Selasa, 9 Juni 2026

Pojok Humam Hamid

Tambang, Leuser, Perubahan Iklim: Undangan Tragedi Masa Depan Aceh

Ekosistem Leuser bukan sekadar bentang alam konservasi. Ia adalah infrastruktur alami yang menopang seluruh arsitektur kehidupan di Aceh bagian hilir

Tayang:
Editor: Subur Dani
for serambinews
Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK), Prof Humam Hamid 

Oleh: Ahmad Humam Hamid*)

Ada sebuah ironi yang berulang dalam sejarah pembangunan di banyak wilayah dunia: manusia selalu percaya bahwa mereka dapat mengendalikan alam lebih cepat daripada alam mengoreksi kesalahan mereka.

Aceh hari ini sedang berdiri tepat di dalam ironi itu.

Baru saja kita memperingati Hari Lingkungan Hidup seolah-olah ia adalah ritual kesadaran kolektif. Namun sejarah tidak bekerja dengan simbol. Ia bekerja dengan konsekuensi. 

Dan konsekuensi ekologis hampir selalu datang terlambat untuk dicegah, tetapi cukup cepat untuk menghukum.

Baca juga: Nasib Mahasiswa Rantau di Tengah Inflasi yang Merobek Kantong

Di jantung persoalan Aceh terdapat satu sistem ekologis yang tidak pernah benar-benar dipahami secara serius dalam logika pembangunan modern: Ekosistem Leuser

Ekosistem Leuser bukan sekadar bentang alam konservasi. Ia adalah infrastruktur alami yang menopang seluruh arsitektur kehidupan di Aceh bagian hilir, termasuk wilayah seperti Aceh Tamiang.

Dalam istilah ekonomi politik klasik, Leuser adalah “modal alam” yang tidak bisa digantikan oleh investasi apa pun. 

Namun justru karena ia tidak memiliki harga pasar yang jelas, ia sering kali diperlakukan seolah-olah tidak memiliki nilai politik yang setara dengan sumber daya tambang di bawahnya.

Baca juga: Serangan Udara Israel Guncang Beirut, Delapan Tewas dan Belasan Luka

Di sinilah kontradiksi utama pembangunan Aceh muncul: apa yang terlihat bernilai di bawah tanah sering kali mengaburkan apa yang secara sistemik tak tergantikan di atas permukaan.

Kita berbicara tentang aktivitas pertambangan di wilayah hulu, termasuk yang berada dalam radar publik seperti PT Gayo Mineral Resources di Gayo Lues dan PT Linge Mineral Resources di Aceh Tengah. 

Perdebatan biasanya dimulai dari pertanyaan legalistik: apakah izin itu sah, apakah prosedurnya terpenuhi, apakah batas wilayahnya jelas. 

Tetapi sejarah kebijakan publik menunjukkan bahwa pertanyaan yang benar jarang sekali bersifat administratif pada tahap awal.

Konsekuensi Jangka Panjang

Pertanyaan yang lebih penting selalu bersifat struktural: apa konsekuensi jangka panjang dari membuka akses manusia ke sistem ekologis yang selama ribuan tahun stabil karena keterisolasiannya?

Di titik ini, kita harus jujur mengatakan satu hal yang tidak nyaman: eksplorasi bukanlah aktivitas netral. Ia adalah fase pertama dari transformasi ruang. 

Baca juga: Tarif Fantastis di Selat Hormuz, Iran Tarik Biaya Jutaan Dolar untuk Kapal Asing

Jalan dibuka bukan hanya untuk alat berat, tetapi untuk logika ekonomi baru yang masuk ke dalam sistem ekologis yang sebelumnya tidak mengenal logika tersebut.

Dan begitu logika itu masuk, sejarah hampir selalu bergerak ke arah yang sama: ekspansi.

Dalam banyak kasus global, dari Amazon hingga Kalimantan, jalan akses adalah variabel paling penting dalam menentukan masa depan deforestasi. 

Bukan tambang itu sendiri pada tahap awal, tetapi infrastruktur yang menyertainya. 

Ini adalah detail yang sering diabaikan dalam kebijakan publik, tetapi sangat menentukan dalam sejarah ekologis jangka panjang.

Namun Aceh hari ini tidak hanya menghadapi persoalan klasik deforestasi. Ia menghadapi lapisan risiko tambahan: perubahan iklim.

Baca juga: Pengemudi Fortuner Salah Tekan Gas, 2 Nyawa Melayang dalam Hitungan Detik di Jantung Kota Palembang

Fenomena seperti Siklon “Senyar 25” (2025) bukan sekadar anomali meteorologis. Ia adalah bagian dari pola baru di mana sistem iklim menjadi lebih tidak stabil, lebih ekstrem, dan lebih sulit diprediksi. 

Dalam dunia seperti ini, setiap perubahan kecil di hulu tidak lagi memiliki dampak linear. Ia menjadi amplifikasi.

Apa yang dulu mungkin hanya menghasilkan banjir lokal, kini dapat berkembang menjadi gangguan sistemik lintas wilayah.

Aceh Tamiang menjadi ilustrasi yang sangat jelas. Wilayah ini tidak pernah benar-benar terpisah dari keputusan-keputusan ekologis di hulu. 

Setiap perubahan tutupan hutan di pegunungan Leuser pada akhirnya akan diuji di dataran rendah. Sungai tidak mengenal batas administrasi. Ia hanya mengenal gravitasi.

Baca juga: VIDEO Iran Pakai Rudal Qader dan Drone Shaded Hantam Aset Amerika

Dan di sinilah letak kegagalan paling mendasar dalam banyak kebijakan tata ruang modern: kita mengelola wilayah seolah-olah ia terfragmentasi, sementara alam bekerja sebagai satu sistem yang utuh.

Dalam logika risiko, kita menghadapi ketidakseimbangan yang sangat sederhana tetapi sering diabaikan. Potensi mineral di hulu masih bersifat probabilistik- belum pasti, masih eksploratif, masih tergantung hasil akhir. 

Sebaliknya, nilai ekologis Leuser bersifat deterministik: ia sudah bekerja, sudah terbukti, dan sudah menopang kehidupan selama generasi.

Dalam bahasa ekonomi, ini adalah pertaruhan asimetris. Dan sejarah jarang memihak pada pertaruhan asimetris yang merusak sistem dasar kehidupan.

Ketegangan di Banggalang Beutong Ateuh

Di beberapa wilayah lain seperti di Banggalang Beutong Ateuh, Kabupaten Nagan Raya kita sudah melihat bagaimana ketegangan antara aspirasi ekonomi, masyarakat lokal, dan kebijakan negara mulai muncul ke permukaan. 

Baca juga: SMuR Tolak Pertambangan di Beutong Ateuh,Jangan Korbankan Ruang Hidup Rakyat demi Segelintir Pemodal

Ini bukan anomali. Ini adalah pola awal dari apa yang biasanya terjadi ketika ruang ekologis mulai diperebutkan secara intensif.

Sejarah menunjukkan bahwa konflik seperti ini jarang berhenti pada satu lokasi. Ia cenderung menyebar, karena akar persoalannya bukan pada individu atau perusahaan tertentu, tetapi pada struktur insentif pembangunan itu sendiri.

Di sinilah Hari Lingkungan Hidup seharusnya dibaca ulang bukan sebagai perayaan, tetapi sebagai peringatan. Bukan sebagai simbol kesadaran, tetapi sebagai indikator risiko.

Jika Aceh terus menempatkan kawasan hulu Leuser sebagai ruang eksplorasi ekonomi tanpa batas kehati-hatian yang ekstrem, maka kita sedang membangun sebuah sistem di mana bencana bukan lagi kemungkinan, tetapi probabilitas yang meningkat dari waktu ke waktu.

Baca juga: Pendiri RSU Bidadari Group HM Nur Abu Bakar Tutup Usia, Begini Perjalanan Hidupnya

Sejarah tidak pernah kekurangan contoh tentang peradaban yang mengabaikan batas ekologisnya sendiri. Yang selalu kurang adalah kesediaan untuk membaca tanda-tanda awalnya.

Dan Leuser, dalam konteks Aceh, adalah salah satu tanda paling jelas yang sedang kita hadapi hari ini.

Pada akhirnya, pertanyaan yang tersisa bukan ttg yg u uh lagi apakah kita memahami risikonya. Pertanyaannya lebih sederhana, tetapi jauh lebih sulit dijawab: apakah kita bersedia mengubah arah kebijakan sebelum alam yang melakukannya untuk kita.(*)

*) PENULIS adalah Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh

Isi artikel dalam Pojok Humam Hamid menjadi tanggung jawab penulis.

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved