Idul Fitri 2026
Puasa Syawal 6 Hari Dimulai Kapan? Simak Penjelasan Buya Yahya
Usai menyempurnakan ibadah puasa Ramadhan selama satu bulan penuh, umat Muslim kini dianjurkan melanjutkan amalan sunnah ypuasa enam hari.
Penulis: Yeni Hardika | Editor: Amirullah
SERAMBINEWS.COM – Pemerintah menetapkan 1 Syawal jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026, suasana lebaran masih terasa di banyak tempat.
Di tengah momen itu, umat Muslim kembali diingatkan pada satu amalan sunnah yang sayang untuk dilewatkan: puasa enam hari di bulan Syawal.
Ibadah ini bukan sekadar pelengkap setelah Ramadhan. Ada keutamaan besar yang menyertainya.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa saja yang menunaikan puasa Ramadhan, lalu melanjutkannya dengan enam hari di bulan Syawal, maka pahalanya seperti berpuasa selama setahun penuh.
Karena itu, tak sedikit yang langsung bertanya: kapan waktu terbaik untuk mulai menjalankannya?
Jadwal terbaik menurut mazhab Imam Syafi'i
Pengasuh Lembaga Pengembangan Dakwah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah, Prof. Yahya Zainul Ma'arif atau yang akrab disapa Buya Yahya, memberikan penjelasan mendalam mengenai persoalan ini.
Melansir kajian dari kanal YouTube Al-Bahjah TV, Buya Yahya menjelaskan adanya perbedaan pendapat (ikhtilaf) di kalangan ulama mengenai waktu pengerjaannya.
Baca juga: Fenomena Puasa Ikut Rukyat, Lebaran Ikut Hisab Mencuat, Ulama Ingatkan Pentingnya Konsistensi
Dalam mazhab Imam Syafi'i, yang mayoritas dianut masyarakat Indonesia, puasa Syawal sangat dikukuhkan untuk dikerjakan segera setelah hari raya, yakni mulai tanggal 2 Syawal (Minggu, 22 Maret 2026) secara berurutan selama enam hari hingga tanggal 7 Syawal.
"Penjelasan dari Faatbaahu Sittan, puasa 6 Syawal itu disunnahkan, menurut Imam Syafi'i disunnahkan di atas sunnah sangat dikukuhkan, jika ditanggal ke-2 berurutan sampai tanggal ke-6. Itu dalam mazhab Imam Syafi'i radhiallahu 'anhu," kata Buya Yahya.
Berikut tayangan video penjelasan lengkap Buya Yahya soal waktu pengerjaan puasa sunnah Syawal.
Sementara itu, menurut Imam Maliki, makruh apabila langsung memulai puasa sunnah Syawal setelahnya hari raya pertama Idul Fitri atau pada tanggal 2 Syawal.
Ini karena dikhawatirkan, puasa sunnah Syawal menjadi sebuah kewajiban sehingga dianggap bisa memberatkan orang.
"Jadi kalau Anda kenal yang Mazhab Maliki, tidak langsung (puasa) hari ke-2, 3, 4 nanti," jelas Buya Yahya.
Lalu, apakah pengikut Mazhab Imam Syafi'i boleh jika tidak langsung mengambil puasa sunnah Syawal pada tanggal 2 Syawal?
Dikatakan Buya Yahya, boleh mengerjakan puasa sunnah Syawal kapan saja selagi masih dalam bulan Syawal.
Akan tetapi, mengerjakan langsung setelah tanggal 1 Syawal merupakan sunnah diatas sunnah.
"Menurut apa yang saya ketahui, menurut Imam Syafi'i dijelaskan, setelah hari raya, lebaran sehari, kemudian puasa lagi," terangnya.
"Kalaupun kita orang Mazhab Imam Syafi'i, pengen puasanya nanti setelah tanggal 7 saja deh, boleh ga masalah dan tidak dikatakan tidak sunnah dalam Mazhab Syafi'i," pungkasnya.
Baca juga: Agar Puasa Sempurna, Ini Waktu dan Cara Membayar Zakat Fitrah
Bolehkah tidak dikerjakan secara berurutan?
Mengenai hal ini, juga sudah pernah dijelaskan Buya Yahya dalam video lainnya yang diunggah di YouTube Al-Bahjah Tv diunggah pada tanggal 14 Juni 2017.
Dijelaskan Buya Yahya, menurut mazhab syafi'i, puasa syawal tidak harus dilakukan berturut-turut selama 6 hari.
"Menurut mazhab kita Imam Syafi'i, 6 itu tidak harus berurutan," ujar Buya Yahya dikutip dari video penjelasannya berjudul Bolehkah Puasa Sunah Syawal Tidak Beurutan.
Akan tetapi, ada sebagian ulama yang memakruhkan jika puasa syawal langsung dikerjakan setelah tanggal 1 syawal.
"Bahkan sebagian ulama memakruhkan kalau langsung, syawal. Takut dianggap wajib. Ada sebagian ulama. Tapi mazhab kita tidak,"
"Sebagian ulama itu langsung, jangan tanggal 2 deh nanti aja ada akhir-akhir di belakang. Khawatir nanti dipikir orang wajib, Sehingga memberatkan orang," kata Buya Yahya.
Berikut tayangan video penjelasan lengkap Buya Yahya.
Niat puasa syawal dan ketentuannya
Untuk diketahui, ada sedikit perbedaan niat puasa sunnah syawal dengan puasa ramadhan.
Niat puasa sunnah tidak harus dipanjatkan pada malam hari.
Pasalnya, kewajiban niat di malam hari hanya berlaku untuk puasa wajib.
Baca juga: Ini Batas Terakhir Puasa Syawal 2025, Bolehkah Tidak Berurutan? Ini Penjelasannya
Untuk puasa sunah, niat boleh dilakukan di siang hari sejauh yang bersangkutan belum makan, minum, dan hal-hal lain yang membatalkan puasa sejak subuh.
Oleh sebab itu, apabila seseorang mendadak di pagi hari ingin mengamalkan sunnah puasa Syawal, diperbolehkan baginya berniat sejak ia berkehendak puasa sunnah.
Bagi yang baru berniat puasa syawal pada siang hari, dianjurkan untuk melafalkan niat puasa Syawal di siang hari.
Berikut bacaan niat puasa Syawal di siang hari.
ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺻَﻮْﻡَ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟﻴَﻮْﻡِ ﻋَﻦْ ﺃَﺩَﺍﺀِ ﺳُﻨَّﺔِ ﺍﻟﺸَّﻮَّﺍﻝِ ﻟِﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ
Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhi ta‘âlâ.
Artinya, “Aku berniat puasa sunah Syawwal hari ini karena Allah SWT.” Wallahu a’lam.
Sementara bagi yang sudah berniat puasa syawal pada malam hari untuk keesokan harinya, bisa menggunakan niat puasa yang biasa dilafazkan sebagai berikut.
ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺻَﻮْﻡَ ﻏَﺪٍ ﻋَﻦْ ﺃَﺩَﺍﺀِ ﺳُﻨَّﺔِ ﺍﻟﺸَّﻮَّﺍﻝِ ﻟِﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ
Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhita‘âlâ.
Artinya, “Aku berniat puasa sunah Syawal esok hari karena Allah SWT.”
(Serambinews.com/Yeni Hardika)
BACA BERITA LAINNYA DI SINI
puasa
puasa sunnah
Puasa Syawal
puasa sunnah Syawal
2026
1447 h
Buya Yahya
niat
puasa enam hari
Syawal
bulan syawal
Serambi Indonesia
| Puasa Syawal Hanya Senin-Kamis, Bolehkah? Ini Penjelasan Mazhab Syafii yang Perlu Diketahui |
|
|---|
| Puasa Syawal dan Utang Ramadhan, Mana Didahulukan? Ini Penjelasan UAS yang Bikin Tenang |
|
|---|
| Waktu Terbaik Puasa Syawal 6 Hari, Ini Penjelasan Buya Yahya Soal Jadwal dan Keutamaannya |
|
|---|
| Puasa Syawal Cuma Senin-Kamis, Bolehkah? Ini Penjelasan Lengkap Menurut Mazhab Syafii |
|
|---|
| Trik Dapat Dua Pahala Sekaligus! UAS Jelaskan Hukum Gabung Puasa Syawal dan Qadha Ramadhan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/bulan-syawal-1.jpg)