Senin, 27 April 2026

RAMADHAN MUBARAK

Ramadhan Melatih Lisan dan Perilaku

RAMADHAN hadir setiap tahun. Banyak amalan yang harus dijaga, di antaranya lisan dan perilaku. Anehnya, Muslim yang sudah bertahun

Editor: mufti
Dok STAIN Meulaboh.
Prof. Dr. H. Syamsuar., M. Ag, Ketua STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh 

Prof. Dr. H. Syamsuar., M. Ag, Ketua STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh

RAMADHAN hadir setiap tahun. Banyak amalan yang harus dijaga, di antaranya lisan dan perilaku. Anehnya, Muslim yang sudah bertahun-tahun berpuasa Ramadhan masih belum terpelihara ucapan dan perbuatan. Mengapa?

Tulisan berikut mencoba mengulasnya. Pertama, benarkah Ramadhan bulan latihan menjaga lisan? Lisan adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan ucapan yang berfungsi sebagai alat komunikasi. Karena manusia termasuk insan berbicara, maka diberikan pilihan diam (colling donw) serta harus bicara.

Sering sekali umat Islam lupa dengan pepatah “mulutmu adalah harimaumu”. Ini mengindikasikan umat Islam harus hati-hati berbicara agar tidak tersakiti orang. Karena kalau hati sudah tertusuk, yang baik jadi busuk.

Di era modern banyak umat Islam royal bicara tanpa kontrol, tanpa data (hoak) di media sosial, yang seolah merasa tidak ada malaikat yang mengawasi di bulan Ramadhan. Hoak/berbohong dilarang keras dalam bulan Ramadhan, karena dapat meruntuhkan nilai puasa. 

Bahkan jika orang lain memaki dan mencela kita, maka diperintahkan untuk mengucapkan “Sesungguhnya saya sedang berpuasa” (H.R. Muslim).  Begitu indahnya kata kata ini, dan membuat lawan bicara tersadarkan. 

Akibat negatif seseorang tidak menjaga lisan, maka “…tidak ada hajat bagi Allah untuk menilai puasanya, meskipun ia tidak makan dan minum di siang hari,” (HR. Bukhari). 

Artinya Tuhan sangat marah kepada orang yang tidak mampu merawat lisan secara baik di bulan Ramadhan, karena “Salamatul insan fi hifdhil lisan” artinya: Keselamatan manusia bergantung pada lisannya (HR. Bukhari). 

Bahkan membicarakan aib orang lain, adu domba, dusta, melihat dengan syahwat, sumpah palsu dapat membatalkan pahala puasa (HR. Ad-Darimi). Menurut Imam Nawawi, bukan batal puasanya (Majmu’, Syarah Muhadzzab, Juz VI, h. 356). 

Terjaga lisan erat kaitan dengan puasa tingkat “khawas”. Karena pada tingkat “khawasul khawas” berat untuk diterapkan. Dipastikan lisan tidak akan terjaga dengan baik, kalau umat Islam mengambil contoh puasa “awam”. Karena mereka tidak mengindahkan “larangan berpuasa”. Melabelkan Ramadhan sebagai bulan menjaga lisan adalah sangat tepat, bahkan semua ulama setuju. 

Kedua, menjaga perilaku di bulan Ramadhan. Perilaku adalah serangkaian tindakan, atau aktivitas manusia yang mempunyai bentangan yang sangat luas (KBBI). Hati-hatilah bertindak di bulan Ramadhan agar puasa selamat. 

Tindakan harus dikendalikan, misalnya meningkatkan empati sosial (bersedekah), membantu sesama, menjaga hubungan baik dengan keluarga, jiran dan teman baik di ruang publik atau privat. Meningkatkan ibadah, perhatian serius pada shalat wajib tepat waktu, memperbanyak shalat sunat sebelum dan sesudah fardhu, tarawih, witir, dhuha, dan shalat tahajjud, qiraatul quran dan zikir, serta selawat kepada Rasulullah.

Semua amalan tersebut berimbas pada tazkiyatul qalbun (pembersihan hati). Kalau hati sudah bersih, lisan akan fasih. Ampunan Tuhan diperoleh, amal pasti shaleh.

Ramadhan sebagai “The Striking Force” sebagai daya dobrak yang membuat lisan dan perilaku terjaga. Menjaga lisan adalah “upaya meningkatkan (upgradediri) yang tuntas di bulan Ramadhan (Cak Nur). Puasa sebagai sarana pembentukan karakter yang santun dan bijaksana. 

Jadi bukan hanya sekedar “pindah jam makan”, lanjut Cak Nur. Akan tetapi puasa menjadi latihan integritas yang paling murni, karena hanya individu dan Tuhan yang tahu apakah seseorang benar-benar berpuasa atau tidak, dan puasa, kata Cak Nur, adalah ibadah yang paling antisantun.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved