, Amerika tidak lagi ingin menjadi penjaga ketertiban dunia - tetapi hanya fokus pada dirinya sendiri.
Baca juga: Warga Amerika Diperingatkan Segera Tinggalkan Iran, Trump Merencanakan Serangan Udara
Multilateralisme Goyah, Indonesia Merasa Tekanan
Perubahan sikap Amerika ini membuat sistem kerja sama global - atau multilateralisme - mulai goyah. Selama puluhan tahun, kerja sama antarnegara lewat lembaga internasional membantu menjaga stabilitas ekonomi dunia.
Perdagangan berjalan dengan aturan yang jelas, pasar keuangan relatif tenang, dan negara berkembang seperti Indonesia punya ruang untuk tumbuh.
Serambi Indonesia
pojok humam hamid
Ahmad Humam Hamid
artikel humam hamid
Humam Hamid
Prof Humam Hamid
Amerika Serikat
ekonomi
Donald Trump
Donroe
| Menjelang 20 Bulan Prabowo Berkuasa: Apa Beda Sumitronomics dan Prabowonomics? |
|
|---|
| Revisi Narasi Sejarah Aceh dari Hanya Perang dan Ulama: Saudagar Habib Bugak |
|
|---|
| Qurban Sosial: Mampukah Aceh Melepaskan Hambatan Kemajuan |
|
|---|
| Membaca Indonesia Hari Ini: Chairul Tanjung, Purbaya, dan Presiden Prabowo |
|
|---|
| Dolar Naik: Neraca Untung-Rugi Masyarakat Kawasan Pedesaan Kita |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Humam-Hamid-Whoosh.jpg)