Kamis, 11 Juni 2026

Video

VIDEO CERITA PARA KIAI - Dari Lantai Masjid ke Mimbar Dakwah: Sempat Jadi Cleaning Service di Mesir

Masa kecil Umar tumbuh di lingkungan religius. Rumahnya berdampingan dengan Pondok Pesantren Alkhairaat Tilamuta

Tayang:

CERITA PARA KIAI: Dr Umarulfaruq Abubakar Lc., M.H.I (Ketua Majlis Syar'i PPTQ Ibnu Abbas Klaten | Ketua Formaqi)

SERAMBINEWS.COM - Perjalanan menuju mimbar dakwah tidak ditempuh dalam waktu singkat. Umarulfaruq Abubakar pernah menyapu lantai dan bekerja sebagai petugas kebersihan demi bertahan hidup di negeri orang.

Dari desa kecil Hungayonaa, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo, langkah seorang anak lelaki bermula. Di kampung yang tenang itu, Ramadhan selalu hadir dengan nuansa istimewa. Pada tiga malam terakhir bulan suci, lampu-lampu minyak dinyalakan dalam tradisi Tumbilotohe. Cahaya kecil berkelip di sepanjang jalan, seakan menjadi simbol harapan.

Anak itu bernama Dr. Umarulfaruq Abubakar, Lc., M.H.I. Kini ia dikenal sebagai Ketua Majelis Syar’i PPTQ Ibnu Abbas Klaten serta Ketua Forum Maahid dan Madaris Quran Indonesia. Namun, jalan menuju mimbar dakwah tidaklah mudah. Ia pernah menyapu lantai dan menjadi petugas kebersihan untuk menyambung hidup saat merantau.

Baca juga: Tiga Rumus Rezeki Ala Ustadz Adi Hidayat, Kaidah Terakhir Bikin Jamaah Terdiam

Cahaya dari Kampung Halaman

Masa kecil Umar tumbuh di lingkungan religius. Rumahnya berdampingan dengan Pondok Pesantren Alkhairaat Tilamuta, tempat ia menempuh pendidikan sejak dasar hingga SMA. Lantunan ayat suci dan nasihat para guru mewarnai hari-harinya.

“Masa kecil dihabiskan di Gorontalo sampai SMA, baru berangkat ke Mesir,” ujarnya saat ditemui di Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an Ibnu Abbas, Klaten, Jawa Tengah, Jumat (13/2/2026).

Tradisi Tumbilotohe menjadi kenangan yang terus ia jaga. Pada malam ke-27 Ramadhan, meski jauh dari kampung halaman, ia tetap menyalakan lampu sebagai simbol harapan. Baginya, cahaya itu bukan sekadar tradisi, melainkan tanda mimpi yang telah tumbuh sejak kecil.

Mimpi ke Negeri Para Ulama

Di pesantren, Umar kecil bertemu sejumlah guru asal Mesir, salah satunya Syekh Abdussalam Fatkhi Harun. Ketika usianya sekitar 12 tahun, sang syekh berkata, “Umar, nanti kalau sudah besar belajar ke Mesir. Saya yang jemput.”

Ucapan itu membekas kuat. Terlebih, ayahnya memiliki mimpi serupa yang terhalang biaya. Mimpi tersebut kemudian menjadi amanah keluarga.

Tujuh tahun kemudian, pada 2003, ia benar-benar berangkat ke Mesir. Pertemuan kembali dengan gurunya menjadi momen haru sekaligus awal ujian perantauan. Ia selalu mengingat pesan ayahnya agar tidak menangis saat berangkat, supaya tidak meninggalkan kesedihan bagi keluarga.

Baca juga: Keutamaan Shalat Tarawih Pada Malam ke-2 Ramadhan: Dosa Kedua Orangtuanya Diampuni Allah SWT

Tujuh Lebaran Tanpa Pelukan

Menjalani hidup di Mesir bukan hal mudah. Selama tujuh kali Idulfitri, ia tak bisa pulang ke Tanah Air. Komunikasi dengan keluarga masih melalui surat yang balasannya bisa memakan waktu berbulan-bulan.

Untuk mencukupi kebutuhan, ia bekerja sambil belajar. Ia menjadi petugas kebersihan, membantu pekerjaan di masjid, hingga menerjemahkan buku, demi bertahan dan melanjutkan studi.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved