Breaking News
Sabtu, 25 April 2026

Video

VIDEO - Mencicipi Lezatnya Kuah Beulangong di Pasar Ternak Sibreh

Kuah beulangong tidak hanya menjadi sajian lezat, tetapi juga memiliki makna spiritual dan simbol kebersamaan. 

Penulis: Hendri Abik | Editor: Rahmat Erik Aulia

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Kuah Beulangong adalah masakan daging yang diracik dengan rempah-rempah khas masyarakat Aceh sejak zaman dahulu. Selain cita rasa yang lezat, kuah belangong juga mengeluarkan aroma yang menggiurkan. 

Nah bila anda berkunjung ke Pasar Sibreh, Aceh Besar, khususnya pada hari Rabu, jangan lupa mencicipi kuah beulangong di sejumlah kedai nasi di bagian depan pasar Sibreh

Anda akan disajikan Bu Sie Kameng yang enak disantap dengan nasi putih hangat. Kuah beulangong dijual dengan harga berkisar antara Rp. 25.000 – Rp. 35.000 per porsi. Seperti diketahui, Pasar Hewan Sibreh merupakan pasar ternak terbesar di Aceh. Setiap hari Rabu, ratusan sapi, kerbau, dan kambing dikumpulkan untuk dijual ke berbagai daerah di Aceh.

Kuah beulangong merupakan kuliner tradisional Aceh yang identik dengan kegiatan adat dan perayaan keagamaan.

Masakan berbahan dasar daging sapi atau kambing ini dimasak secara bersama-sama dalam kuali besar, mencerminkan semangat gotong royong dan kebersamaan masyarakat Aceh.

Hingga kini, kuah beulangong tetap menjadi simbol solidaritas sosial di berbagai gampong.

Kuah beulangong tidak hanya menjadi sajian lezat, tetapi juga memiliki makna spiritual dan simbol kebersamaan. 

Dalam adat Aceh, proses memasak makanan ini hanya boleh dilakukan oleh kaum pria. Proses memasaknya pun unik, kuah harus diaduk berlawanan dengan arah jarum jam sambil bersholawat. 

Ini dipercaya sebagai wujud dari kegiatan spiritual, seperti simbol tawaf dalam ibadah haji.


Di berbagai wilayah seperti Banda Aceh dan Aceh Besar, memasak kuah ini menjadi tradisi yang diadakan secara gotong-royong di meunasah atau masjid.

Sejarah kuliner ini menunjukkan pengaruh dari berbagai budaya. Kuah beulangong memadukan daun kari yang dibawa oleh pedagang India dengan rempah-rempah lokal Nusantara, menciptakan cita rasa yang khas. 

Uniknya, dahulu biji ganja pernah digunakan dalam bumbu masakan ini sebagai pengempuk daging dan penyedap rasa, meski sekarang penggunaan tersebut sudah dilarang. (*)

Host   : Siti Masyithah 
Editor : Rahmat Erik Aulia

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved