Jurnalisme Warga
Memaknai Praktik Green Education di SMAN 7 Lhokseumawe
Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) kembali diperingati pada tanggal 2 Mei 2026. Seperti tahun-tahun sebelumnya
Dr. JON DARMAWAN, S.Pd., M.Pd., Guru SMAN 7 Lhokseumawe, Pengurus IGI dan Pemuda ICMI Aceh, melaporkan dari Kota Lhokseumawe
Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) kembali diperingati pada tanggal 2 Mei 2026. Seperti tahun-tahun sebelumnya, berbagai satuan pendidikan menyemarakkan momen ini dengan kegiatan reflektif dan edukatif.
Namun, tantangan pendidikan saat ini menuntut Hardiknas tidak berhenti sebagai seremoni simbolik. Pendidikan harus merespons persoalan nyata yang dihadapi masyarakat global, salah satunya adalah krisis lingkungan dan keberlanjutan ekologi.
Peringatan Hardiknas 2026 mendapatkan makna khusus melalui kebijakan Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin SPd, MSP, yang mengarahkan sekolah-sekolah untuk melakukan penanaman pohon. Instruksi ini menegaskan bahwa pendidikan tidak terlepas dari tanggung jawab ekologis. Sekolah tidak hanya berfungsi sebagai pusat transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang pembentukan kesadaran lingkungan bagi generasi muda.
SMAN 7 Lhokseumawe menjadi salah satu sekolah yang menindaklanjuti arahan tersebut secara substantif. Melalui kegiatan penanaman pohon berbuah, pohon tak produktif, serta pohon hias, sekolah ini berupaya menciptakan lingkungan hijau yang mendukung proses pembelajaran.
Kepala SMAN 7 Lhokseumawe, Drs Mukhtaruddin MPd, menegaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah menghadirkan lingkungan sekolah yang berkelanjutan dan selaras dengan konsep ‘green education’.
Secara konseptual, ‘green education’ merupakan pendekatan pendidikan yang berlandaskan prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Konsep ini berkembang dari gagasan Education for Sustainable Development (ESD) yang dipromosikan oleh UNESCO, di mana pendidikan diarahkan untuk membekali peserta didik dengan pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap yang mendukung keberlanjutan lingkungan, keadilan sosial, dan kesejahteraan ekonomi.
Dalam perspektif ilmiah, ‘green education’ bertujuan membangun literasi ekologis (ecological literacy), yaitu kemampuan individu memahami sistem alam, keterkaitan antarkomponen ekosistem, serta dampak aktivitas manusia terhadap lingkungan hidup.
Pendidikan berbasis lingkungan tidak lagi hanya bersifat informatif, melainkan transformatif, yakni mengubah pola pikir dan perilaku peserta didik menjadi lebih bertanggung jawab terhadap alam.
‘Green education’ juga menekankan pendekatan interdisipliner. Isu lingkungan tidak dipelajari secara terpisah, tetapi terintegrasi dengan berbagai bidang ilmu, seperti biologi, geografi, ekonomi, bahkan ilmu sosial, dan humaniora. Dengan pendekatan ini, peserta didik memahami bahwa persoalan lingkungan bersifat kompleks dan membutuhkan solusi multidimensional.
Dalam konteks SMAN 7 Lhokseumawe, penerapan ‘green education’ diwujudkan melalui aktivitas penanaman pohon yang dirancang secara edukatif. Pemilihan jenis tanaman tidak dilakukan secara acak, melainkan mempertimbangkan fungsi ekologis dan edukatif.
Pohon berbuah berperan sebagai sumber pembelajaran ekonomi hijau dan ketahanan pangan skala mikro, pohon nonproduktif berfungsi sebagai peneduh dan penyerap karbon, sementara pohon hias meningkatkan kualitas estetika dan kenyamanan lingkungan sekolah.
Kegiatan ini diintegrasikan ke dalam pembelajaran kontekstual. Pada mata pelajaran biologi, siswa mempelajari struktur dan fungsi tumbuhan, proses fotosintesis, serta peran vegetasi dalam siklus karbon dan siklus air.
Pada mata pelajaran geografi, kegiatan ini dikaitkan dengan isu perubahan iklim, penggunaan lahan, dan mitigasi bencana lingkungan. Melalui pendekatan tersebut, pengetahuan ilmiah tidak berhenti pada teori, tetapi juga diaplikasikan secara nyata.
Keberadaan vegetasi di lingkungan sekolah memberikan berbagai jasa ekosistem. Tanaman berkontribusi dalam menurunkan suhu lingkungan melalui efek peneduhan dan evapotranspirasi, meningkatkan kualitas udara dengan menyerap polutan, serta mendukung keanekaragaman hayati skala lokal. Lingkungan sekolah menjadi lebih sehat dan kondusif bagi aktivitas belajar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ketua-ikatan-guru-indonesia-igi-kota-lhokseumawe-jon-darmawan-mpd.jpg)