Jumat, 5 Juni 2026

KUPI BEUNGOH

Perang dan Damai : Bagian 1

Perang kontemporer hanya berubah bentuk menjadi lebih kompleks dan lebih mematikan menuju kepunahan manusia.

Tayang:
Editor: Faisal Zamzami
Serambinews.com/HO
Yunidar Z.A 

Gairah perang lebih besar untuk didiskusikan, para pengamat dari para pihak berlawanan juga menjagokan jagoannya seolah – olah tidak mau ketinggalan berita, serangan-serangan yang mematikan, propaganda para pihak dan menghancurkan ruang publik, sekolah, rumah sakit, pasar, perkantoran, sumber-sumber kehidupan dan masa depan. Menjadi hal yang biasa saja. Kadang-kadang kita merasakan apakah soal perdamaian ini hanya obsesi baru yang membuat orang latah di seluruh dunia. 

Bagaimana membuat orang yakin bahwa perdamaian itu penting. Bayangkan penderitaaan korban perang akibat bom atom, korban Hiroshima dan Nagasaki yang tidak segera mati. Orang - orang dengan kulit terkelupas berjalan kian kemari tidak tentu arah sambil berteriak menanggil nama-nama saudaranya dan meminta air minum karena panas, dalam keadaan setengah gila mereka mual dan muntah-muntah serta rambut rontok karena radiasi, yang hidup lama menderita kangker  dan cacat seumur hidup juga keturunanya. 

Perang sebelum kemerdekaan dahulu di Indonesia juga penuh penderitaan yang kadang jarang diceritakan, seperti yang dirasakan penderitaan romusa, beribu orang mengindap busung lapar, berkudis, berkurap, berpakaian goni dan disisksa oleh Kenpeitai, diasing ke wilayah lain, banyak yang tidak dikehui kemana lenyapnya, termasuk para pejuang Aceh yang diasingkan ke Batavia, Jawa, Banten, Seumeudang Jawa Barat. Jangan lupa juga perang di Vietnam dengan korban-korban bom napalm dan herbisida, sampai sekarang anak-anak cacat masih dilahirkan, baik di Vietnam maupun di Amerika Serikat.

Oleh karena itu, upaya mengakhiri perang tidak dapat hanya mengandalkan kekuatan militer atau keseimbangan kekuatan (balance of power). Perdamaian harus dibangun melalui kesadaran global bahwa perang adalah kerugian bersama (loss for all). Tidak ada pihak yang benar-benar menang. Bahkan negara yang tidak terlibat langsung pun akan terkena dampaknya melalui krisis ekonomi, energi, dan kemanusiaan.

Peran Perserikatan Bangsa-Bangsa menjadi sangat penting, namun tidak cukup tanpa komitmen nyata dari negara-negara besar. Selain itu, masyarakat dunia juga memiliki tanggung jawab moral untuk tidak diam terhadap penderitaan yang terjadi.

Pada akhirnya, perdamaian bukanlah sekadar idealisme. Tapi, kebutuhan nyata bagi keberlangsungan masa depan kehidupan manusia. Jika perang terus dibiarkan, maka yang hancur bukan hanya satu negara atau satu kawasan, namun masa depan peradaban manusia secara keseluruhan.

Apa yang dapat dilakukan untuk menghentikan perang. Mempromosikan pentingnya perdamaian, pendidikan perdamaian, mempublikasikan dampak akibat perang yang menghancurkan tempat tinggal, kematian, penderitaan yang hidup terkena bom, senjata api, ranjau, komunitas hilang, ketakutan, tidak adanya rasa aman, rasa sakit akibat kekerasan, trauma berkepanjangan, dan harcurnya peradaban manusia,

Perang total hanya akan menghasilkan kehancuran total. Sebaliknya, perdamaian adalah satu-satunya jalan menuju keberlanjutan, keadilan, dan kemanusiaan melanggengkan peradaban Civilized.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis..

Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI

 

 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved