Senin, 27 April 2026

Mihrab

Khutbah Jumat di Aceh Besar - Prof Ilham: Shalat sebagai Self-Healing, Penentu Diterimanya Puasa

Jika shalatnya baik, maka baik pula amalan lainnya. Artinya, kualitas seluruh ibadah, termasuk puasa, bertumpu pada kualitas shalat.

Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Nurul Hayati
Serambinews.com/HO
Akademisi Universitas Syiah Kuala (USK), Ustaz Prof Dr Rer Nat Ilham Maulana SSi 

Khutbah Jumat di Aceh Besar - Prof Ilham Maulana: Shalat sebagai Self-Healing, Penentu Diterimanya Puasa

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Ramadhan identik dengan ibadah puasa, namun shalat tetap menjadi penentu diterimanya ibadah puasa seseorang di hari kemudian.

Shalat menjadi tumpuan utama semua rutinitas ibadah lain, dan shalat juga menjadi metode penyembuhan mandiri (self-healing) utama seorang hamba.

Akademisi Universitas Syiah Kuala (USK), Ustaz Prof Dr Rer Nat Ilham Maulana SSi, menyampaikan hal itu dalam khutbah Jumat di Masjid Al-Ikhlas Pusjar SKMK LAN, Gp Lamcot, Kecamatan Darul Imarah, (27/2/2026), bertepatan dengan 9 Ramadhan 1447 Hijriah.

Ia menjelaskan, puasa melatih fisik untuk menahan lapar, dahaga, dan syahwat. Tetapi shalat menjaga ruh agar tetap hidup.

Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa amalan pertama yang dihisab pada hari kiamat adalah shalat.

Jika shalatnya baik, maka baik pula amalan lainnya. Artinya, kualitas seluruh ibadah, termasuk puasa, bertumpu pada kualitas shalat.

Al-Qur’an telah memberikan fondasi ketenangan itu: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra‘d: 28)

Shalat adalah paket lengkap dzikir. Di dalamnya ada pujian, pengakuan kelemahan, permohonan ampun, dan harapan.

Ketika seorang hamba berdiri mengangkat tangan dan membaca Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin, ia sedang mengingat bahwa hidup ini berada dalam kendali Rabb semesta alam. 

“Saat membaca Iyyakana’budu Waiyyakanasta’in, ia sedang menyadari bahwa dirinya tidak sendirian menghadapi masalah. Inilah proses penyembuhan jiwa yang sesungguhnya, yaitu kembali merasa ditopang oleh Yang Maha Kuasa,” ungkapnya. 

Dari sisi sains, kata Ustadz Ilham, shalat bukan sekadar ritual spiritual. Penelitian neurosains menunjukkan bahwa posisi sujud meningkatkan aliran darah ke bagian depan otak (prefrontal cortex), area yang berperan dalam regulasi emosi dan pengambilan keputusan.

Ketika seseorang khusyuk dalam ibadah, tubuhnya mengaktifkan sistem saraf parasimpatik, yang berfungsi menenangkan detak jantung dan menurunkan respons stres.

Studi psikofisiologi juga menemukan bahwa praktik ibadah yang fokus dapat menurunkan kadar kortisol atau hormon stres dan meningkatkan keseimbangan hormon yang berkaitan dengan rasa bahagia dan ketenangan.

“Artinya, secara biologis, shalat memang menghadirkan efek relaksasi mendalam,” tegasnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved