Selasa, 9 Juni 2026

Ramadhan 2026

Tiga Tingkatan Puasa, Tgk Alizar Usman: Puasa Membangun Ketakwaan dan Karakter

seorang muslim diharapkan mampu memahami kondisi masyarakat kurang beruntung sehingga tumbuh solidaritas dan semangat berbagi.

Tayang:
Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Muhammad Hadi
IST
Tgk Alizar SAg MHum 

Tiga Tingkatan Puasa, Tgk Alizar Usman: Puasa Membangun Ketakwaan dan Karakter

SERAMBINEWS.COM BANDA ACEH - Kepala Sekretariat Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Banda Aceh, Tgk Alizar Usman SAg MHum, menegaskan bahwa puasa Ramadhan bukan sekadar kewajiban menahan lapar dan dahaga, melainkan ibadah yang sarat makna spiritual, sosial, dan pembentukan karakter.

Menurutnya, secara spiritual puasa berfungsi meningkatkan ketakwaan dan kesadaran diri seorang muslim kepada Allah SWT. 

Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183:

 “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

“Puasa bukan hanya sekadar menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga dari perbuatan yang merugikan, seperti berbicara kasar, ghibah, dan perbuatan maksiat lainnya. Hal ini membantu dalam pembentukan karakter yang lebih baik,” ujarnya, Selasa (3/3/2026).

Ia menambahkan, dari sisi sosial, puasa Ramadhan mengajarkan kepedulian dan empati.

Dengan merasakan lapar dan haus, seorang muslim diharapkan mampu memahami kondisi masyarakat kurang beruntung sehingga tumbuh solidaritas dan semangat berbagi.

“Maka tidak heran jika puasa memiliki nilai yang sangat istimewa di sisi Allah SWT, bahkan puasa akan mendapatkan balasan langsung dari-Nya, tidak seperti ibadah-ibadah lainnya,” ungkap Tgk Alizar.

Ia kemudian mengutip hadis, “Semua amal ibadah manusia adalah untuknya kecuali puasa, karena puasa itu hanya untuk-Ku, dan Aku-lah yang akan langsung membalasnya” (H.R. Muslim)

Tgk Alizar mengutip pandangan Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin tentang tiga tingkatan puasa

Pertama, shaumul umum atau puasa orang awam, yakni sekadar menahan lapar, haus, dan hal-hal yang membatalkan puasa secara fiqh.

Kedua, shaumul khushus (puasa orang khusus), yaitu puasa yang tidak hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menjaga seluruh anggota tubuh dari dosa. 

Pada tingkatan ini, seseorang menjaga pandangan, lisan, pendengaran, tangan, kaki, serta menghindari makanan syubhat saat berbuka. 

Imam Al-Ghazali menyebut ada enam penyempurna puasa di level ini, di antaranya menjaga pandangan dari hal tercela, memelihara lisan dari dusta dan ghibah, memperbanyak zikir dan membaca Al-Qur’an, tidak berlebihan saat berbuka, serta menghadirkan rasa takut (khauf) dan harap (raja’) kepada Allah.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved