Jumat, 24 April 2026

Destinasi Wisata Aceh

Pulau Pinang: Permata Bening dari Simeulue

Air laut di Pulau Pinang Simeulue tampak begitu bening, serupa kaca yang memantulkan warna biru kehijauan.

Penulis: Indra Wijaya | Editor: Safriadi Syahbuddin
Serambinews.com/Indra Wijaya
NDAHNYA PULAU PINANG - Indahnya Pantai Pulau Pinang, salah satu destinasi wisata unggulan dari Simeulue. 

SUARA mesin bot meraung memecah kesunyian laut pagi itu. Getarannya menjalar hingga ke permukaan air, menghasilkan riak-riak kecil yang mengejar buritan perahu nelayan yang kami tumpangi.

Angin laut, sejuk dan agak asin, menerpa wajah tanpa kompromi. Sementara ombak kecil sesekali memecah di sisi perahu, menciptakan ritme yang akrab bagi siapa pun yang pernah menyusuri lautan.

Tak terasa, lima belas menit sudah berlalu sejak kami meninggalkan dermaga Desa Luan Balu, Kecamatan Teluk Dalam, Simeulue. Perjalanan singkat itu seolah membuka tabir menuju salah satu kebanggaan wisata di pulau terluar Indonesia: Pulau Pinang.

Air laut di sekitar pulau tampak begitu bening, serupa kaca yang memantulkan warna biru kehijauan. Sebagai daerah kepulauan, Simeulue dianugerahi lanskap laut yang menawan—dan Pulau Pinang adalah salah satu buktinya.

Terletak di antara Desa Sambai dan Luan Balu, pulau ini menjadi destinasi andalan baru bagi pelancong yang singgah di Simeulue.

Dari kota Sinabang, perjalanan darat sekitar 30 menit membawa wisatawan ke desa-desa pesisir ini, sebelum melanjutkan perjalanan laut singkat menuju pulau yang memikat itu.

Sesampainya di dermaga desa, wisatawan dapat menyewa bot nelayan yang berjajar rapi di sepanjang pantai. Ongkosnya pun bersahabat—sekitar Rp 15 ribu per orang pada hari libur besar.

Pada hari biasa, sewa per trip berkisar Rp 150 ribu untuk perjalanan pulang-pergi. Harga yang tampak ringan jika dibandingkan dengan panorama yang menanti.

Meski tergolong baru dikenal, Pulau Pinang cepat menjadi primadona. Bentangannya menghadirkan pemandangan khas pulau tropis: air laut sebening kristal, pasir putih yang memantul saat terkena sinar matahari, dan barisan pohon kelapa yang tumbuh alami. Sensasinya seolah mengantar pengunjung ke miniatur Hawaii di ujung barat Nusantara.

INDAHNYA PULAU PINANG - Masyarakat dan anak-anak bermain di pinggiran Pantai Pulau Pinang, salah satu destinasi wisata unggulan dari Simeulue, Provinsi Aceh.
INDAHNYA PULAU PINANG - Masyarakat dan anak-anak bermain di pinggiran Pantai Pulau Pinang, salah satu destinasi wisata unggulan dari Simeulue, Provinsi Aceh. (Serambinews.com/Indra Wijaya)

Begitu perahu merapat di dermaga kayu, pengunjung disambut dengan debur ombak kecil yang menepuk perlahan pesisir pulau. Pasirnya halus dan berkilau, membiaskan warna emas saat diterpa mentari.

Di sekeliling, panorama tampak begitu alami. Tidak banyak tangan manusia yang mengubahnya—hanya masyarakat setempat yang mengelola dengan sederhana namun penuh perhatian.

Air laut di sekitar pulau relatif dangkal, hanya satu hingga dua meter di bagian pinggir, memungkinkan wisatawan bermain air tanpa rasa khawatir. Di pantai, tersedia pelampung berupa ban mobil yang bisa disewa bagi yang ingin mengapung menikmati alunan ombak.

Meski bernama Pulau Pinang, pulau ini justru dipenuhi deretan pohon kelapa yang menari mengikuti irama angin. Kontras yang menarik itulah yang kerap membuat pengunjung tersenyum begitu tiba di sana.

Bagi para pencari destinasi kepulauan yang masih alami, Pulau Pinang adalah anugerah yang sayang dilewatkan. Sebuah tempat di mana kesederhanaan alam bertemu ketenangan, menghadirkan pengalaman wisata yang menenangkan sekaligus memikat.

Fiki Festian salah seorang pelancong mengaku takjub dengan keindahan laut yang berada di Pulau Pinang. Meski perjalanan sedikit melelahkan, hal itu terbayarkan dengan hamparan pasir putih dan jernih air laut di pulau tersebut.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved