Video
VIDEO - Anak-anak Korban Banjir Aceh Tamiang Belajar di Sekolah Darurat
Nurbaety mengakui masih ada tantangan untuk membangun kembali motivasi belajar sebagian siswa yang sempat menurun akibat lama tidak bersekolah.
Penulis: Rahmad Wiguna | Editor: m anshar
Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang
SERAMBINEWS.COM, ACEH TAMIANG - Aktivitas belajar mengajar di Aceh Tamiang belum sepenuhnya normal hingga Rabu (7/1/2026) karena banyak gedung sekolah masih dipenuhi lumpur. Solusi sementara dijalankan dengan membuka sekolah darurat di lokasi yang kering dan aman.
SDN Sungai Liput di Kecamatan Kejuruanmuda menjadi salah satu sekolah yang beralih fungsi menjadi sekolah darurat. Kondisi gedung aslinya masih tertutup lumpur dengan seluruh infrastruktur rusak dan hancur.
Ruang kelas pada hari kedua pembelajaran masih dalam keadaan tertutup lumpur, bangku rusak, atap seng jebol, bahkan ditemukan bangkai binatang di dalamnya sehingga tidak memungkinkan untuk digunakan.
Di tengah situasi sulit, murid-murid korban banjir sedikit terhibur dengan kehadiran relawan yang memberikan materi trauma healing dan bantuan alat belajar. Sebanyak 100 paket alat sekolah telah disalurkan kepada murid SD Negeri Inpres Sungai Liput.
Plt Kepala Sekolah SDN Inpres Sungai Liput, Nurbaety, mengatakan antusiasme siswa terlihat jelas sejak hari kedua masuk sekolah. Jumlah kehadiran murid meningkat dibanding hari pertama, terutama setelah adanya bantuan perlengkapan sekolah dan paket gizi.
Nurbaety mengakui masih ada tantangan untuk membangun kembali motivasi belajar sebagian siswa yang sempat menurun akibat lama tidak bersekolah. Ia berharap semangat anak-anak tumbuh dari keinginan untuk berubah dan meraih masa depan yang lebih baik.
Supervisor Program Taman Zakat, Fandi Ahmad Fahrurozi, menyatakan paket sekolah diberikan karena para siswa telah lebih dari sebulan tidak mengikuti kegiatan belajar, sementara perlengkapan mereka banyak yang hanyut saat banjir.
Ia menambahkan, selain mendorong anak kembali ke sekolah, bantuan ini juga bertujuan menjaga kesehatan siswa. Kondisi pascabencana yang penuh debu dan lumpu berisiko menimbulkan gangguan pernapasan jika anak-anak terlalu lama beraktivitas di luar. (*)
Narator: Syita
Video Editor: Muhammad Anshar