Jumat, 1 Mei 2026

Kupi Beungoh

Saat Stigma Kesehatan Mental Membungkam Remaja di Aceh

Mereka bukan tidak punya masalah, melainkan takut akan dicap “lemah”, “kurang iman”, atau hanya dianggap mencari perhatian...

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Eddy Fitriadi
Serambinews.com/HO
ZAFIRA - Ns. Zafira Nabilah, S.Kep, Perawat RS Harapan Bunda dan Manajer Publikasi dan Pemberitaan GEN-A. 

Oleh Ns. Zafira Nabilah, S.Kep
(Perawat RS Harapan Bunda dan Manajer Publikasi dan Pemberitaan GEN-A)

SERAMBINEWS.COM - Sebagai seorang perawat, saya sering menemukan remaja yang sebenarnya ingin bercerita, tetapi lebih memilih diam. Mereka bukan tidak punya masalah, melainkan takut akan dicap “lemah”, “kurang iman”, atau hanya dianggap mencari perhatian ketika mereka mencoba bercerita tentang kecemasan, stres, atau tekanan yang dialami.

Akibatnya, mereka memilih memendam masalah sendirian, padahal dukungan dan penanganan sejak dini sangat penting untuk mencegah dampak yang lebih berat. Inilah dampak nyata dari stigma kesehatan mental yang masih kuat di Masyarakat Aceh.

Padahal Data nasional menunjukkan bahwa sekitar 1 dari 3 remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental dalam satu tahun terakhir. Jumlah ini setara dengan sekitar 15,5 juta remaja. Bahkan sekitar 5,5 persen remaja mengalami gangguan mental yang terdiagnosis seperti kecemasan dan depresi.

Selain itu, penelitian lain menemukan bahwa sekitar 30 persen remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, dan angka ini terus meningkat setiap tahunnya. Yang lebih memprihatinkan, hanya sekitar 2–3 persen remaja yang benar-benar mencari bantuan profesional. Salah satu penyebab utamanya adalah stigma dan rasa takut dihakimi oleh lingkungannya. Artinya, banyak remaja sebenarnya sedang berjuang sendirian.

Di lingkungan masyarakat, termasuk di Aceh, stigma sering muncul dalam bentuk kalimat seperti “jangan lebay”, “itu cuma kurang ibadah”, atau “anak muda sekarang terlalu manja”. Kalimat seperti ini mungkin terdengar sepele, tetapi bagi remaja, hal itu bisa menjadi tembok besar yang membuat mereka enggan berbicara.

Stigma ini memiliki dampak yang sangat serius. Ketika remaja merasa takut dihakimi, mereka cenderung memilih untuk diam dan memendam masalah. Banyak dari mereka tidak berani bercerita kepada orang tua, guru, bahkan teman terdekat karena khawatir dianggap berlebihan atau tidak normal. Situasi ini menciptakan lingkaran yang berbahaya: semakin besar masalah yang dipendam, semakin berat beban yang dirasakan.

Tanpa dukungan yang tepat, kondisi ini dapat berkembang menjadi stres kronis, kecemasan berat, penurunan motivasi belajar, hingga menarik diri dari lingkungan sosial. 

Selain itu, stigma juga memengaruhi akses remaja terhadap bantuan profesional. Banyak remaja sebenarnya ingin mencari pertolongan, tetapi takut dianggap “orang sakit jiwa” jika berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mental.

Di beberapa keluarga, masih ada anggapan bahwa masalah mental cukup diselesaikan dengan nasihat, teguran, atau sekadar menyuruh remaja untuk lebih sabar. Padahal, kesehatan mental sama seperti kesehatan fisik yang membutuhkan perhatian, perawatan, dan penanganan yang tepat.

Masalah stigma tidak hanya berasal dari kurangnya pengetahuan, tetapi juga dari budaya komunikasi yang belum terbuka terhadap pembahasan emosi. Dalam banyak situasi, remaja tidak terbiasa diajarkan untuk mengenali dan mengekspresikan perasaan mereka secara sehat. Mereka sering diminta untuk “kuat” tanpa diajarkan cara menghadapi tekanan.

Akibatnya, ketika menghadapi masalah, mereka merasa bingung, kesepian, dan tidak memiliki ruang aman untuk berbicara. Padahal, dampaknya sangat nyata. Remaja yang tidak memiliki tempat aman untuk bercerita lebih berisiko mengalami stres berkepanjangan, kecemasan, bahkan depresi.

Data juga menunjukkan bahwa gangguan kecemasan merupakan masalah paling banyak dialami remaja, mencapai lebih dari 26 % yang disurvei. 

Sebagai perawat, saya percaya solusi utama adalah mengubah cara kita memandang kesehatan mental. Kita perlu menciptakan lingkungan yang aman, penuh empati, dan tidak menghakimi. Orang tua, guru, dan masyarakat harus belajar mendengarkan, bukan langsung menyalahkan.

Edukasi kesehatan mental juga harus diperkuat di sekolah dan komunitas remaja. Remaja perlu tahu bahwa mencari bantuan bukan tanda kelemahan, tetapi bentuk keberanian dan kepedulian terhadap diri sendiri.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved