Kamis, 21 Mei 2026

Kupi Beungoh

Perang dan Damai Bagian 20 - Perundingan Perdamaian, Mengakhiri Penderitaan Global

Dalam dunia yang saling terhubung, gangguan di satu kawasan dapat menimbulkan efek domino terhadap kehidupan masyarakat global.

Tayang:
Editor: Zaenal
Dok SERAMBINEWS.COM/HO
Yunidar Z.A, M. Si, C.L.DA, Analis Kebijakan – Anggota AAKI. 

Oleh: Yunidar Z.A, M. Si, C.L.DA*)

UMMAT Islam dari berbagai penjuru dunia mulai berdatangan ke Tanah Suci Mekkah untuk menunaikan ibadah haji, memenuhi panggilan Allah SWT dalam menjalankan rukun Islam.

Namun, di saat yang sama, kawasan Timur Tengah masih dibayangi konflik dan ketegangan geopolitik yang belum sepenuhnya mereda.

Perdamaian masih terus diperjuangkan oleh jaringan kemanusiaan, para mediator internasional, dan masyarakat dunia yang mendambakan ketenteraman, stabilitas global.

Keputusan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk menunda rencana serangan militer terhadap Iran menjadi kabar yang sangat dinantikan dunia internasional.

Di tengah guncangan ekonomi global akibat terganggunya rantai pasok energi dunia, penundaan tersebut dipandang sebagai peluang penting untuk membuka jalan menuju dialog dan perundingan damai.

Ketegangan di kawasan Selat Hormuz masih menimbulkan kekhawatiran serius terhadap stabilitas ekonomi dunia.

Jalur strategis tersebut merupakan salah satu urat nadi distribusi energi global.

Pembatasan pelayaran dan meningkatnya ancaman keamanan di kawasan telah memengaruhi distribusi energi, minyak dan gas ke berbagai negara.

Dalam dunia yang saling terhubung, gangguan di satu kawasan dapat menimbulkan efek domino terhadap kehidupan masyarakat global.

Masyarakat internasional sangat membutuhkan jaminan kebebasan pelayaran dan keamanan energi demi menjaga stabilitas ekonomi dunia.

Karena itu, keputusan untuk menunda agresi militer bukan sekadar langkah politik, tetapi juga bagian dari upaya menyelamatkan kepentingan kemanusiaan global.

Dunia berharap penundaan tersebut bukan hanya bersifat sementara, melainkan menjadi awal dari lahirnya kesepakatan damai yang lebih permanen.

Berbagai spekulasi muncul terkait alasan penundaan serangan tersebut.

Baca juga: Perang dan Damai – Bagian 17, Selamat Jalan Perang, Menuju Perdamaian

Usulan Baru Iran dan Sikap Trump

Sementara itu, Iran dikabarkan telah mengirimkan usulan baru melalui mediator Pakistan untuk membuka ruang negosiasi.

Dalam sejumlah pemberitaan, Trump menyebut bahwa Amerika Serikat sebenarnya telah mempertimbangkan langkah militer terhadap Iran pada 19 Mei 2026, namun memutuskan menundanya setelah adanya komunikasi dan diskusi besar antara kedua pihak di Washington DC.

Sebelumnya, Trump kembali melontarkan peringatan keras kepada Iran di tengah meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah.

Dalam pernyataannya, ia mendesak Iran agar segera mengambil langkah menuju kesepakatan damai sebelum situasi berkembang semakin tidak terkendali.

Pernyataan tersebut muncul ketika Washington bersama Israel masih berupaya memecah kebuntuan diplomatik yang hingga kini belum menghasilkan titik terang untuk mengakhiri ketegangan di kawasan.

Ketegangan yang terus meningkat menciptakan situasi “konflik laten” yang sangat berbahaya bagi stabilitas dunia.

Dunia internasional khawatir konflik ini berkembang menjadi bentuk baru “perang dingin” modern yang tidak hanya melibatkan kekuatan militer, tapi juga perang ekonomi, energi, teknologi, dan pengaruh geopolitik.

Melalui platform Truth Social miliknya, beberapa waktu lalu Trump menyampaikan pesan yang menjadi perhatian dunia internasional.

Pernyataan tersebut dipandang sebagai bentuk tekanan politik sekaligus ancaman terbuka kepada Iran agar segera menerima jalur negosiasi yang diinginkan Amerika Serikat.

Namun hingga kini, pemerintah Iran belum memberikan respons resmi atas ultimatum tersebut, meskipun situasi kawasan dilaporkan masih sangat tegang.

Dunia saat ini sedang berada di persimpangan sejarah.

Pada satu sisi, species manusia telah mencapai kemajuan teknologi yang luar biasa.

Dunia mampu menghubungkan miliaran manusia hanya dalam hitungan detik, menciptakan kecerdasan buatan, membangun ekonomi digital global, serta membuka berbagai batas baru peradaban modern.

Namun di sisi lain, umat manusia masih menghadapi ancaman lama yang terus menghantui sejarah, yaitu perang dan penghancuran sesama manusia.

Konflik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi gambaran nyata bagaimana dunia modern masih dibayangi ketegangan geopolitik yang dapat mengancam masa depan kemanusiaan global, seluruh dunia.

Ketika kekuatan militer dipertemukan dengan ambisi politik dan rasa saling curiga, maka dunia berada dalam situasi yang sangat rapuh.

Setiap keputusan politik kebijakan yang diambil bukan hanya menentukan nasib dua negara, tetapi juga memengaruhi stabilitas dunia, keamanan energi, ekonomi global, bahkan keberlangsungan peradaban manusia mengkuatirkan kembali ke zaman batu.

Ancaman Bagi Seluruh Umat Manusia

Di tengah ancaman perang yang semakin besar, masyarakat internasional mulai menyadari bahwa perang modern bukan lagi sekadar konflik antarnegara, melainkan ancaman terhadap seluruh umat manusia.

Ketika konflik pecah di Timur Tengah, dampaknya tidak hanya dirasakan di kawasan tersebut.

Harga energi meningkat, perdagangan dunia terganggu, inflasi global melonjak, dan ketidakpastian ekonomi menyebar ke berbagai negara.

Dunia yang semakin terhubung membuat setiap konflik memiliki dampak global yang sangat luas.

Karena itu, dalam dunia masa depan yang semakin terkoneksi, pilihan terhadap perdamaian menjadi suatu keniscayaan.

Tidak ada negara yang benar-benar dapat hidup sendiri tanpa ketergantungan dengan bangsa lain.

Dunia kontemporer modern saat ini dibangun di atas keterhubungan, kolaborasi, dan saling ketergantungan antarnegara.

Agresi militer hanya akan memutus rantai kemajuan manusia dan memperbesar penderitaan masyarkat dunia secara global.

Konflik AS dan Iran juga memperlihatkan bagaimana ketidakpercayaan yang dipelihara terlalu lama dapat berubah menjadi ancaman besar bagi kemanusiaan.

Iran memandang tekanan politik dan militer Amerika Serikat sebagai ancaman terhadap kedaulatan negaranya, sementara Amerika Serikat melihat Iran sebagai ancaman strategis terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah.

Dalam situasi seperti ini, dialog sering kali kalah oleh ego politik dan kepentingan kekuasaan.

Bahkan pernyataan kecaman terbaru dari Wakil Presidsen AS JD Vance, Iran terima kesepakatan atau perang lagi.

Padahal sejarah telah membuktikan bahwa perang tidak pernah benar-benar menghasilkan kemenangan abadi.

Perang hanya meninggalkan puing-puing kehancuran, trauma sosial, penderitaan sipil, dan kebencian lintas generasi.

Anak-anak kehilangan masa depan, perempuan hidup dalam ketakutan, dan masyarakat sipil selalu menjadi korban utama dari konflik bersenjata.

Kota-kota mungkin dapat dibangun kembali,celakanya kehancuran peradaban, nilai-nilai kemanusiaan membutuhkan waktu yang jauh lebih lama untuk dipulihkan.

Dunia masa depan membutuhkan paradigma baru tentang keamanan global.

Keamanan tidak lagi dapat dibangun melalui ancaman senjata dan perlombaan militer, tapi melalui kerja sama, dialog, diplomasi, dan penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Kekuatan terbesar dunia masa depan bukanlah siapa yang memiliki rudal paling canggih, namun siapa yang mampu membangun perdamaian yang paling berkelanjutan, ketenteraman.

Negara-negara mediator seperti Pakistan dan pendukung lainnya, bersama jaringan perdamaian, organisasi-organisasi internasional dengan mendorong Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa agar menggunakan mandat kemanusiaan, menegakkan perdamaian dunia, perlu terus memainkan peran strategis dalam membuka ruang diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran.

Perdamaian hanya dapat lahir ketika semua pihak bersedia duduk bersama, kesetaraan, dan menjadikan manusia sebagai pusat utama setiap kebijakan internasional.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, juga menegaskan pentingnya hubungan stabil antarnegara di kawasan dan menolak berbagai upaya yang memecah belah dunia.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa sesungguhnya masih ada ruang untuk membangun kesepahaman dan masa depan yang lebih damai apabila semua pihak bersedia meninggalkan politik konfrontasi.

Dalam dunia yang semakin digital dan terintegrasi, perang tidak hanya menghancurkan bangunan fisik, tapi juga menghancurkan sistem sosial, jaringan ekonomi, komunikasi global, bahkan kepercayaan antar manusia.

Prinsip Kesetaraan

Perang modern perlu diusangkan karena dapat melumpuhkan energi, pangan, kesehatan, teknologi, dan stabilitas dunia hanya dalam waktu singkat.

Karena itu, perang di masa depan bukan lagi pilihan rasional bagi keberlangsungan umat manusia.

Perdamaian masa depan harus dibangun di atas prinsip kesetaraan antarbangsa.

Tidak ada negara yang boleh merasa paling kuat untuk mendominasi negara lain.

Semua bangsa memiliki hak yang sama untuk hidup damai, aman, ketenteraman dan bermartabat.

Dunia membutuhkan tatanan global baru yang lebih adil, lebih manusiawi, dan lebih menghormati keberagaman kepentingan antarnegara.

Perang juga menghabiskan sumber daya dunia dalam jumlah sangat besar.

Triliunan dolar dihabiskan untuk membangun persenjataan dan operasi militer, sementara jutaan manusia masih hidup dalam kemiskinan, kelaparan, keterbatasan pendidikan, dan akses kesehatan yang tidak memadai.

Jika sumber daya tersebut dialihkan untuk pembangunan manusia, maka dunia dapat memasuki era baru kemajuan peradaban yang jauh lebih bermakna.

Masa depan dunia tidak boleh diwariskan dalam bentuk kehancuran, berharap dalam bentuk ketenteraman, sejahtera.

Generasi mendatang berhak hidup dalam dunia yang damai, terbuka, dan saling menghormati.

Mereka membutuhkan ruang untuk belajar, menciptakan inovasi, dan membangun peradaban baru tanpa dibayangi ancaman konflik dengan kekerasan.

Pada akhirnya, berharap Umat Islam dapat menjalan Ibadah haji dengan aman dan damai tidak terganggu oleh konflik di Timur Tengah.

Keputusan AS dan Iran untuk kesepahaman damai dapat mengakhiri penderitaan global dan harapan bersama.

Masyarakat dunia hari ini menginginkan hidup bersama, bukan tentang siapa yang menang dalam peperangan, melainkan pemimpin yang masih memiliki kebijaksanaan, keberanian untuk memilih demokrasi, perdamaian.

Sebab kemenangan sejati bukanlah menghancurkan lawan, namun bagaimana menyelamatkan kehidupan manusia, menjaga alam, dan mewujudkan keberlangsungan peradaban dunia. Bersiaplah untuk perdamaian. Semoga.

 

*) PENULIS adalah Analis Kebijakan – Anggota AAKI

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi dalam artikel sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

Baca artikel Kupi Beungoh lainnya di SINI

 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved