Sabtu, 18 April 2026

RAMADHAN MUBARAK

Ramadhan sebagai Madrasah Theo-Ekologi

Banjir bandang dan longsor yang menimpa Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat akhir 2025 bukan sekadar “bencana alam”.

Editor: mufti
SERAMBINEWS.COM/HO
Prof Dr Ahmad Humam Hamid, MA, Sosiolog Universitas Syiah Kuala 

Prof Dr Ahmad Humam Hamid, MA, Sosiolog Universitas Syiah Kuala

Banjir bandang dan longsor yang menimpa Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat akhir 2025 bukan sekadar “bencana alam”. Itu adalah teriakan bumi, yang menagih utang manusia: hutan ditebang, sungai tercemar, lahan dibuka tanpa perhitungan ekologis. Setiap rumah yang hanyut, setiap desa yang terkubur lumpur, adalah cermin dari kelalaian kita. 

Dan Ramadhan hadir bukan hanya sebagai bulan puasa, tetapi sebagai madrasah refleksi ekologis: mengajarkan menahan nafsu—tidak hanya lapar dan haus, tapi kerakusan terhadap bumi.

Konsep Theo-Ekologi menghubungkan iman dengan tanggung jawab ekologis. Menjaga lingkungan bukan sekadar teknis, tapi ibadah. Ketika bumi dirusak, itu berarti manusia mengkhianati amanahnya sebagai khalifah. Siklon Senyar menewaskan ratusan orang, merusak ribuan rumah, memaksa ratusan ribu mengungsi. 

Para ahli lingkungan menyebut 80 persen dampak bencana terkait kerusakan ekologis: deforestasi di hulu sungai, alih fungsi lahan untuk perkebunan dan tambang, serta pembangunan terburu-buru tanpa kajian lingkungan. Sumatra kehilangan 470 ribu hektar hutan hanya pada 2025—meski pemerintah menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca 41 persen pada 2030.

Ironisnya, manusia membiarkan ini terjadi sambil berpura-pura menjadi korban alam. Sungai yang seharusnya menahan air berubah menjadi gelombang maut. Bukit yang seharusnya hijau dan menahan tanah kini gundul, menyalahi kodratnya. 

Pembangunan ekonomi tanpa batas justru membunuh keseimbangan ekologis. Statistik korban hanyalah angka; tragedi nyata terjadi di antara tanah dan pohon yang hilang, di antara desa yang lenyap, dan di antara generasi yang kehilangan warisan alam.

Dari perspektif iman, ini panggilan serius. Al-Qur’an menegaskan: kerusakan di darat dan laut muncul karena ulah manusia. Rasulullah menekankan bahwa menanam pohon dan merawat alam adalah amal yang mengalir pahalanya—sedekah yang nyata. 

Ulama kontemporer seperti Seyyed Hossein Nasr menegaskan: krisis lingkungan adalah krisis spiritual. Ketika manusia melupakan sakralitas bumi, ia melihat alam sebagai objek ekonomi, bukan ciptaan Tuhan. Fazlun Khalid mendorong komunitas Muslim dan masjid menjadi pionir gerakan ramah lingkungan.

Ramadhan seharusnya menjadi madrasah pengendalian diri. Puasa mengajarkan menahan lapar, haus, dan hawa nafsu. Tapi ironisnya, Ramadhan sering menjadi bulan konsumsi berlebihan: makanan melimpah saat berbuka, plastik menumpuk di pasar takjil, limbah makanan berhamburan. Jika kita tidak belajar menahan kerakusan terhadap bumi, puasa hanya ritual kosong.

Gagasan Ramadhan Hijau menuntun kita pada praktik nyata: mengurangi pemborosan makanan, menghemat air, menggunakan bahan lokal, dan menjadikan pelestarian alam sebagai sedekah. Menanam pohon di pekarangan rumah atau masjid adalah amal yang menolong generasi mendatang. 

Mengurangi sampah plastik dan memilih transportasi ramah lingkungan adalah perwujudan nyata dari takwa. Ramadhan mengajarkan menahan hawa nafsu manusia, tetapi bumi yang rusak menuntut kita menahan kerakusan terhadap ciptaan Allah.

Bencana ekologis adalah panggilan introspeksi: setiap rumah yang hanyut, setiap pohon yang ditebang sembarangan, setiap sungai yang tercemar adalah teguran bagi umat manusia. Ramadhan mengingatkan bahwa iman bukan hanya ritual, tetapi tindakan—menahan nafsu konsumtif dan memulihkan keseimbangan alam. Setiap tetes air yang dihemat, setiap pohon yang ditanam, adalah sedekah yang mengalir pahalanya.

Jika Ramadhan tidak mengajarkan menahan kerakusan terhadap bumi, maka hakikat takwa belum tercapai. Bumi yang rusak bukan kebetulan; ia cermin kelalaian manusia dan kebijakan yang tidak bijaksana. 

Mari jadikan Ramadhan sebagai momentum untuk menebus kelalaian: hidup sederhana, menahan kerakusan, dan menjaga amanah sebagai khalifah. Dengan kesadaran ini, puasa tidak hanya menyejukkan hati, tetapi juga memperbaiki bumi dan mendekatkan kita kepada ridha Allah.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved