RAMADHAN MUBARAK
Ramadhan Bulan Mengasah Intelektual Muslim
BULAN Ramadhan adalah bulan suci, bulan mulia yang penuh dengan berkah dan keistimewaan. Bulan ini dalam Al-Quran dinukilkan
Dr H Taqwaddin Husin, S.H., S.E., M.S., Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesua Aceh
BULAN Ramadhan adalah bulan suci, bulan mulia yang penuh dengan berkah dan keistimewaan. Bulan ini dalam Al-Quran dinukilkan dengan alfi syahrin, yaitu yang lebih baik dari seribu bulan.
Karena kemuliaan dan keistimewaan dari bulan ini, maka mari semua ummat Islam untuk mengasah kecendenkiawanan atau intelektualitas kita dengan berlomba-lomba melakukan berbagai kebajikan, yang dalam Al-Quran disebutkan dengan fastabiqul khairat.
Al-Quran menghendaki agar semua ummat Islam menjadi orang-orang yang pintar berpikir, selalu membuat kabajikan dan menjadi teladan dalam setiap sikap dan tindakan. Mereka ini adalah orang-orang yang memiliki kualitas ilmu dan pengetahuan yang mencerahkan dan mengamalkan ilmu pengetahuannya untuk kebajikan bagi orang banyak. Dalam terminologi Al-Quran dikenal dengan istilah ulil albab. Mereka Inilah yang dikenal dengan Cendekiawan Muslim.
Stressing Cendekiawan Muslim, bukan hanya ilmuwan atau akademisi dalam suatu disiplin ilmu tertentu saja. Bukan karena banyaknya ilmu yang dimiliki dan tingginya jabatan akademik yang dimiliki seseorang sehingga bergelar profesor doktor. Bukan hanya itu. Tetapi yang lebih penting adalah pada bagaimana para Intelektual Cendekiawan Muslim tersebut peduli dan berlomba-lomba berbuat kebajikan untuk masyarakatnya (fastabiqul khairat).
Ramadhan kali ini adalah kesempatan paling baik bagi para intelektual atau Cendekiawan Muslim untuk bershadaqah dan berinfaq berbagi rezeki bagi sesama, terutama bagi orang-orang miskin atau kaum dhuafa. Karena, kita tidak tahu apakah Ramadhan tahun depan kita masih ada apa tidak.
Berbagi rezeki jangan melulu diartikan dengan hanya berbagi materi. Berbagi ilmu dan pengetahuan juga termasuk dalam kategori berbagi rezeki. Karena ilmu pengetahuan adalah juga rezeki yang dimiliki seseorang, yang belum tentu dimiliki oleh banyak orang lainnya. Jadi, berbagi ilmu untuk mencerdaskan orang lain sama artinya dengan berbagi rezeki.
Selain berbagi ilmu, tentu berbagi materi juga perlu dilakukan oleh kaum Cendekiawan Muslim. Idealnya, semakin tinggi kompetensi kecendekiawanan seseorang maka akan semakin besar pula kebajikan yang dapat dilakukannya, baik melalui sharing ilmunya maupun dengan distribusi materi yang dimilikinya.
Dalam perspektif ekonomi, umumnya para Cendekiawan Muslim adalah orang-orang yang masuk kategori memadai secara finansial. Karenanya, para Cendekiawan Muslim yang berasal dari berbagai latar profesi --akademisi, birokrasi, profesional, praktisi bisnis, politisi, dan lain-lain-- kita mengajak untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas kepedulian kesalehan sosial guna berbagi rezeki dengan anak yatim dan fakir miskin, sebagaimana perintah Allah firmankan dalam Surat Al-Maun:
“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? itulah orang yang menghardik anak yatim. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka celakalah orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai terhadap shalatnya, yang berbuat ria dan enggan memberikan bantuan,” Al-Quran, Surat Al-Maun.
Semoga dengan aktif berbuat berbagai kebajikan (fastabiqul khairat) dan berbagi rezeki, Insya Allah para Cendekiawan Muslim akan menjadi insan teladan, yang patut digugu dan ditiru.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Taqwaddin-Husin-SH-SE-MS-15-8.jpg)