Rabu, 22 April 2026

Kupi Beungoh

Krisis di Darat, Rezeki di Laut: Paradoks Ekonomi Indonesia di Era El Nino

Dalam skenario ekstrem, penurunan produksi bahkan dapat mencapai 1 hingga 3 persen secara nasional, dengan potensi kehilangan hingga 1,2 juta ton.

Editor: Agus Ramadhan
Serambinews.com/HO
Yohandes Rabiqy 

*) Oleh: Yohandes Rabiqy 

INDONESIA hari ini tidak sekadar menghadapi anomali cuaca, melainkan benturan simultan antara El Niño, Indian Ocean Dipole positif, dan penguatan Upwelling di perairan selatan.

Kombinasi ini menciptakan apa yang secara ekonomi dapat disebut sebagai shock struktural, karena tidak hanya menurunkan output, tetapi juga mengubah keseimbangan antar sektor.

Di satu sisi, sektor agraria mengalami tekanan akibat kekeringan yang semakin dalam dan tidak lagi bersifat linear, sementara di sisi lain sektor perikanan justru memperoleh dorongan produktivitas dari meningkatnya nutrisi laut akibat upwelling.

Dengan kata lain, Indonesia tidak sedang menghadapi satu jenis krisis, melainkan dua dinamika ekonomi yang berjalan berlawanan secara simultan.

Data menunjukkan bahwa dampak di sektor pertanian bukan sekadar spekulasi. Produksi beras Indonesia pada 2023 turun sekitar 2,05 persen atau setara dengan sekitar 645 ribu ton, dan tren penurunan ini berlanjut pada 2024 dengan kontraksi sekitar 1,5 persen.

Dalam skenario ekstrem, penurunan produksi bahkan dapat mencapai 1 hingga 3 persen secara nasional, dengan potensi kehilangan hingga 1,2 juta ton.

Dalam sistem pangan yang permintaannya relatif tidak elastis, penurunan produksi dalam skala ini cukup untuk menciptakan tekanan harga yang signifikan. 

Tidak mengherankan jika harga beras mengalami kenaikan tajam, dari sekitar Rp12.800 per kilogram menjadi sekitar Rp15.000 per kilogram dalam satu tahun, bahkan secara kumulatif meningkat lebih dari 20 persen sejak 2023.

Konsekuensinya adalah inflasi pangan yang langsung menekan daya beli masyarakat, terutama kelompok berpendapatan rendah.

Namun pada saat yang sama, dinamika yang berbeda terjadi di laut. Penguatan angin timur selama El Niño mempercepat proses upwelling, yaitu naiknya air laut dalam yang kaya nutrisi ke permukaan.

Hal ini meningkatkan produktivitas primer laut yang ditandai dengan kenaikan klorofil dan aktivitas fitoplankton, yang pada gilirannya meningkatkan populasi ikan pelagis seperti tuna dan cakalang.

Secara ekonomi, kondisi ini menciptakan peluang peningkatan hasil tangkapan dan pendapatan bagi nelayan di wilayah tertentu.

Artinya, ketika daratan mengalami tekanan produksi, sebagian wilayah pesisir justru mengalami peningkatan aktivitas ekonomi.

Masalahnya terletak pada ketidakseimbangan antara kedua efek tersebut.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved