RAMADHAN MUBARAK
Ramadhan Mendidik Kejujuran dan Amanah
QS Al-Baqarah ayat 185 jelas menyebutkan Ramadhan adalah momentum diturunkannya Al-Quran yang menjadi petunjuk dan “pembeda”
Prof. Dr. Ir. Herman Fithra, ASEAN Eng, Rektor Universitas Malikussaleh
BULAN Ramadhan adalah bulan tarbiyah, bulan pendidikan dan perenungan hati dan pikiran. QS Al-Baqarah ayat 185 jelas menyebutkan Ramadhan adalah momentum diturunkannya Al-Quran yang menjadi petunjuk dan “pembeda” bagi orang beriman. Pembeda artinya ada mekanisme untuk menyeleksi mana yang bathil dan mana yang haq.
Memang, sejak awal Ramadhan kita harus menyambutnya dengan semangat untuk maju, meningkatkan ibadah sekaligus daya nalar. Sebuah hadist berbunyi “Barangsiapa menghadiri majelis ilmu di bulan Ramadhan, maka setiap langkahnya akan dicatat sebagai pahala, setara dengan ibadah selama satu tahun.”
Jelas bahwa Ramadhan menjadi waktu kapitalisasi pengembangan kognisi, afeksi, dan motorik seseorang dengan penuh iman dan ihtisab, yaitu memperhitungkan bahwa semua kebaikan yang ditebar akan menjadi pahala dan penguat bagi umat dalam mengarungi 11 bulan setelahnya. Puasa harus memiliki dimensi lain dalam kehidupan yang lebih luas, yaitu mendidik agar kita bisa semakin jujur dan menjaga amanah.
Sebuah survei oleh Civic Honesty Around the Globemenempatkan negara Swiss sebagai negara paling jujur di dunia. Selanjutnya negara yang menempati posisi paling jujur berada di kontinen Skandinavia, yaitu Denmark, Norwegia, Finlandia, dan Swedia. Semua negara itu memiliki kesamaan, yaitu tingkat kesejahteraan yang tinggi dan ketimpangan ekonomi (Rasio Gini) yang rendah. Ternyata, semua negara itu bukan pemeluk agama Islam!
Bandingkan dengan negara yang memiliki angka ketidakjujuran yang tinggi. Menurut hasil survei cukup mengurutkan dada. Urutan negara paling tidak jujur ternyata Sudan Selatan, Somalia, Venezuela, Yaman, Eritrea, Sudan, Nikaragua, Suriah, dan Korea Utara. Sebagian besar negara tidak jujur itu penganut muslim.
Yang menyedihkan bahwa tingkat ketidakjujuran juga berkait-berkelindan dengan korupsi. Negara-negara di atas mengaku negara mayoritas muslim (bahkan hampir mutlak), tapi tidak jujur, dan korup!
Negara koruptif pasti membuka ruang pada kebohongan akuntansi dan manajemen secara culas, tertutup, eksklusif, dan non-partisipatif. Setiap momen pasti diupayakan mengerat keuangan negara sehingga muaranya adalah kemiskinan dan konflik berkepanjangan.
Beruntung Indonesia tidak masuk dalam hitungan 10 besar negara terkorup di dunia. Namun, keberadaan Indonesia menurut rangking Transparent International belum cukup mengembirakan.
Menurut Indeks Persepsi Korupsi TI, Indonesia berada pada rangking 109 dari 182 negara yang disurvei pada 2025. Sebelumnya, Indonesia pernah berada pada rangking 99 (2024). Artinya upaya membangun tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih (good governance and clean government) masih memerlukan perjuangan amat tekun dan bersungguh-sungguh.
Makanya, dengan momentum Ramadhan ini kita mengharapkan nilai-nilai kejujuran bisa membasahi kehidupan sosial-ekonom. Setiap waktu dalam bulan puasa tahun ini menjadi pengingat nilai-nilai shiddiq dan amanah dari Rasulullah Muhammad SAW ketika membangun poros suci madinah al-munawarah.
Jika diartikan dalam bahasa umum, puasa harus membangun peradaban yang penuh kemilau kebaikan dan kebenaran. Tumpuannya dimulai dengan muhasabah dan muzakarah pada nilai-nilai kejujuran, transparansi, akuntabilitas, dan integritas yang mantap. Bukan saja hal itu akan memberikan warisan kekal kehidupan di dunia, tapi menjadi syafa’at yang menolong kita di hari akhir nanti.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Rektor-Universitas-Malikussaleh-Prof-Dr-Herman-Fithra-Asean-Eng.jpg)