Selasa, 28 April 2026

Ramadhan 2026

Memperbanyak Khatam atau Tadabur Al-Qur’an di Bulan Ramadhan? Ini Penjelasan Buya Yahya

Muncul pertanyaan: mana yang lebih utama, memperbanyak khatam atau membaca lebih sedikit tetapi disertai tadabur dan pemahaman makna?

Penulis: Firdha Ustin | Editor: Amirullah
SURYA/PIPIT MAULIDIYA
Surat Al-Kahfi 

SERAMBINEWS.COM - Bulan Ramadan kerap menjadi momen bagi umat Islam untuk berlomba-lomba memperbanyak bacaan Al-Qur’an.

Namun, muncul pertanyaan di tengah masyarakat: mana yang lebih utama, memperbanyak khatam atau membaca lebih sedikit tetapi disertai tadabur dan pemahaman makna?

Pertanyaan tersebut dijawab oleh ulama kharismatik, Buya Yahya.

Ia menegaskan bahwa membaca Al-Qur’an dalam jumlah banyak tetap merupakan kebaikan dan tidak boleh diremehkan. Namun, menurutnya, membaca dengan menghadirkan renungan dan pemahaman memiliki nilai yang lebih mendalam.

“Kalau waktunya sama, satu jam misalnya, antara membaca banyak tanpa renungan dan membaca lebih sedikit tapi dengan tadabur, maka yang dengan renungan itu lebih utama,” jelasnya dikutip dari YouTube Al Bahjah, Senin (2/3/2026).

Ia menerangkan, Al-Qur’an tidak hanya diperintahkan untuk dibaca, tetapi juga untuk direnungi maknanya.

Buya Yahya saat menjelaskan soal hukum menoleh saat sedang shalat. (YOUTUBE/AL-BAHJAH TV)
Buya Yahya saat menjelaskan soal hukum menoleh saat sedang shalat. (YOUTUBE/AL-BAHJAH TV) (YOUTUBE/AL-BAHJAH TV)

Baca juga: Hukum Pakai Mukena Warna-Warni saat Shalat dan Tarawih, Buya Yahya: Tidak Harus Putih, Asalkan

Dari proses tadabur itulah lahir rasa takut kepada Allah, bertambahnya ilmu, serta pemahaman yang lebih dalam terhadap firman-Nya.

Meski demikian, Buya Yahya mengingatkan agar tidak meremehkan orang yang memperbanyak tilawah.

Menurutnya, memperbanyak bacaan juga sangat dianjurkan, terlebih di bulan Ramadhan yang dikenal sebagai bulan Al-Qur’an.

“Kalau perbandingannya dua juz dan lima juz, tentu lima juz lebih banyak dan lebih baik. Tapi perbandingan harus adil. Kalau dibandingkan antara baca tanpa tadabur dan baca dengan tadabur, tentu yang dengan tadabur lebih penting,” ujarnya.

Ia juga menyoroti fenomena sebagian orang yang cenderung membenturkan dua hal tersebut.

Ada yang terlalu menekankan tadabur hingga terkesan meremehkan tilawah yang banyak, sementara yang lain hanya fokus mengejar khatam tanpa menghadirkan penghayatan.

Baca juga: Belum Mandi Junub Saat Imsak, Bolehkah Tetap Puasa? Simak Jawaban Buya Yahya

Padahal, menurutnya, yang paling ideal adalah menggabungkan keduanya yakni memperbanyak bacaan sekaligus mentadaburi maknanya.

Buya Yahya juga mengingatkan agar umat Islam membaca Al-Qur’an dengan tartil, tidak terburu-buru hanya demi mengejar target khataman.

Hak-hak huruf dan keindahan bacaan tetap harus dijaga agar pembaca bisa menikmati dan menghayati setiap ayat.

“Kalau bisa banyak bacaanmu dan banyak renunganmu. Tapi kalau harus memilih dalam waktu terbatas, maka merenung jauh lebih penting,” tuturnya.

Dengan demikian, memperbanyak tilawah dan mentadaburi Al-Qur’an sejatinya bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dipadukan agar ibadah di bulan Ramadan semakin berkualitas dan bermakna.

(Serambinews.com/Firdha)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved