Sabtu, 6 Juni 2026

KUPI BEUNGOH

Derita Sunyi Anak Gaza Tercabik Luka: Ketika Anak Palestina Kehilangan Kemampuan Berbicara

Bagi sebagian orang, kehilangan kemampuan berbicara mungkin hanya dipahami sebagai gangguan psikologis.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Saifullah
Serambinews.com/HO
Sarah Ainun, Perawat di RSJ Aceh 

Ketika seorang anak kehilangan kemampuan berbicara akibat trauma, sesungguhnya yang sedang dirampas bukan hanya suaranya, tetapi juga sebagian dari masa kecilnya.

Apa yang dialami anak-anak Gaza tidak dapat dilepaskan dari agresi yang terus dilakukan oleh entitas Zionis Israel. 

Serangan yang berlangsung selama bertahun-tahun telah menciptakan penderitaan multidimensi. 

Ribuan anak kehilangan orang tua, rumah, pendidikan, kesehatan, bahkan rasa aman yang menjadi kebutuhan paling mendasar bagi tumbuh kembang mereka. 

UNICEF dan berbagai lembaga kemanusiaan internasional berkali-kali memperingatkan bahwa generasi anak Gaza menghadapi ancaman kerusakan psikologis jangka panjang akibat perang yang terus berlangsung.

Karena itu, sulit untuk melihat fenomena ini hanya sebagai dampak sampingan perang. 

Kehancuran fisik yang masif, blokade berkepanjangan, penghancuran fasilitas sipil, serta serangan yang terus menimbulkan korban perempuan dan anak-anak menunjukkan adanya upaya sistematis yang tidak hanya menghancurkan kehidupan saat ini, tetapi juga masa depan rakyat Palestina. 

Ketika anak-anak kehilangan kemampuan berbicara, kehilangan pendidikan, kehilangan keluarga, dan kehilangan harapan secara bersamaan, maka yang sedang berlangsung bukan sekadar konflik bersenjata biasa.

Yang terjadi adalah penghancuran suatu bangsa secara perlahan, baik secara fisik maupun mental.

Ironisnya, dunia yang mengaku menjunjung tinggi hak asasi manusia tampak tidak berdaya menghentikan tragedi tersebut.

Berbagai forum internasional telah menghasilkan banyak pernyataan keprihatinan, resolusi, dan bantuan kemanusiaan. Namun semua itu belum mampu menghentikan derita yang terus dialami rakyat Gaza

Bantuan makanan dan obat-obatan memang penting, tetapi tidak cukup untuk menghentikan bom yang terus berjatuhan.

Bantuan psikologis memang dibutuhkan, tetapi tidak akan menyelesaikan akar masalah selama penjajahan dan agresi masih berlangsung.

Yang lebih menyakitkan adalah sikap sebagian penguasa di negeri-negeri Muslim.

Di tengah penderitaan rakyat Palestina, banyak dari mereka justru memilih diam, mengutamakan kepentingan politik dan hubungan diplomatik dengan negara-negara besar daripada membela saudara seiman yang sedang tertindas. 

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved