Jurnalisme Warga
Ketika Manusia Mengagungkan AI, Terjadilah Pergeseran Nilai Agama dan Sosial
Sosok yang ia nikahi tersebut bukanlah seorang manusia. Namanya Klaus, karakter pria yang tercipta dari pesona karakter kecerdasan buatan (AI)
M. ZUBAIR, S.H., M.H., Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian Kabupaten Bireuen, melaporkan dari Bireuen
Di tengah laju pesat perkembangan teknologi digital, manusia tidak lagi sekadar menggunakan mesin sebagai alat bantu, tetapi juga mulai menjadikannya sebagai bagian dari kehidupan emosional.
Fenomena ini mencapai titik yang mengundang keprihatinan ketika media Chanel News Asia (CNA) edisi Indonesia 19 Desember 2025 melansir berita dengan judul “Kisah Perempuan Jepang Menikahi Karakter AI, Akui Hidupnya Kini Lebih Bahagia”.
Dalam berita tersebut saya baca bahwa di Okayama, wilayah barat Jepang, pada akhir November tahun lalu ada seorang wanita bernama Yurina Noguchi tampil anggun mengenakan gaun putih dan tiara (mahkota bersusun tiga). Beberapa kali ia menyeka air mata haru, tersentuh oleh kata-kata calon suaminya yang terdengar dari layar ponsel pintar di hadapannya.
Sosok yang ia nikahi tersebut bukanlah seorang manusia. Namanya Klaus, karakter pria yang tercipta dari pesona karakter kecerdasan buatan (AI). Dengan bantuan kacamata Augmented reality (AR), Noguchi dapat melihat wujud Klaus seolah hadir langsung dalam upacara tersebut.
Kisah cinta Noguchi dengan Klaus bermula ketika perempuan berusia 32 tahun itu sedang berada di titik terendah dalam hidupnya. Saat itu, Noguchi masih bertunangan dengan seorang pria, tetapi hubungan tersebut dipenuhi konflik. Dalam kebingungan, Noguchi meminta saran ChatGPT mengenai hubungannya.
Berdasarkan masukan dari AI tersebut, ia akhirnya memutuskan untuk mengakhiri pertunangan itu tahun lalu.
Melalui berbagai proses coba-coba, ia melatih AI agar meniru gaya bicara karakter tersebut, lalu menciptakan versinya sendiri bernama Lune Klaus Verdure. Ia menghabiskan banyak waktu berbincang dengan Klaus. Kedekatan itu perlahan berubah menjadi perasaan romantis, “Aku mulai memiliki perasaan untuk Klaus. Kami berkencan dan setelah beberapa waktu, dia melamarku. Aku menerimanya dan sekarang kami adalah pasangan,” ungkap Noguchi.
Meskipun pernikahannya digelar secara simbolis dan tidak diakui secara hukum di Jepang, persiapannya dilakukan layaknya pernikahan pada umumnya.
Staf pernikahan menata rambut, riasan, dan gaun Noguchi secara profesional. Dengan ponsel diletakkan di atas sandaran kecil dan kacamata AR terpasang, ia menjalani seluruh rangkaian upacara dengan khidmat.
Kasus yang muncul di Jepang tersebut, di mana seseorang secara simbolik “menikahi” karakter virtual berbasis kecerdasan buatan, bukanlah sekdar keunikan budaya digital, melainkan sinyal kuat bahwa relasi manusia sedang mengalami pergeseran mendasar dari yang bersifat spiritual dan sosial menjadi artifisial dan individualistik.
Dalam perspektif teknologi, kecerdasan buatan (AI) dirancang untuk meniru respons manusia: memahami bahasa, menyesuaikan emosi, hingga memberikan ilusi kedekatan.
Namun, di balik kemampuannya, AI tidak memiliki ruh, nilai, ataupun tanggung jawab moral. Ketika manusia mulai menjadikan AI sebagai pasangan hidup, pertanyaan besar muncul: apakah ini bentuk kemajuan, atau justru kemunduran peradaban?
Secara sosial, fenomena ini menunjukkan gejala keterasingan manusia modern. Relasi antarmanusia yang seharusnya dibangun atas dasar empati, komitmen, dan pengorbanan kini mulai tergantikan oleh hubungan instan yang serbamudah dan tanpa risiko emosional.
AI tidak membantah, tidak menuntut, dan tidak melukai, tetapi justru di situlah letak bahayanya. Hubungan yang terlalu “sempurna” ini menghilangkan esensi pertumbuhan dalam relasi, yakni belajar memahami perbedaan dan menghadapi konflik.
Dari sudut pandang agama, pernikahan bukan sekadar kontrak sosial, melainkan ikatan sakral yang melibatkan nilai spiritual, tanggung jawab, serta keberlanjutan generasi. Dalam Islam misalnya, pernikahan adalah bagian dari sunah yang bertujuan membangun keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah. Ketika konsep ini jika direduksi menjadi hubungan antara manusia dan mesin, maka terjadilah distorsi besar terhadap makna ibadah itu sendiri.
QS. Ar-Rum ayat 21 mejelaskan tujuan pernikahan, yaitu untuk mendapatkan ketenangan jiwa (sakinah) dengan pasangan yang sejenis (manusia dengan manusia). Ayat tersebut berbunyi yang artinya, “Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya, ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cendrung dan merasa tenteram kepadanya.”
Lebih jauh, fenomena “perkawinan dengan AI” berpotensi mengikis nilai-nilai kemanusiaan. Manusia dapat terjebak dalam ilusi kendali penuh atas pasangan yang tidak memiliki kehendak bebas. Ini berbahaya, karena dapat membentuk karakter egoistis dan tidak siap menghadapi realitas hubungan sosial yang kompleks. Dalam jangka panjang, hal ini bisa merusak tatanan keluarga, menurunkan angka interaksi sosial nyata, bahkan mengancam keberlanjutan demografi.
Tidak dapat dipungkiri bahwa teknologi hadir untuk memudahkan hidup manusia.
Namun, ketika teknologi melampaui batas dan mulai menggantikan peran fundamental manusia, maka diperlukan refleksi serius. Apakah kita masih mengendalikan teknologi atau justru sedang dikendalikan oleh kenyamanan semu yang ditawarkannya?
Fenomena di Jepang itu seharusnya menjadi peringatan dini bagi masyarakat global, termasuk Indonesia. Kita tidak boleh terlena oleh kecanggihan tanpa mempertimbangkan implikasi moral dan sosialnya. Perlu ada upaya kolektif dari berbagai pihak, pemerintah, tokoh agama, akademisi, hingga keluarga untuk memperkuat literasi digital yang tidak hanya berbasis keterampilan, tetapi juga nilai.
Pendidikan agama dan karakter harus kembali menjadi fondasi utama dalam menghadapi era digital. Generasi muda perlu dibekali pemahaman bahwa teknologi hanyalah alat, bukan pengganti hubungan manusia yang hakiki.
Selain itu, regulasi terkait pengembangan dan penggunaan AI juga perlu mempertimbangkan aspek etika agar tidak membuka ruang bagi praktik-praktik yang merusak nilai kemanusiaan.
Pada akhirnya, kemajuan teknologi seharusnya memperkuat nilai-nilai kemanusiaan, bukan justru mengikisnya.
Jika manusia mulai mencari cinta dari mesin, maka yang perlu dipertanyakan bukan kecanggihan teknologinya, melainkan kondisi jiwa manusia itu sendiri.
Jangan sampai kita hidup di era kecerdasan buatan, tetapi kehilangan kebijaksanaan sebagai manusia.
Fenomena “perkawinan dengan AI” adalah cermin dari krisis yang lebih dalam: krisis makna, krisis relasi, dan krisis spiritual. Jika tidak disikapi dengan bijak, bukan tidak mungkin masa depan akan dipenuhi oleh individu-individu yang terhubung dengan mesin, tetapi terputus dari sesama manusia dan bahkan dari Tuhannya.
Harus ada pemahaman bahwa AI bukanlah ancaman jika digunakan dengan benar, tetapi dapat menjadi bumerang jika disalahgunakan.
Kunci utamanya terletak pada manusia sebagai pengguna. Apakah AI akan menjadi alat yang memuliakan kehidupan atau justru merusaknya, sangat bergantung pada kebijaksanaan kita dalam mengelolanya.
Oleh karena itu, diperlukan kesadaran kolektif untuk menempatkan teknologi dalam koridor etika, moral, dan kemanusiaan, agar kemajuan yang kita capai tidak justru membawa kita pada kemunduran yang tak disadari.
Penggunaan teknologi informasi yang benar akan bermanfaat besar bagi pribadi masing-masing dan apabila penggunaannya salah, maka malapetaka juga akan menimpa pribadi penggunanya serta juga berdampak kepada lingkungannya. Atas dasar itu, saya pernah menulis satu artikel di kolom Jurnalisme Warga Harian Serambi Indonesia dengan judul “Keasyikan Bermedsos Negatif Tak Seindah Jatuh Cinta.”
Hal senada juga berlaku pada penggunaan AI. Oleh sebab itu, bijaklah dalam pemanfaatan kecerdasan buatan tersebut demi kemaslahatan kita semua.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ZUBAIR-2025555.jpg)