Sabtu, 11 April 2026

Video

VIDEO Warga Takengon Terpaksa Jalan Kaki 5 Hari dari Langsa Usai Bencana

Kisah pilu datang dari warga Takengon, Aceh Tengah, yang harus menempuh perjalanan darat sejauh kurang lebih 276 kilometer dengan berjalan kaki

SERAMBINEWS.COM – Kisah pilu datang dari warga Takengon, Aceh Tengah, yang harus menempuh perjalanan darat sejauh kurang lebih 276 kilometer dengan berjalan kaki.

 Merka berjalan selama lima hari akibat bencana banjir besar dan longsor yang melanda Aceh.

Warga tersebut awalnya berada di Langsa untuk mengunjungi keluarga sebelum bencana hidrometeorologi terjadi.

Namun, saat banjir menerjang sejumlah wilayah Aceh dan akses transportasi lumpuh total, ia tak bisa kembali pulang ke Takengon menggunakan kendaraan.

Diketahui, Aceh Tengah/Takengon dan Bener Meriah hingga kini belum dapat diakses melalui jalur darat karena Jalan Nasional Bireuen–Takengon terputus total akibat banjir bandang dan longsor yang melanda kawasan tersebut.

 Kondisi ini membuat ribuan warga terisolasi dan aktivitas logistik lumpuh.

Baca juga: Evakuasi Dramatis 41 Orang di Takengon: Menembus Longsor, Banjir, dan Pegunungan

Dengan kondisi jalan yang terputus, layanan transportasi berhenti beroperasi, dan jaringan komunikasi sempat terganggu.

 Mereka akhirnya mengambil keputusan berat yaitu menjalani perjalanan pulang dengan berjalan kaki dari Langsa menuju Takengon.

Selama lima hari, ia melewati jalur yang sebagian besar tertutup lumpur, pepohonan tumbang, dan sejumlah titik yang terisolasi.

Perjalanan ini bukan sekadar menyusuri jalan desa.

Baca juga: Perjuangan Tim Parkside dan Portola Terjebak Enam Hari di Takengon, Evakuasi Dramatis

Selama lima hari, mereka harus mendaki bukit-bukit terjal yang menjadi satu-satunya jalur alternatif setelah jalan utama tertimbun longsor.

Menuruni lembah yang licin dan gelap, sambil menjaga keseimbangan agar tidak terperosok.

Melewati jalan yang putus, memaksa dirinya mencari rute baru dari satu desa ke desa lainnya.

Menyusuri jalan berlumpur dan aliran sungai kecil, karena sebagian jalur tak lagi berbentuk.

Tidak jarang, mereka harus beristirahat darurat seadanya, bahkan berjalan di malam hari agar dapat mencapai kampung halaman lebih cepat.

Perjalanan ekstrem itu menggambarkan betapa parahnya dampak bencana yang terjadi di Aceh, terutama di wilayah yang terdampak banjir dan longsor.

Kisah ini menjadi gambaran nyata betapa bencana hidrometeorologi tidak hanya merusak infrastruktur vital, tetapi juga memaksa warga mengambil keputusan ekstrem demi bisa kembali ke rumah.

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved