Selasa, 2 Juni 2026

KUPI BEUNGOH

Triliunan Harta di Bawah Tanah Aceh jatuh ke Jaringan Kejahatan

Suasana di dalam ruang sidang Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) sore itu terasa hening. Satu per satu angka dan fakta disampaikan.

Tayang:
Editor: Yocerizal
for serambinews
PARADOKS TAMBANG DI ACEH - Penulis opini, Tarmizi, menyampaikan menyoroti paradoks Aceh sebagai daerah yang memiliki kekayaan tambang bernilai ratusan triliun rupiah, tetapi belum mampu menghadirkan kesejahteraan yang sebanding bagi rakyat. 

Oleh: Tarmizi *)

SUASANA di dalam ruang sidang Dewan Perwakilan Rakyat Aceh sore itu terasa hening.

Satu per satu angka dan fakta disampaikan dalam laporan Panitia Khusus Minerba dan Migas. 

Angka dan fakta itu menunjukkan bahwa di tanah kita tersimpan kekayaan bernilai ratusan triliun rupiah, cukup untuk menjamin masa depan puluhan tahun ke depan.

Namun kenyataannya, hanya sedikit yang kembali untuk rakyat.

Sisanya lenyap, dibawa pergi, dan dinikmati segelintir orang yang membangun kendali mulai dari lokasi tambang sampai ke puncak kekuasaan.

Yang paling mengejutkan, terungkap secara rinci bagaimana tambang ilegal dijalankan dengan sistem terstruktur, menjadi sumber uang gelap, dan menguasai seluruh sendi kehidupan bernegara.

Lebih dari 30 tahun lalu kami berjuang demi satu cita-cita sederhana: agar rakyat Aceh bisa hidup layak dan menentukan nasib sendiri di tanah kelahiran.

Kini kita telah berhak mengatur rumah tangga sendiri, dan aturan jelas menyatakan semua kekayaan adalah milik rakyat.

Namun fakta yang terungkap sore itu membuat satu pertanyaan terus terngiang: mengapa tanah kita begitu kaya, tapi rakyat masih hidup dalam kesulitan?

Jawabannya tidak terletak pada kurangnya harta, melainkan pada cara pengelolaan yang telah dikuasai jaringan kejahatan.

Baca juga: Serangan Jantung, Jamaah Lansia asal Pidie Meninggal Dunia di Mekkah

Baca juga: Setahun Lebih Terputus, Warga Desak Pemerintah Tangani Jalan Lintas Pining-Lokop

Angka-angka itu bukan sekadar tulisan di kertas.

Berdasarkan data resmi Dinas ESDM Aceh dan laporan Panitia Khusus tahun 2025, kita memiliki cadangan emas lebih dari 300 ton bernilai 120 triliun rupiah.

Juga cadangan batu bara lebih dari 1,2 miliar ton bernilai 240 triliun rupiah, ditambah mangan 180 juta ton, bijih besi 125 juta ton, dan bahan galian lain yang nilainya ratusan triliun tambahan.

Kekayaan ini tersebar di 110.655 hektare wilayah, dari Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Tengah, Aceh Besar, Pidie, Aceh Selatan, hingga Abdya.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved