Jurnalisme Warga
Layar yang Mengubungkan Kita
Pada malam yang dingin di Temas River Park, Aceh Tengah, 13–15 Februari lalu, sebuah pemandangan tak biasa tersaji di tepi arung jeram
NAZIRAH, Siswa Kelas X SMAN 7 Lhokseumawe, melaporkan dari Takengon, Aceh Tengah
Pada malam yang dingin di Temas River Park, Aceh Tengah, 13–15 Februari lalu, sebuah pemandangan tak biasa tersaji di tepi arung jeram.
Di antara suara jangkrik, angin pegunungan, dan gemuruh air, para peserta duduk bersila di atas tikar plastik, menatap sebuah layar putih besar yang berdiri tegak di ruang terbuka. Bukan gedung megah, bukan kursi empuk, bukan pendingin ruangan. Inilah Kemah Budaya Film Aceh, sebuah ruang alternatif di mana film kembali pada akarnya sebagai medium bercerita, sebagai jendela memandang diri sendiri.
Saya bersama Cut Indah didampingi Ibu Sri Mulyani mewakili SMAN 7 Lhokseumawe, datang ke lokasi dengan mobil yang telah disediakan panitia. Ternyata kami satu-satunya perwakilan jenjang SMA di antara peserta dari perguruan tinggi yang ikut kegiatan ini. Tentu suatu kebanggaan bagi kami bergabung bersama mereka dalam kemah budaya film ini.
Begitu memarkirkan kendaraan dan bergabung dengan peserta lain, suasana hangat terasa langsung mengalir. Para peserta duduk santai, sebagian sambil bercanda, sebagian lagi antusias mempersiapkan kamera kecil mereka untuk merekam suasana.
Sebagai anak muda yang terbiasa menonton Netflix di ponsel, pengalaman menonton film bersama di alam terbuka ini terasa “pecah” dan sangat berbeda.
Ada rasa kebersamaan yang tidak pernah saya temukan saat menonton sendirian di kamar.
Aceh tanpa bioskop, tetapi penuh cerita. Kita tahu, Aceh masih belum memiliki bioskop komersial. Bagi kami, anak sekolah, sering menonton film berarti menonton produksi luar negeri, mulai dari drama Korea hingga film aksi Hollywood, yang membuat kita lupa bahwa sebenarnya kita juga punya cerita yang tak kalah menarik.
Namun, setelah mengikuti kemah budaya film ini, pandangan saya berubah. Saya melihat dengan mata kepala sendiri bahwa sineas Aceh telah merekam banyak hal. Mulai dari keseharian masyarakat desa, kenangan masa konflik, dunia kopi Gayo, bahkan kisah-kisah personal yang tak pernah mendapat ruang di media besar. Mereka bercerita apa adanya, menggunakan bahasa yang dekat dengan kita. Lalu terbersit pertanyaan, mengapa kita harus jauh-jauh ke luar untuk mencari tontonan, jika kisah tentang rumah sendiri lebih menyentuh?
Film yang mengingatkan
Salah satu film dokumenter yang diputar di acara tersebut mengisahkan perjalanan hidup sutradaranya pada masa konflik Aceh. Suasana hening tiba-tiba menyelimuti peserta. Saya melihat orang di sebelah saya mengusap matanya. Mereka yang tadinya mengobrol mendadak diam. Film itu bukan sekadar tontonan, ia bekerja sebagai ruang ingatan, alat penyembuhan, dan penghubung rasa antargenerasi.
Momen itu membuat saya sadar bahwa film memiliki kekuatan luar biasa. Ia mengajar kita memahami pengalaman hidup orang lain tanpa harus menjelaskan panjang lebar. Bagi siswa seperti saya, film adalah cara belajar yang jauh lebih menarik ketimbang menghafal halaman buku sejarah.
Sayangnya, ruang-ruang seperti kemah budaya film masih jarang hadir di Aceh. Padahal, kita membutuhkannya, bukan hanya sebagai hiburan, tetapi sebagai metode pembelajaran yang lebih variatif dan kontekstual.
Infrastruktur dan stigma
Melihat unggahan panitia di Instagram, saya mengetahui bahwa perjalanan menuju lokasi tidak mudah. Mereka harus melewati jalan rusak akibat banjir untuk membawa perlengkapan pemutaran, tenda, dan logistik.
penulis jurnalisme warga
Jurnalisme Warga
Penulis JW
Layar yang Mengubungkan Kita
NAZIRAH
Serambi Indonesia
Serambinews.com
Serambinews
| Asyiknya Belajar Alam di Sungai Lhok Buloh |
|
|---|
| Kepedulian Bupati Syech Muharram terhadap Aksara Arab Melayu melalui Program ‘Beut Kitab bak Sikula’ |
|
|---|
| Memetik Hikmah dari Peluncuran Buku MemoryGraph |
|
|---|
| Kenduri di Makam Putroe Sani, Dari Kejayaan Sultan Iskandar Muda ke Sunyi Makam Permaisuri |
|
|---|
| Mengoptimalkan Potensi Gedung Karantina Haji Pulau Rubiah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/NAZIRAH-JW.jpg)