Sabtu, 25 April 2026

Mihrab

Khutbah Jumat di Aceh Besar – Prof Agussabti: Puasa Harus Mampu Melatih Hati dan Regulasi Emosi

Prof Agussabti menjelaskan, selama bulan suci Ramadhan setiap Muslim perlu berniat dan bertekad menjadikan puasa sebagai latihan manajemen hati .

Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Yeni Hardika
for serambinews
Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas Syiah Kuala (USK), Prof Dr Ir Agussabti MSi IPU ASEAN Eng 

Khutbah Jumat di Aceh BesarProf Agussabti: Puasa Harus Mampu Melatih Hati dan Regulasi Emosi

SERAMBINEWS.COM, ACEH BESAR – Puasa Ramadhan tidak hanya dimaknai sebagai menahan lapar dan dahaga, tetapi juga sebagai sarana melatih manajemen hati dan regulasi emosi.

Rasulullah SAW bersabda, bahwa jika seseorang berpuasa, maka jangan berkata kotor dan jangan marah. 

Ini menunjukkan, puasa harus berdampak pada kemampuan manajemen hati, seperti kemampuan menata emotional regulation, melatih kesadaran diri (self-awareness) dan melatih respon sadar, bukan reaktif. 

Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas Syiah Kuala (USK), Prof Dr Ir Agussabti MSi IPU ASEAN Eng menyampaikan hal itu dalam khutbah Jumat di Masjid Jamik Baitul Ahad, Kemukiman Siem, Kecamatan Darussalam, (20/2/2026), bertepatan dengan 2 Ramadhan 1447 Hijriah. 

Prof Agussabti menjelaskan, selama bulan suci Ramadhan setiap Muslim perlu berniat dan bertekad menjadikan puasa sebagai latihan manajemen hati yang paling komprehensif. 

Dengan demikian, puasa diharapkan melahirkan perubahan perilaku yang merefleksikan akhlak hamba yang bertakwa, yakni mampu mengendalikan hawa nafsu, mengontrol emosi, ikhlas dalam berbuat, serta meningkat kesabaran dan kesadaran spiritual.

“Inilah sebagian makna penting hubungan antara puasa dengan manajemen hati yang apabila mampu kita pahami dan lakukan, maka puasa akan mengantarkan kita menjadi hamba yang bertaqwa,”

“Karena Allah berfirman bahwa sebaik-baik bekal bagi seorang hamba adalah taqwa dan dengan bekal taqwa Allah menjamin seorang hamba akan bahagia hidup di dunia dan di akhirat. Capaian taqwa inilah yang menentukan kemenangan agung bagi seorang hamba,” ungkapnya.

Prof Agussabti selanjutnya menguraikan, puasa adalah menahan diri dari makan, minum, syahwat dan segala hal yang membatalkan puasa dari terbit hingga terbenamnya matahari. 

Tujuan utama puasa Ramadhan sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah: 183) adalah membentuk taqwa. 

Persoalan kemudian muncul, mengapa kita yang sudah berpuasa selama bertahun-tahun, tetapi mungkin hanya sedikit dari kita yang mampu mencapai tujuan utamanya, yaitu hamba yang bertaqwa. 

Menurutnya, puasa yang mengantar hamba pada jenjang taqwa adalah puasa hati

Semakin seseorang memahami makna puasa, seharusnya semakin kuat pula kemampuannya dalam mengelola hati dan dirinya. 

Dalam konteks Islam, hati bukan sekadar organ fisik, tetapi sering dimaknai sebagai qalbu yang merupakan pusat kesadaran batin manusia. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved