Kamis, 9 April 2026

KUPI BEUNGOH

Perang dan Damai : Bagian 1

Perang kontemporer hanya berubah bentuk menjadi lebih kompleks dan lebih mematikan menuju kepunahan manusia.

Editor: Faisal Zamzami
Serambinews.com/HO
Yunidar Z.A 

Oleh: Yunidar Z.A *)

Sejak berakhirnya Perang Dunia II, dunia berharap memasuki era baru tanpa perang besar. Tragedi bom atom di Hiroshima dan Nagasaki menjadi pelajaran pahit tentang kehancuran total yang dapat ditimbulkan oleh konflik bersenjata, bahkan yang hidup lebih menderita dan iri kepada yang telah mati duluan.

Harapan itu kemudian diwujudkan melalui pembentukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sebagai penjaga perdamaian dunia. Celakanya, realitas menunjukkan bahwa perang tidak pernah benar-benar berakhir, konon dalam hikayat masa lalu sudah ditulis kalau mau melenyapkan perang, lenyapkanlah manusia. Perang kontemporer hanya berubah bentuk menjadi lebih kompleks dan lebih mematikan menuju kepunahan manusia.

Kebijkan ugal – ugalan Netanyahu dan Donald Trump dalam menyerang Iran, membuktikan bahwa perang agresi Amerika Serikat, Israel ke Iran telah menimbulkan korban kemanusiaan yang sangat besar.

Data pemberitaan menunjukkan lebih dari 3.000 (tiga ribu) orang tewas hanya dalam waktu singkat, Bahkan satu lokasi di Iran, serangan Amerika - Israel terhadap sekolah dasar menyebabkan tragedia kemanusiaan lebih dari 165 anak dan staf para pendidik meninggal dunia dalam sekejap.

Lebih jauh lagi, data lain menunjukkan bahwa konflik kekerasan ini tidak hanya memakan korban jiwa, tetapi juga menghancurkan kehidupan sosial masyarakat. Tercatat lebih dari 9.600 fasilitas sipil hancur, termasuk rumah tinggal, pusat kesehatan, sekolah, dan fasilitas ekonomi masyarakat. Ini berarti perang tidak hanya membunuh manusia. Tapi, juga menghancurkan masa depan generasi yang selamat.

Jika ditarik lebih luas, pola kehancuran ini bukan hal baru. Dalam konflik sebelumnya di Gaza, korban jiwa diperkirakan mencapai 100.000 hingga 126.000 orang, dengan sekitar 27 persen di antaranya adalah anak-anak dan kaum rentan, masyarakat sipil yang tidak ikutan perang.

Selain itu, sebagian besar infrastruktur dasar juga dibombardir seperti rumah, sekolah, perkantoran dan rumah sakit mengalami kerusakan masif. Hal ini menunjukkan bahwa korban utama perang modern bukan lagi tentara, melainkan masyarakat sipil.

Perang kontemporer juga membawa dampak serius terhadap lingkungan dan ekonomi global. Kawasan strategis seperti Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20 juta barel minyak per hari (sekitar 25 % perdagangan minyak dunia) berada dalam ancaman jika konflik terus berlanjut.

Gangguan terhadap jalur pasok energi dunia ini dapat memicu krisis energi global, kenaikan harga minyak, inflasi, dan akan menciptakan masalah baru, kemiskinan di berbagai negara, termasuk negara berkembang dan negara terbelakang seperti di kawasan Asia Tenggara.

Selain itu, kerugian material militer juga sangat besar. Agresi Amerika – Israel ke Iran diperkirakan kerusakan aset militer Amerika Serikat saja mencapai USD 1,9 miliar, termasuk sistem radar dan pesawat tempur. Namun angka ini masih belum sebanding dengan kerugian sosial yang tidak dapat dihitung, korban jiwa, trauma, rasa sakit, luka, duka, kehilangan keluarga, dan kehancuran komunitas peradaban manusia.

Jika dibandingkan dengan bencana alam, dampak perang sering kali lebih sistematis dan berkelanjutan. Sebagai contoh, bencana banjir besar di Sumatra tahun 2025 menewaskan sekitar 969 orang dan memaksa lebih dari 1 juta orang mengungsi. Angka ini sangat besar, namun perang dalam waktu singkat dapat melampaui jumlah tersebut dan berlangsung jauh lebih lama, dengan dampak yang lebih kompleks dan sulit dipulihkan.

Inilah yang disebut sebagai perang total, perang yang tidak hanya menghancurkan peserta yang ikut perang (tentara), namuan juga menghancurkan manusia, lingkungan, ekologi, ekonomi, dan masa depan peradaban dunia.

Perang tidak lagi memiliki batas moral yang jelas. Sekolah, rumah sakit, pusat pemerintahan dan pemukiman sipil yang dahulu dilindungi kini menjadi sasaran. Teknologi modern justru mempercepat proses kehancuran, memungkinkan serangan dilakukan dari jarak jauh tanpa melihat langsung penderitaan korban.

Di sisi lain, media global (jaringan perang) sering kali membingkai perang sebagai tontonan strategis, publikasi jumlah rudal, kecanggihan senjata, dan kemenangan militer. Namun di balik itu, ada realitas yang jarang ditampilkan yaitu para korban, anak-anak yang kehilangan orang tua, masa depan, kematian saudara, hancurnya kehidupan, mata pencaharian, masyarakat yang kehilangan rumah, dan generasi yang tumbuh dalam trauma skala dukka berat.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved