Rabu, 3 Juni 2026

Video

VIDEO MUTIARA RAMADHAN - Nada Irama Ramadhan

Tangisan syukur karena bisa beriktikaf, berzikir, mengkhatamkan Al-Qur’an, dan melaksanakan Qiyamul Lail.

Tayang:

Oleh Prof (Madya). Dr. Nurhadi,SPdi, S.E.Sy, M.Sy, MH, M.Pd
Dai Riau

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillah.
Subhanaka la ‘ilma lana illa ma ‘allamtana innaka antal ‘alimul hakim. Rabbi isyrahli sadri wa yassirli amri wahlul ‘uqdatam mil lisani yafqahu qauli.

Segala puji bagi Allah SWT. Pada Ramadhan kali ini, Allah melimpahkan seluruh kebutuhan kita tanpa kurang sedikit pun. Semoga keberkahan menyertai kita sejak awal hingga akhir bulan suci ini, insya Allah. Selawat dan salam tercurah kepada Nabi Muhammad SAW. Semoga dengan berkah selawat dan Ramadhan, kita dicatat sebagai hamba Allah dan umat Nabi Muhammad yang kelak mendapat syafaat di akhirat. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Pemirsa Tribun, pada kesempatan Ramadhan kali ini kita akan mengangkat tema yang terasa dekat dengan anak muda, yakni “Nada Irama Ramadhan.”

Ramadhan adalah bulan yang paling dirindukan, ditunggu, dan disambut dengan penuh kegembiraan. Kegembiraan itu seakan memiliki nada dan irama tersendiri. Tentu, yang dimaksud adalah irama yang syar’i, yang mengiringi ibadah dan suasana Ramadhan.

Baca juga: VIDEO KILAU RAMADHAN: Bolehkah Membatalkan Puasa karena Sakit?

Irama-Irama Khas Ramadhan

Pertama, suara sahur. Irama ini hanya hadir di bulan Ramadhan. Ada yang memakai gendang, kaleng, bambu, bahkan pengeras suara masjid. Semua itu menjadi penanda awal hari puasa. Suasananya indah dan membangkitkan semangat.

Kedua, sirine imsak. Menjelang Subuh, terdengar bunyi singkat yang mengingatkan, “Imsak telah tiba, mari berniat puasa.” Suara ini khas, hanya ada di bulan Ramadhan.

Ketiga, azan Subuh dan salat berjamaah. Azan Subuh di bulan Ramadhan terasa berbeda. Masjid lebih ramai, jamaah sudah terbangun karena sahur, dan suasana ibadah terasa lebih hidup.

Keempat, kuliah Subuh dan kajian Duha. Setelah salat Subuh, banyak masjid menggelar kuliah Subuh dengan berbagai tema keislaman. Bagi yang melanjutkan, ada pula kajian Duha sebagai penguat ilmu dan iman.

Kelima, suasana Zuhur di masjid. Saat lelah bekerja atau panas menyengat, masjid menjadi tempat menenangkan diri. Salat berjamaah, mendengar tausiah, beristirahat sejenak, dan melanjutkan dengan tadarus Al-Qur’an—itulah irama Ramadhan di siang hari.

Menjelang berbuka, kita mengenal istilah ngabuburit. Namun ngabuburit yang syar’i di bulan Ramadhan diisi dengan tilawah Al-Qur’an. Lantunan qari-qari yang merdu menggema di masjid-masjid.

Baca juga: VIDEO - Modernisasi Tanpa Kehilangan Ruh: Strategi AGH Faried Wadjedy di Mangkoso

Kemudian kultum—kuliah tujuh menit—sebelum berbuka. Lalu sirine berbuka yang paling dinanti. Saat terdengar, doa dipanjatkan bersama. Rasanya begitu khusyuk dan membahagiakan.

Memasuki waktu Isya dan Tarawih, terdengar bacaan dan lantunan pujian yang khas. Itu adalah ajakan untuk melaksanakan Qiyamul Ramadhan. Malam pun dipenuhi suara tadarus dari masjid dan langgar. Anak-anak, remaja, orang tua, hingga kakek-nenek melantunkan ayat-ayat suci dengan suara yang mungkin tak sempurna, tetapi sangat menyentuh hati.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved